Belajar Menjadi Murid

images
Bacaan:

Keb. 9:13-18; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Luk. 14:25-33.
BcO 2Ptr. 1:1-11

Injil hari ini mempertegas perintah Yesus bagi mereka yang menyatakan kesediaan untuk mengikuti Dia. ‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawa sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu (14:26).”

Tuntutan menjadi murid Yesus tidak mudah, bahkan sangat keras. Beberapa penafsir menyebutkan bahwa kata ‘membenci’ bagi orang Yahudi sama artinya dengan ‘kurang mengasihi.’ Dengan demikian, menjadi murid Yesus berarti mencintai Tuhan  Yesus dengan cinta yang penuh.

Syarat yang kedua adalah, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengkuti Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu (14: 27). “ Untuk mendukung pernyataan ini, Tuhan Yesus mengajukan pernyataan penting berkaitan dengan persiapan diri sebelum menjadi pengikutnya, yakni mempertimbangkan batas kemampuan yang dimiliki sambil mencari solusi. Ini tertuang dalam analogi berikut:

Jika seseorang mau membuat menara ia harus mempertimbangkan, menghitung segala sesuatu yang penting, termasuk anggaran secara tepat agar bangunan itu selesai tepat waktunya. Atau, seperti seorang raja yang hendak berperang, ia harus tahu jumlah musuhnya agar ia bisa mempertimbangkan, apakah dengan jumlah tentara yang ada, ia bisa menang? Ini adalah visi kemuridan yang Tuhan Yesus tanamkan. Seorang murid Yesus memang harus melemparkan pandangan jauh ke depan agar ia tidak gagal mewartakan Kabar Gembira.

Mari kita mempertimbangkan kira-kira apa jadinya dunia puluhan tahun mendatang. Sadar atau tidak, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, kita sudah digiring untuk lebih mencintai diri sendiri, menghabiskan waktu dengan diri sendiri, dan mencari kenikmatan untuk diri sendiri. Bagaimana dengan tahun-tahun mendatang? Untuk itu, mulailah menempatkan Tuhan sebagai prioritas.

Tantangan pertama yang akan kita hadapi adalah diri sendiri ketika kita menempatkan Tuhan sebagai prioritas. Kitab kebijaksanaan sudah mewanti-wanti kita demikian, “Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina, dan pertimbangan kami ini tidak tetap” (Keb 9:14). Kita mudah membangun komitmen tetapi sering juga kita melanggarnya. Untuk itu, kita senantiasa berdoa memohon bantuan dan penerangan Roh Kudus agar kita sendiri mampu mengarahkan diri sendiri.

Tantangan kedua adalah orang-orang di sekitar kita yang hadir dengan segala tuntutan. Pada prinsipnya, orang-orang dekat yang mencintai kita adalah wilayah misi pertama bagi kita untuk mewartakan kebaikan Tuhan. Misi pertama kita adalah keluarga sendiri. Bagaimana kita mengajak anggota keluarga untuk menempatkan Tuhan sebagai prioritas. Contoh sederhana, bagaimana menyiapkan waktu khusus di dalam keluarga untuk berdoa bersama, membaca firman bersama, dan berbagi pengalaman iman bersama. Tentang pengaturan teknis soal waktu sangat bergantung dari kebijakan orang tua. Dengan demikian, kita memang ‘membenci’ keluarga dalam arti menempatkan Tuhan sebagai prioritas tetap serentak kita pun memutuskan untuk ‘mencintai’ anggota keluarga kita, sebab mereka adalah laham misi pertama.

Pemazmur mengajak kita untuk tidak menunda membuat keputusan menjadi murid Yesus. Kita diajak untuk segera membenahi diri setiap hari dan menjadi bijaksana, baik untuk diri sendiri, maupun untuk keluarga dan orang-orang yang kita cintai.  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hinga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12) (Bill Halan)

sumber gambar:http://cdn.bisnisukm.com/2013/03/skala-prioritas.jpg