Berdoa di Tengah Kesibukan

 

Oleh P.Alfons Betan, SVD1mulia

(Dosen STFK Ledalero)

 

Dewasa ini ada kenyataan bahwa  banyak orang mengalami kehampaan batin karena selain  dijejali oleh banyaknya tugas dan kesibukan, tetapi juga karena ada banyak masalah yang sedang dihadapinya dan sebagian daripadanya merupakan masalah serius yang membutuhkan ketenangan batin. Berdasarkan  kenyataan ini  saya ingin menyampaikan renungan ini  berdasarkan inspirasi dari Luk.9:28-36, teks Injil yang akan kita baca atau dengar dalam perayaan Ekaristi hari Minggu tanggal 21 Februari 2016 nanti.

Sebelum cerita tentang transfigurasi Yesus di atas sebuah gunung dalam Luk.9:28-36, Yesus sudah berdialog dengan para murid-Nya. Dalam dialog itu, dengan terus terang Ia berbicara tentang penderitaan-Nya di Yerusalem dan syarat-syarat mengikuti Dia (Luk.9:22-27). Kemudian, Ia membawa tiga murid-Nya (Petrus, Yohanes dan Yakobus) ke atas sebuah gunung untuk berdoa. Ketiganya dipandang sebagai wakil dari 9 temannya yang lain dan siapa saja yang  mengikuti Yesus sekalipun tidak termasuk kelompok dua belas rasul. Di kalangan bangsa Israel, gunung, bukit atau tempat yang tinggi  dilihat sebagai  tempat kediaman Tuhan atau tempat Tuhan mewahyukan diri-Nya  (Kel.19-20; Mat.5:1; Luk.4:5). Tempat itu  sunyi, jauh dari keramaian. Tempat seperti itu lebih mudah menghantar orang berjumpa dengan Tuhan dan berdialog dengan Dia dalam keheningan.

Yesus, Putera Allah  setia  berdialog dengan Bapa-Nya dalam doa. Salah satu kekhasan penginjil Lukas adalah menampilkan Yesus yang setia berdoa (Luk.3:21; 6:12; 9:28-29; 22:32; 22:41). Doa merupakan bagian integral dalam seluruh hidup dan karya perutusan-Nya. Dengan berdoa, Ia mempersatukan diri-Nya dengan Bapa dan dengan persatuan itu, Ia memperoleh kekuatan melaksanakan kehendak  Bapa-Nya. Dengan berdoa Ia tahu apa kehendak Bapa-Nya, dan dengan kekuatan yang telah Ia terima dari Bapa-Nya itu Ia mampu melaksanakan kehendak Bapa-Nya itu sampai akhir hidup-Nya (Luk.23:46; Yoh.19:30). Karena tujuan kedatangan-Nya ke dunia adalah melaksanakan kehendak Bapa-Nya (Luk.22:42; Yoh.4:34) maka Bapa dan kehendak-Nya itulah yang menjadi yang pertama dan utama. Sebab itu dengan menampilkan Yesus sebagai pendoa sejati, penginjil Lukas mau mengajak para pembaca injilnya agar mencontohi kesetiaan Yesus untuk berdoa.

Dalam berdoa ada suatu perubahan yang terjadi. Hal itu bisa kita temukan dalam kisah pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Di situ dikatakan: “Ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’’ (Luk.3:21-22). Dalam peristiwa pembatisan Yesus ini, terjadilah pewahyuan diri Allah Tritunggal kepada orang banyak yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Perubahan seperti itu terjadi juga dalam peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung. Yesus berubah rupa dalam segala kemuliaan-Nya .Rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Musa dan Elia, dua tokoh penting dari Perjanjian Lama juga tampak dalam kemuliaan dan sedang berbicara dengan Yesus tentang tujuan kepergiaan-Nya ke Yerusalem.

