Ada Apa Dengan Galilea (Yohanes 7:40-52)-Renungan Akhir Pekan

Pada zaman Yesus, Galileyesus dan galileaa didiami oleh orang Samaria yang nota benenya turunan campuran antara bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa kafir. Selain mengalami pencampuran dalam keturunan, wilayah ini juga menjadi salah satu pusat perekonomian dan bisnis pada zaman Yesus.

Oleh karena itu, orang Yahudi yang saleh sering menganggap orang Galilea adalah orang – orang najis, kotor, roh jahat dan bahkan mereka beranggapan bahwa seorang nabi tidak layak muncul dari Galilea.

Anggapan-anggapan ini selalu tertanam di dalam hati dan pikiran masyarakat Yahudi sehingga ketika berbicara tentang Galilea, hal pertama yang muncul dalam benak mereka adalah najis, dosa, roh jahat dll. Hal ini tertera dalam kisah injil pada hari ini, di mana para pendengar kotbah Yesus, meragukan keberadaan Yesus, di samping  ada pula yang   takjub dan terheran–heran sebab Yesus beserta para muridnya berasal dari Galilea.

Suasana batin yang tidak nyaman/gamang membuat para pendengar tidak bisa mengambil keputusan untuk menangkap Yesus dan membawanya kepada para pemuka agama. Orang-orang utusan para pemuka agama bersaksi, ” belum pernah seorang manusia yang berkata seperti orang itu.”  Dari hal ini kita tahu bahwa setiap sabda yang keluar dari mulut Yesus penuh kuasa.

Situasi seperti ini juga sering kita alami. Kadang-kadang kita memandang orang lain hanya dari satu sisi. Dan justru sisi yang dicari adalah sisi lemah.  Maka itu, marilah kita menimba hikmah dari bacaan hari ini untuk permenungan batin selama masa puasa:

Pertama. Menerapkan berpikir dua arah,  kita diajak untuk mengurangi cara berpikir negatif tentang suatu tempat dan masyarakat yang mendiami wilayah dan mengembangkan positive thinking. Berpikir dua arah selalu mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa di dalam hal yang baik tidak tertutup kemungkinan untuk  muncul hal buruk, di dalam hal yang buruk juga tidak tertutup kemungkinan untuk muncul hal yang baik.

Suatu lokasi yang didiami wanita-wanita tuna susila dan para pendosa tidak selamanya najis dan kotor tetapi ada juga segelintir orang baik yang mendiami wilayah itu. Demikianlah juga sebaliknya wilayah atau daerah yang dikatakan suci mulia tidak tertutup kemungkinan menyimpan hal-hal yang buruk.

 Ke dua, Berani membuka hati. Hal ini memang sulit dan butuh perjuangan. Pada umumnya kita akan membuka diri bagi orang yang kita sanjungi dan yang menjadi TOP man bagi kita. Tetapi ketika kita dinasehati oleh seorang anak kecil, orang yang sederhana secara intelektual ataukah yang berasal dari daerah yang tidak bermoral, kita cepat mengelakkan dan menganggapnya tidak layak. Ia tidak layak mengajarkan kita dalam hal baik dan yang bersifat rohani, apalagi tentang suatu hal yang kita sudah tahu.

Membuka diri akan membawa kita pada jalan kedamaian. Orang yang membuka diri terhadap orang lain, sesungguhnya ia mau menerima orang lain apa adanya, semua kehidupan tingkah laku, kelemahan dan kekurangannya, dari mana dia berasal dll. Membuka diri membutuhkan komitmen yang tangguh karena akan berlawanan dengan sikap ego.

‘Berpikir dua arah’ dan ‘membuka diri; membawa kita untuk memahami Galilea secara bijak sehingga kita tidak terjerumus bersama para pendengar yang mendengar kotbah Yesus lalu mereka ragu. Keraguan yang hanya dipicu karena Yesus dan murid-muridnya berasal dari Galilea, tetapi kita seharusnya meyakinkan diri bahwa setiap perkataan baik dari orang lain pasti bermanfaat dalam hidup kita.

Semoga bacaan injil dan ulasan renungan hari ini membantu kita untuk membenahi diri dalam masa prapaskah, agar ketika kita merayakan pesta kebangkitan Tuhan kitapun ikut bangkit dari hidup lama. Selamat berefleksi dan selamat menikmmati akhir pekan. (Surabaya, 12/03/ 2-16-Baltazar Asa)

 

Sumber foto: https://sangsabda.files.wordpress.com/2014/06/sermon_on_the_mount1.png

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *