Ayo Ke Papua: Misi Keuskupan Merauke

Ayo ke Papua

Ayo ke Papua: Thaliz Atty bersama anak-anak Nazem Papua mencari kayu

Oleh Thaliz Atty, SVD

Keuskupan Agung Merauke (KAME) merupakan salah satu keuskupan yang berada di ujung timur pulau Papua. Misi Merauke mulai dirintis oleh para misionaris Hati Kudus Yesus  (MSC). Dalam catatan sejarah, misi ini dimulai pada tahun 1904 oleh P. Mathias Neijens, MSC. Pada tanggal 19 November 1905 P. Mathias Neijens, MSC merayakan misa untuk pertama kalinya di tanah Animha-Papua.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1920, Prefektur Apostolik Nieuw Guinea ditingkatkan statusnya menjadi Vikariat Apostolik oleh Roma yang sekaligus mengangkat MGR. Yohanes Aerts, MSC sebagai Vikaris (pada saat itu Papua masih bergabung dengan Maluku).

Pada tanggal 24 Juni 1950 takhta Suci menetapkan Merauke sebagai Vikariat Apostolik (Papua terpisah dari Maluku). Pada tanggal 15 November 1966 Vikariat Apostolik ini menjadi Keuskupan Agung dan MGR. Hermanus Tillemanas menjadi uskup wilayah Merauke.

Setelah 20 tahun kepemimpinanya, MGR. Hermanus Tillemanas mengundurkan diri karena kesehatan dan usia lanjut. Pada tanggal 01 Oktober 1972 Takhta Suci mengangkat dan menabiskan Mgr. Jacobus Duivenvoorde, MSC sebagai uskup. Wilayah Keuskupan Merauke terdiri atas tiga Dekenat dan Dua kevikepan dengan 27 Paroki. Luas wilayah ± 90.000 Km².

Pada masa awal kedatangan para misionaris kulit putih dengan pakaian rapi membuat umat di Papua merasa asing. Namun ketika berhadapan dengan para misionaris mereka secara serentak berkata: Kaya-Kaya yang berarti “sahabat-sahabat”. Ungkapan kaya atau sahabat merupakan ungkapan penerimaan mereka akan kedatangan “manusia lain” yang jauh berbeda dengan mereka.

Suku asli orang Papua namanya Marind. Masyarakat Marind-Merauke pada umumnya memiliki karakteristik yang keras namun mereka memiliki hati yang mulia dan sangat ramah. Keramahtamahan mereka menjadikan mereka lebih mudah didekati oleh masyarakat pendatang pada umumnya

Petrus Vertenten, MSC mencatat bahwa orang Marind adalah sosok manusia yang kekar, kuat, jantan sejati, berani, percaya diri dan mampu untuk bertahan dalam setiap situasi. Oleh karena itu, mereka menamakan diri mereka Animha yang berarti manusia sejati. Penerimaan yang baik ini menjadi kesempatan yang baik bagi Gereja dalam melebarkan sayap misi untuk wilayah Papua.

Selain orang Marind, penerimaan yang baik juga datang dari suku asli Papua lain, seperti suku Mandobo, Muyu, Mapi dan Asmat. Selain itu ada Mereuke yang juga dihuni oleh suku-suku bangsa luar, seperti key, Tanimbar, Toraja, Makasar, Manado, NTT, sunda dan Jawa.

Para pendatang umumnya tersebar di wilayah perkotaan dan satuan-satuan pemukiman atau SP yang merupakan wilayah khusus transmigrasi. Dalam sharing misi ini saya akan menggambarkan mengenai gambaran umum dalam wilayah Keuskupan Agung Merauke dan lebih spesifik pada wilayah Paroki Kristus Raja Damai Nasem-Merauke.

Kondisi Wilayah Dan Situasi Masyarakat

Dari sisi topografi, ± 70 % wilayah Papua, khususnya Merauke merupakan wilayah berrawa-rawa dan hutan.  Genangan air yang berlebihan dan membentuk rawa-rawa atau bob (bahasa setempat) biasanya terjadi pada musim hujan. Pada musim panas area tersebut berubah menjadi padang rumput yang maha luas diselingi pohon-pohon Buss (Eucaliptus Spp), bambu, dan lain-lain.

Masyarakat asli Papua memiliki mata pencaharian beragam. Sejauh pengamatan, hampir seluruh warga bekerja sesuai keinginan mereka dan umumnya mereka tidak menetap. Ada sebagian bertani atau berladang namun mereka tidak terlalu intensif dengan dua profesi ini. Sebab saat berladang mereka hanya menanam tanaman jangka panjang seperti pisang dan ubi-ubian saja lalu dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Mereka justru lebih suka memilih menjadi peramu.

Bagi para peramu, hutan atau dusun menjadi sumber utama penopang hidup mereka. Para peramu umumnya menggantungkan hidup terutama pada apa yang tersedia di hutan tanpa membudayakannya sebelumnya. Disamping itu, mereka juga sangat pandai berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Binatang yang selalu diburu adalah buaya, rusa, kanguru dan babi hutan. Hasil yang diperoleh biasanya dikonsumsi bersama keluarga dan sebagian dijual kepada para pedagang. Para pemburu langsung turun ke kampung-kampung dan menjualnya dengan harga yang relatif murah. Peluang ini yang selalu dimanfaatkan oleh para pendatang (pedagang) karena masyarakat asli hanya berpikir praktis saja, yaitu mendapatkan uang tanpa mempertimbangkan untung rugi.

Selain itu masyarakat juga memiliki kebiasaan menangkap ikan. Namun aktivitas ini mereka lakukan pada musim kemarau karena musim hujan merupakan musim di mana ikan-ikan rawa (gastor, betik dan bulana) berkembang biak. Pada musim kemarau, ketika rawa-rawa mulai mengering maka ikan-ikan rawa berpindah ke danau dan sungai yang ada.

Pengalaman Misi

Setiap tahun Keuskupan Agung Merauke (KAME) selalu melaksanakan Musyawarah Pastoral (MUSPAS) untuk membahas berbagai visi dan misi yang menjadi arah dasar dan pedoman dalam karya pastoral. Hal yang sering dibahas adalah persoalan-persoalan finansial yang berkaitan dengan karya pelayanan pastoral. Misalnya di wilayah Kimaam, sekali melakukan tourne ke stasi terjauh dibutuhkan dana sekitar Rp. 35 juta. Jadi, setiap stasi hanya bisa dikunjungi sekali setahun dan jika tidak ada dana maka tidak ada kunjungan. Hal ini cukup beralasan karena wilayah-wilayah pedalaman mengalami kesulitan, yaitu soal mahalnya biaya operasional. Akibatnya banyak umat sering “dibaikan” dalam pelayanan karena kendala-kendala tersebut.

Hal ini menjadi pekerjaan berat bagi para pemimpin Gereja setempat dalam usaha membangun iman umat dengan situasi demikian. Sehingga tidaklah mengherankan jika promosi-promosi mengenai wilayah misi Papua ke luar sering digalangkan demi mendukung karya misi yang berat ini. Sejauh ini keterlibatan pemerintah dalam mendukung karya misi di wilayah Merauke cukup baik melalui bantuan dana, akan tetapi wilayah yang luas dan umat yang terpencar-pencar menjadi kendala tersendiri.

Secara umum dapat digambarkan bahwa wilayah Keuskupan Agung Merauke-Papua memiliki medan misi yang menantang apalagi di wilayah-wilayah pedalaman yang jauh dari perkotaan. Misi pedalaman tidaklah gampang. Bahkan banyak imam masa kini yang menolak untuk bermisi di wilayah-wilayah pedalaman.

Banyak faktor yang menjadi penyebab misi Papua dikatakan cukup menantang yaitu:

(1), Kurang tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, seperti jalan, akses informasi, sarana kesehatan, kebutuhan-kebutuhan pokok dan sebagainya. Jalan raya menuju ke pedalaman sangat sulit untuk dilewati sehingga dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk tiba ke lokasi umat.

Di tempat ini jalannya berlumpur karena curah hujan yang tinggi di Papua. Untuk itu, selain menggunakan jalan darat, pesawat ke pedalaman sering menjadi alternatif lain bagi masyarakat agar bisa tiba ke pedalaman dalam waktu yang relatif singkat. Tentu saja umat harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak untuk membeli tiket.

Sulitnya transportasi berpengaruh pada harga bahan kebutuhan pokok. Umat harus merogoh kocek untuk membeli harga kebutuhan pokok yang mahal harganya.

