Antara Marah dan Darah

salome-sedang-menari-di-depan-herodes

Oleh: Hans Baltazar Asa

Injil: (Mat 14:1-12)

 

Marah dan darah sering berjumpa pada titik yang sama, sebab ketika seseorang sedang marah, ia sedang tidak menghendaki kehadiran orang yang membuatnya marah. Tingginya rasa marah yang tak terbendung lagi, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk melakukan pembunuhan (darah), suatu tindakan untuk meleyapkan orang yang sudah menimbulkan rasa marah yang dalam.

 Injil hari ini mengisahkan tentang kemarahan Herodes sampai pada pembunuhan Yohanes pembaptis. Herodes merasa tersinggung karena ia ditegur oleh Yohanes Pembaptis berhubung ia sudah mengambil istri saudaranya. Lalu Herodes menyeret Yohanes pembaptis ke penjara. Rupanya, hal ini tidak hanya berakhir di penjara. Yohanes pembaptis harus menelan pil pahit ketika tiba hari ulang tahun Herodes.

Dalam acara ulang tahun tersebut, putri Herodian tampil dan menari di hadapan raja Herodes dan para tamu undangan. Rupanya tarian sang putri membuat raja dan hadirin sangat senang, sehingga raja Herodes bangkit berdiri dan bersumpah kepada semua tamunya bahwa ia siap memberikan apa saja yang diminta sang putri kepadanya. Dan, setelah berkonsultasi dengan ibunya, putri Herodian meminta kepala Yohanes Pembaptis yang sudah dipenggal dalam sebuah talam.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, rasa marah dan tersinggung juga hadir dalam hidup kita setiap hari. Sering kita marah karena teman atau sahabat membuat kita tersinggung ataukah membuat suatu hal yang tidak berkenan di hati kita. Namun, kita perlu menyadari bahwa marah bisa berujung pada darah. Banyak kasus pembunuhan yang diawali dengan ketidakmampuan mengontrol rasa marah sehingga orang tega melakukan pembunuhan, entah itu orangtua, sahabat, pacar, anak, suami, atau juga istri.Apakah Anda juga menginginkan agar orang-orang dekat Anda menjadi korban atas kemarahan Anda?

. Dalam kerapuhan sebagai manusia kita perlu bijak untuk mengolah perasaan marah yang mengganggu. Mulailah dengan berusaha untuk tidak terpancing dengan segala pristiwa yang memicu kemarahan. Selanjutnya menemukan akar permasalahan yang memicu kemarahan. Setelah menemukan akar permasalahan, baru dicari solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Saya yakin bila kita menerapkan hal ini, rasa marah tidak akan muncul dalam diri kita. Sebab, ketika otak mulai menelaah, memilah-milah dan menguraikan masalah kekuatan untuk menimbulkan rasa marah itu mulai berkurang, bahkan hilang.

Saya masih ingat ketika bulan-bulan petama meninggalkan biara dan memlih menjadi awam. Sebagai seorang awam pacaran adalah hal yang lumrah. Namun, berkenalan dan mulai berpacaran dengan seorang cewek secara mendalam tidaklah gampang karena ada hal-hal biasa yang sering memicu pertengkaran. Contohnya cemburu, balas sms terlambat, tidak kontak, ataukah ada momen tertentu yang mana si cewek harus rewel. Hal-hal seperti ini bisa menjadi pemicu untuk rasa marah. Namun, saya berusaha untuk menguasai diri, mempraktikkan metode pengolahan perasaan marah sehingga saya bisa menguasai diri.

Para pembaca kabar misionaris yang saya kasihi, segala sesuatu butuh pengorbanan (sacrifice) dan kerja keras. Tanpa pengorbanan dan kerja keras kita tidak akan berhasil. Justru kita tetap hidup dalam situasi yang tidak nyaman terus menerus, marah, marah dan marah…… tapi ingat marah itu berujung darah (marah itu sama dengan membunuh, demikian pesan Yesus dalam Injil). . . .

Mari kita mengolah rasa marah kita menjadi rasa cinta, simpati, dan empati. Marah tidak hanya berakibat fatal bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Kemarahan yang tak terkontrol bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri malah bisa mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, saya mengajak kita sekalian untuk selalu mengolah rasa marah. Selamat berefleksi

Sumber:

http://abiummi.com/assets/uploads/2015/06/Cara-Mengatasi-Marah-dalam-5-Langkah.jpg

https://sangsabda.files.wordpress.com/2010/01/salome-sedang-menari-di-depan-herodes.jpg