Pertanyaan: “Mengapa bisa terjadi  suatu peristiwa yang menakjubkan seperti itu ketika Yesus sedang berdoa ?” Itu bisa terjadi karena dengan berdoa Yesus bersatu dengan Bapa-Nya, dan persatuan itu menimbulkan kekuatan dan  menciptakan sesuatu  yang baru.  Transfigurasi Yesus  itu disaksikan oleh Petrus dan kedua temannya: mereka bisa melihatnya dan menikmati kebahagiaan seperti yang diungkapkan oleh Petrus mewakili kedua temannya (Luk.9:33). Mereka merasa bahagia berada bersama Tuhan. Namun ada reaksi manusiawi mereka yang diberitakan penginjil Lukas, yaitu bahwa ketika Petrus menyatakan kesediaannya mendirikan tiga kemah: satu untuk Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia, datanglah awan menaungi mereka. Ketika mereka masuk ke dalam awan itu, mereka takut. Awan merupakan simbol  kehadiran Tuhan (Kel.13:21; 14:19; 16:10; Bil.9:15; 12:5; Ul.31:15).

Ketakutan  mereka memperlihatkan kekecilan, kefanaan dan keberdosaan mereka. Mereka merasa sunguh tidak layak berada dalam suasana keIlahian. Mereka takut binasa karena merasa belum saatnya untuk  masuk ke dalam suasana itu karena menyadari dosa-dosa mereka.

Sekalipun demikian, datanglah suara dari dalam awan itu yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Bapa dari surga memperkenalkan Yesus kepada mereka yang sebetulnya mewakili semua orang bahwa Yesus adalah anak-Nya yang Ia cintai. Seperti Israel dipilih Tuhan menjadi bangsa pilihan-Nya, maka Yesus diperkenalkan penginjil Lukas  sebagai  Israel baru, anak pilihan-Nya yang Ia cintai. Pilihan  menandaskan bahwa yang  dipilih itu  merupakan terbaik sekaligus yang tercinta. Bapa memberi Yesus, anak-Nya yang paling baik dan yang amat Ia cintai. Karena itu Bapa meminta agar para murid dan siapa aja yang mereka wakili mendengarkan Yesus. Mendengarkan maksudnya menerima-Nya, mencintai dan setia berguru pada-Nya karena Sabda-Nya menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan. Mendengarkan Yesus berarti juga mendengarkan Bapa yang telah mengutus-Nya.

Setelah peristiwa transfigurasi berakhir, yang dilihat para murid adalah Yesus sendiri. Dialah yang menjadi pewahyu  Bapa yang  paling sempurna yang suara-Nya tadi terdengar dari dalam awan. Kini Yesus  hadir bersama mereka. Kehadiran-Nya  meneguhkan mereka yang merasa takut karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan.  Dalam doa Yesus berubah rupa dalam segala kemuliaan, tetapi  kini Ia hadir lagi dalam realitas konkrit menjadi pribadi Ilahi yang setia mencintai mereka. Namun  lewat transfigurasi itu  penginjil Lukas mau memberitakan bahwa untuk mencapai kemuliaan seperti transfigurasi tadi, para murid diminta untuk setia mengikuti Yesus  sampai masuk ke dalam misteri Paskah, yaitu sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Hanya melalui karya pelayanan yang dilaksanakan dengan setia, dan karena itu tidak lepas dari  salib, penderitaan dan kematian,  seperti Yesus, mereka juga  akan menikmati kemuliaan Paskah. Tiada kemuliaan Paskah tanpa didahului oleh pengorbanan,  penderitaan (salib)  dan kematian.

Doa menjadi momen penting untuk bertemu dengan Tuhan.  Hendaknya doa dilaksanakan dengan  penuh iman dan kesetiaan  serta penyerahan diri secara total kepada-Nya. Ada kekuatan yang diberikan-Nya. Dengan cara-Nya sendiri Ia akan  menampakkan diri-Nya ketika kita berdoa: kita bisa melihat-Nya dalam iman  dan disposisi batin yang dijiwai oleh cinta dan kerinduan. Seperti Petrus dengan teman-temannya kita bisa merasakan kebahagiaan berada bersama-Nya. Namun kita pun disadarkan oleh kehadiran-Nya  yang Mahakudus itu, bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan karena itu kita hendaknya bertobat.