(2), Kurangnya tenaga pastor. Ini menjadi keluhan setiap umat di pedalaman bahwa mereka tidak pernah dikunjungi Pastor. Efektivitas pelayanan pastoral memang sangat sulit karena satu wilayah paroki yang luas ditangani hanya satu oleh satu orang imam. Hal ini tentu saja mempengaruhi kualitas pelayanan. Tidak semua umat bisa dilayani dengan baik.

Untuk itu jangan heran kalau para ketua stasi di stasi-stasi pedalaman umumnya menjalankan tugas pastoral,  mulai dari membabtis, memimpin ibadat setiap hari minggu dan hari raya sampai menguburkan orang mati.

(3), Kemandirian umat masih jauh dari yang diharapkan, mereka masih sangat bergantung pada bantuan pemerintah.  Untuk itu Pastor yang berkarya di tempat ini pun harus bisa mengupayakan usaha sampingan untuk menghidupi gereja dan kehidupan Pastor sendiri.

Salah satu usaha yang sering dilakukan adalah dengan membuat ikan asin yang kemudian dijual di kota. Ikan yang diasinkan adalah ikan hasil tangkapan dari umat yang mereka jual kepada Pastor. Selain menerima ikan dari umat, pastor memberi pelatihan dan pendampingan mengenai cara mengelola ikan asin dan teknik-teknik pertanian modern.

Kadang-kadang langkah bijak yang dilakukan sang pastor (mengolah dan menjual ikan asin) melahirkan sikap curiga dari umat. Pastor dinilai kurang membangun kehidupan rohani umat dan lebih memperhatikan aspek ekonomi. Terhadap pola pikir ini sang pastor harus membutuhkan banyak waktu untuk menjelaskan maksud dan tujuan karya pastoral yang tidak saja mengusahakan hal-hal rohani melainkan juga turut membangun kehidupan umat.

(4), tingkat pendidikan yang masih rendah. Misi Serikat Sabda Allah adalah memberikan pendidikan bagi anak-anak di pedalaman, khususnya di Nasem. Masalahnya adalah SVD membutuhkan tenaga guru tambahan karena tenaga yang tersedia masih sangat sedikit. Selain itu, guru juga umumnya lebih memilih untuk tinggal di kota, mereka baru tiba di sekolah pada pukul 08.00 atau jam 09.00 WIT.

Selain masalah guru, orang tua kurang memperhatikan kebutuhan pendidikan anak. Hal yang sederhana seperti tidak menyediakan sarapan pagi bahkan anak-anak pergi ke sekolah dengan perut kosong (belum makan) dan mereka hanya bisa bertahan di ruang kelas paling tinggi 3 jam. Akibatnya anak-anak tidak bisa belajar dengan baik.

Sedangkan para siswa lebih suka berburu, bermain ketimbang belajar. Sehingga walaupun sudah pada tingkat pendidikan SMA mereka masih belum bisa membaca dengan baik dan benar.

Hal lain yang menjadi kendala, yaitu pada musim kemarau seluruh umat atau masyarakat memilih membangun bevak-bevak (gubuk kecil) di tengah hutan. Mereka meninggalkan kampung dalam jangka waktu yang lama. Pada saat itu semua anggota keluarga dibawa ke hutan, termasuk anak-anak sekolah. Praktisnya mereka tidak bisa belajar.

Walaupun kondisi pendidikan seperti ini, tetapi anak-anak wajib naik kelas pada waktunya. Sebab, ketika mereka tidak naik kelas, guru akan berhadapan dengan orang tua. Akibatnya anak-anak hanya mengejar target dan mutu pendidikan justru diabaikan.

(5), masalah kesehatan. Penyakit malaria menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan misi di tanah Merauke. Wilayah merauke yang berawa-rawa menjadi “rumah “ bagi perkembangbiakan nyamuk. Untuk itu, para misionaris yang berkarya di Papua harus bisa menjaga kondisi fisik agar tidak terkena malaria.

(6), adat istiadat masyarakat yang keras. Adat istiadat yang telah mengakar dan menjadi bagian dalam diri masyarakat turut mempengaruhi karya misi. Upaya Gereja dalam melakukan inkulturasi di wilayah setempat  sangat sulit terlaksana karena masyarakat sangat “pemali” dalam mengungkapkan hal-hal yang prinsipil dalam kebudayaannya. Ada nilai-nilai budaya yang tidak bisa dipulikasikan.

2 Comments
  1. 3 tahun ago
    Rikki

    Terima kasih sharingnya, jadi tahu kalau ternyata tantangan misi di Papua sangat ….. waow. AMDG