Dalam doa yang dilakukan dengan penuh cinta kepada-Nya, kita bisa mendengar suara Bapa yang memperkenalkan Yesus Putera  pilihan-Nya dan yang  amat  Ia cintai. Yesus yang diberikan Bapa itu kini hadir di hadapan kita dan siap sedia menyertai kita dalam setiap peristiwa hidup kita. Dialah yang akan menjawabi kehampaan batin kita dan memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita bagaimana seharusnya kita mengatasi masalah-masalah.  Dia pun menyadarkan kita khususnya dalam masa prapaskah ini bahwa untuk mencapai kemuliaan Paskah, kita harus menyangkal diri, maksudnya berusaha menjadi rendah hati dan siap sedia melayani siapa saja dengan cinta yang ikhlas. Kita juga diminta untuk bersedia memikul salib, maksudnya rela berkorban demi kebahagiaan sesama, kemudian setia mengikuti-Nya dalam setiap peristiwa hidup termasuk ketika kita mengalami penderitaan. Hanya dalam doa dan kepasrahan yang total kepada Tuhan disertai dengan usaha konkrit dan perjuangan, maka Dia yang Mahakuasa akan tampil dalam kemuliaan dan membantu kita.

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (Luk.1:37) dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang setia beriman  (Mrk.9:23) serta setia berdoa kepada-Nya (Luk.11:5-13). Tugas dan karya pelayanan kita akan kita lakukan dengan senang dan orang-orang yang kita jumpai dan yang kita layani akan merasakan ‘jamahan kasih yang ikhlas’ kita, apabila kita sudah menjalin relasi yang baik dengan Tuhan sendiri.  Kemudian, setelah menyelesaikan semua tugas / kesibukan kita diajak untuk bersyukur kepada-Nya seraya memohon berkat dan penyertaan-Nya untuk hari-hari mendatang.  Semoga Dia yang kita imani dan yang kita jumpai dalam doa,  membantu kita agar kita bisa menyadari bahwa di balik ‘salib’ kita,  ada berkat-Nya yang memberi kebahagiaan.

Sebelum cerita tentang transfigurasi Yesus di atas sebuah gunung dalam Luk.9:28-36, Yesus sudah berdialog dengan para murid-Nya. Dalam dialog itu, dengan terus terang Ia berbicara tentang penderitaan-Nya di Yerusalem dan syarat-syarat mengikuti Dia (Luk.9:22-27). Kemudian, Ia membawa tiga murid-Nya (Petrus, Yohanes dan Yakobus) ke atas sebuah gunung untuk berdoa. Ketiganya dipandang sebagai wakil dari 9 temannya yang lain dan siapa saja yang  mengikuti Yesus sekalipun tidak termasuk kelompok dua belas rasul. Di kalangan bangsa Israel, gunung, bukit atau tempat yang tinggi  dilihat sebagai  tempat kediaman Tuhan atau tempat Tuhan mewahyukan diri-Nya  (Kel.19-20; Mat.5:1; Luk.4:5). Tempat itu  sunyi, jauh dari keramaian. Tempat seperti itu lebih mudah menghantar orang berjumpa dengan Tuhan dan berdialog dengan Dia dalam keheningan.

Yesus, Putera Allah  setia  berdialog dengan Bapa-Nya dalam doa. Salah satu kekhasan penginjil Lukas adalah menampilkan Yesus yang setia berdoa (Luk.3:21; 6:12; 9:28-29; 22:32; 22:41). Doa merupakan bagian integral dalam seluruh hidup dan karya perutusan-Nya. Dengan berdoa, Ia mempersatukan diri-Nya dengan Bapa dan dengan persatuan itu, Ia memperoleh kekuatan melaksanakan kehendak  Bapa-Nya. Dengan berdoa Ia tahu apa kehendak Bapa-Nya, dan dengan kekuatan yang telah Ia terima dari Bapa-Nya itu Ia mampu melaksanakan kehendak Bapa-Nya itu sampai akhir hidup-Nya (Luk.23:46; Yoh.19:30). Karena tujuan kedatangan-Nya ke dunia adalah melaksanakan kehendak Bapa-Nya (Luk.22:42; Yoh.4:34) maka Bapa dan kehendak-Nya itulah yang menjadi yang pertama dan utama. Sebab itu dengan menampilkan Yesus sebagai pendoa sejati, penginjil Lukas mau mengajak para pembaca injilnya agar mencontohi kesetiaan Yesus untuk berdoa.

Dalam berdoa ada suatu perubahan yang terjadi. Hal itu bisa kita temukan dalam kisah pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Di situ dikatakan: “Ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’’ (Luk.3:21-22). Dalam peristiwa pembatisan Yesus ini, terjadilah pewahyuan diri Allah Tritunggal kepada orang banyak yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Perubahan seperti itu terjadi juga dalam peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung. Yesus berubah rupa dalam segala kemuliaan-Nya .Rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Musa dan Elia, dua tokoh penting dari Perjanjian Lama juga tampak dalam kemuliaan dan sedang berbicara dengan Yesus tentang tujuan kepergiaan-Nya ke Yerusalem.

Pertanyaan: “Mengapa bisa terjadi  suatu peristiwa yang menakjubkan seperti itu ketika Yesus sedang berdoa ?” Itu bisa terjadi karena dengan berdoa Yesus bersatu dengan Bapa-Nya, dan persatuan itu menimbulkan kekuatan dan  menciptakan sesuatu  yang baru.  Transfigurasi Yesus  itu disaksikan oleh Petrus dan kedua temannya: mereka bisa melihatnya dan menikmati kebahagiaan seperti yang diungkapkan oleh Petrus mewakili kedua temannya (Luk.9:33). Mereka merasa bahagia berada bersama Tuhan. Namun ada reaksi manusiawi mereka yang diberitakan penginjil Lukas, yaitu bahwa ketika Petrus menyatakan kesediaannya mendirikan tiga kemah: satu untuk Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia, datanglah awan menaungi mereka. Ketika mereka masuk ke dalam awan itu, mereka takut. Awan merupakan simbol  kehadiran Tuhan (Kel.13:21; 14:19; 16:10; Bil.9:15; 12:5; Ul.31:15).

Ketakutan  mereka memperlihatkan kekecilan, kefanaan dan keberdosaan mereka. Mereka merasa sunguh tidak layak berada dalam suasana keIlahian. Mereka takut binasa karena merasa belum saatnya untuk  masuk ke dalam suasana itu karena menyadari dosa-dosa mereka.

Sekalipun demikian, datanglah suara dari dalam awan itu yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Bapa dari surga memperkenalkan Yesus kepada mereka yang sebetulnya mewakili semua orang bahwa Yesus adalah anak-Nya yang Ia cintai. Seperti Israel dipilih Tuhan menjadi bangsa pilihan-Nya, maka Yesus diperkenalkan penginjil Lukas  sebagai  Israel baru, anak pilihan-Nya yang Ia cintai. Pilihan  menandaskan bahwa yang  dipilih itu  merupakan terbaik sekaligus yang tercinta. Bapa memberi Yesus, anak-Nya yang paling baik dan yang amat Ia cintai. Karena itu Bapa meminta agar para murid dan siapa aja yang mereka wakili mendengarkan Yesus. Mendengarkan maksudnya menerima-Nya, mencintai dan setia berguru pada-Nya karena Sabda-Nya menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan. Mendengarkan Yesus berarti juga mendengarkan Bapa yang telah mengutus-Nya.

Setelah peristiwa transfigurasi berakhir, yang dilihat para murid adalah Yesus sendiri. Dialah yang menjadi pewahyu  Bapa yang  paling sempurna yang suara-Nya tadi terdengar dari dalam awan. Kini Yesus  hadir bersama mereka. Kehadiran-Nya  meneguhkan mereka yang merasa takut karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan.  Dalam doa Yesus berubah rupa dalam segala kemuliaan, tetapi  kini Ia hadir lagi dalam realitas konkrit menjadi pribadi Ilahi yang setia mencintai mereka. Namun  lewat transfigurasi itu  penginjil Lukas mau memberitakan bahwa untuk mencapai kemuliaan seperti transfigurasi tadi, para murid diminta untuk setia mengikuti Yesus  sampai masuk ke dalam misteri Paskah, yaitu sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Hanya melalui karya pelayanan yang dilaksanakan dengan setia, dan karena itu tidak lepas dari  salib, penderitaan dan kematian,  seperti Yesus, mereka juga  akan menikmati kemuliaan Paskah. Tiada kemuliaan Paskah tanpa didahului oleh pengorbanan,  penderitaan (salib)  dan kematian.

Doa menjadi momen penting untuk bertemu dengan Tuhan.  Hendaknya doa dilaksanakan dengan  penuh iman dan kesetiaan  serta penyerahan diri secara total kepada-Nya. Ada kekuatan yang diberikan-Nya. Dengan cara-Nya sendiri Ia akan  menampakkan diri-Nya ketika kita berdoa: kita bisa melihat-Nya dalam iman  dan disposisi batin yang dijiwai oleh cinta dan kerinduan. Seperti Petrus dengan teman-temannya kita bisa merasakan kebahagiaan berada bersama-Nya. Namun kita pun disadarkan oleh kehadiran-Nya  yang Mahakudus itu, bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan karena itu kita hendaknya bertobat.

Dalam doa yang dilakukan dengan penuh cinta kepada-Nya, kita bisa mendengar suara Bapa yang memperkenalkan Yesus Putera  pilihan-Nya dan yang  amat  Ia cintai. Yesus yang diberikan Bapa itu kini hadir di hadapan kita dan siap sedia menyertai kita dalam setiap peristiwa hidup kita. Dialah yang akan menjawabi kehampaan batin kita dan memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita bagaimana seharusnya kita mengatasi masalah-masalah.  Dia pun menyadarkan kita khususnya dalam masa prapaskah ini bahwa untuk mencapai kemuliaan Paskah, kita harus menyangkal diri, maksudnya berusaha menjadi rendah hati dan siap sedia melayani siapa saja dengan cinta yang ikhlas. Kita juga diminta untuk bersedia memikul salib, maksudnya rela berkorban demi kebahagiaan sesama, kemudian setia mengikuti-Nya dalam setiap peristiwa hidup termasuk ketika kita mengalami penderitaan. Hanya dalam doa dan kepasrahan yang total kepada Tuhan disertai dengan usaha konkrit dan perjuangan, maka Dia yang Mahakuasa akan tampil dalam kemuliaan dan membantu kita.

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (Luk.1:37) dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang setia beriman  (Mrk.9:23) serta setia berdoa kepada-Nya (Luk.11:5-13). Tugas dan karya pelayanan kita akan kita lakukan dengan senang dan orang-orang yang kita jumpai dan yang kita layani akan merasakan ‘jamahan kasih yang ikhlas’ kita, apabila kita sudah menjalin relasi yang baik dengan Tuhan sendiri.  Kemudian, setelah menyelesaikan semua tugas / kesibukan kita diajak untuk bersyukur kepada-Nya seraya memohon berkat dan penyertaan-Nya untuk hari-hari mendatang.  Semoga Dia yang kita imani dan yang kita jumpai dalam doa,  membantu kita agar kita bisa menyadari bahwa di balik ‘salib’ kita,  ada berkat-Nya yang memberi kebahagiaan.

Sumber gambar: http://www.satuharapan.com/uploads/pics/news_34_1423836213.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *