Tritunggal Maha Kudus: Roh Kebenaran (Minggu, 22 Mei 2016)

tanda salib

Oleh P.Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Sebaik-baiknya seorang anak manusia, dia tetap merupakan makhluk yang tidak sempurna. Dia dan dunia di sekitarnya merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang tidak sempurna. Dia tidak bisa menyamai kesempurnaan Tuhan Pencipta-Nya.

Minggu pertama sesudah hari raya Pentakosta, kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera dan Roh Kudus; Tiga Allah Satu Pribadi. Bicara tentang Bapa tidak bisa dipisahkan dari pribadi Yesus dan Roh Kudus. Bicara tentang Yesus harus selalu dalam hubungan-Nya dengan Bapa dan Roh Kudus. Bicara tentang Roh Kudus, harus selalu dalam relasi-Nya dengan Bapa dan Yesus. Roh Kudus adalah Roh Cinta Bapa dan Putera.

Itulah misteri Allah Tritunggal yang amat sukar dijelaskan secara rational. Itulah kekayaan dalam hidup rohani  dan hanya bisa dipahami dalam konteks iman kepada-Nya.

Allah Tritunggal itu adalah Roh Kebenaran. Dalam injil Yohanes, kata ‘kebenaran’ berkaitan dengan pribadi Allah yang sempurna. Cinta-Nya juga sempurna, jauh melebihi  cinta manusia dan sering sulit dipahami. Penginjil Yohanes menampilkan pribadi Yesus, sang Sabda yang berinkarnasi (Yoh.1:1-18). Dia adalah pribadi Ilahi yang penuh dengan kasih karunia dan kebenaran (Yoh.1:14). Oleh Dia, kasih karunia dan ‘kebenaran’ (kesempurnaan) itu datang  kepada manusia (Yoh.1:17).

Dalam dialog Yesus dengan perempuan Samaria, Yesus mengatakan bahwa saatnya akan tiba dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yoh.4:23). Para pengikut-Nya diajak untuk menyembah Bapa-Nya dalam roh dan ‘kesempurnaan cinta’. Sekalipun mereka adalah manusia biasa yang punya kekurangan atau keterbatasan, namun mereka hendaknya berusaha untuk memurnikan hati mereka. Mereka harus menyerahkan diri  secara total kepada Bapa dengan terlebih dahulu memperbaiki cara hidup mereka.

Hanya dengan demikian, penyembahan mereka bisa berkenan kepada-Nya. Tanpa berbuat demikian, maka penyembahan mereka tidak berkenan pada-Nya, hanya berada pada ritus lahirah saja tanpa makna. Itu merupakan satu bentuk kemunafikan dan tidak mendatangkan ‘berkat’ bagi mereka.

Sebagai seorang perintis kedatangan Yesus, Yohanes Pembaptis telah bersaksi kepada sesama bangsa Yahudi tentang ‘kebenaran’ (Yoh.5:33). Ia bersaksi tentang Allah yang adalah pribadi Ilahi yang sempurna. Yesus yang diutus Bapa dan yang berkarya dalam kuasa Roh Kudus adalah pribadi yang memiliki cinta yang sempurna. Karena dengan bersaksi tentang kesempurnaan cinta Allah dalam pribadi Yesus, Yohanes Pembaptis mengajak mereka agar menerima kedatangan Yesus, percaya kepada-Nya dan setia mengikuti-Nya sampai berada di mana Ia berada termasuk dalam penderitaan dan kematian (Yoh.14:1-3; 19:30).

Dalam karya pewartaan-Nya, Yesus mengajak sesama bangsa-Nya Yahudi agar percaya kepada Firman-Nya dan ‘berada di dalam-Nya’, maksudnya melaksanakannya dengan setia dan penuh rasa tanggung jawab demi kemuliaan Allah dan kebaikan bersama dalam masyarakat. Kalau mereka berbuat demikian, maka mereka adalah murid-murid-Nya. Mereka pun akan mengetahui ‘kebenaran’ dan kebenaran itu akan memerdekakan mereka. Itu berarti Allah Tritunggal itulah yang akan membebaskan mereka dari perbudakan dosa dan dengan demikian menyelamatkan mereka (Yoh.8:30-32).

Sekalipun demikian, ada yang tidak percaya kepada-Nya (Yoh.8:45). Ia menawarkan kebaikan Allah, namun mereka menolaknya. Penolakan itu disebabkan karena keangkuhan dan kedegilan batin mereka. Mereka mencap Yesus sebagai manusia biasa yang melanggar kekudusan hari Sabat dan menyamakan Diri-Nya dengan Allah.

Sekalipun Yesus berbuat baik lewat karya penyembuhan, namun karena penyembuhan itu terjadi pada hari Sabat, maka mereka menolak-Nya (Yoh.5:1-18). Misi Yesus adalah untuk menyelamatkan orang yang menderita. Sekalipun tidak dipercaya dan ditolak, Ia  tetap  setia melanjutkan karya-Nya, menampilkan kesempurnaan cinta-Nya, sekalipun harus menanggung konsekuensinya.

Kepada Tomas, salah seorang murid-Nya, Yesus memberitakan bahwa Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Dia. Yesus adalah pewahyu Bapa-Nya. Karena itu barangsiapa mengenal Yesus, mengenal Bapa. Bapa yang tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam pribadi Yesus (Yoh.14:4-7). Yesus menampilkan kesempurnaan Bapa dan kesempurnaan cinta-Nya.

Dalam wejangan perpisahan-Nya kepada para murid-Nya, Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus kepada mereka. Roh itu akan menyertai mereka melanjutkan karya pewartaan-Nya. Ia  akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena dunia itu tetap tidak percaya kepada-Nya; akan kebenaran, karena Ia akan pergi kepada Bapa dan mereka tidak melihat-Nya lagi; akan penghakiman karena penguasa dunia  ini akan dihakimi (Yoh.16:8-11).

‘Penguasa dunia’ adalah setan, kuasa kegelapan atau kejahatan dan para pengikut-Nya. Mereka ini  tidak percaya kepada Yesus dan menolak-Nya. Kehadiran Yesus dan pewartaan-Nya membuat mereka tidak aman karena Ia membongkar kekurangan atau penyelewengan mereka (bdk.Mat.23).

Roh Allah, Roh kebenaran itu akan memimpin para pengikut-Nya ke dalam seluruh kebenaran, maksudnya ke dalam persatuan dengan Allah itu sendiri, berada dalam cinta-Nya. Ia akan menjiwai, menginspirasi dan mendorong mereka untuk mewujudkan cinta-Nya sebagaimana Ia telah mencintai mereka (Yoh.15:13).

Tanpa dasar itu, mereka akan sulit sekali bersaksi tentang Allah, melaksanakan kehendak-Nya dalam perbuatan baik. Hal itu hanya bisa terjadi apabila mereka mereka memiliki iman yang dewasa, kerendahan hati dan  bersikap terbuka untuk dibimbing oleh Roh Allah itu sendiri. Untuk itu mereka harus menyiapkan waktu yang cukup banyak untuk berdialog dengan DIA. Inilah hal  pertama dan yang harus diutamakan dalam hidup mereka. Sesudah itu, baru mereka bisa bekerja atau menerusakan karya mereka.

Dalam doa Yesus bagi para murid-Nya, Ia memohon kepada Bapa-Nya agar Ia menguduskan mereka dalam kebenaran. ‘Menguduskan’ berarti membuat mereka masuk ke dalam situasi keIlahian. Itu berarti juga, mereka menjadi orang-orang khusus, orang-orang pilihan Allah dan kepunyaan-Nya.

Hal itu merupakan suatu anugerah istimewa sekaligus merupakan suatu tugas bagi mereka; hidup mereka harus sesuai dengan kehendak Allah dan mereka harus berusaha dengan bantuan Roh-Nya, membuat sesamanya percaya kepada Allah dan mewujudkan kepercayaannya itu dalam perbuatan-perbuatan baik.

Dengan berbuat demikian, sesama kita bisa memperoleh keselamatan.  Mereka harus berusaha menampakkan kehadiran, karya dan kekudusan Allah Tritunggal yang tidak kelihatan secara fisik itu lewat kehadiran, karya-karya pelayanan mereka bagi sesama.

Karena Allah Tritunggal adalah Roh Kebenaran, dan karena Yesus adalah Pewahyu Bapa dan Roh-Nya, maka baik pribadi Yesus maupun Firman-Nya  adalah kebenaran (Yoh.17:17). Itu berarti dengan membaca, merenungkan dan menghayati  Firman-Nya dalam Kitab Suci, maka kita  pun bertemu secara pribadi dengan Dia sebagai sumber kebenaran.

Sama seperti para murid-Nya yang diutus-Nya, maka kita pun diutus-Nya ke dalam ‘dunia’ yang penuh dengan aneka tantangan. Tantangan itu datang baik dari kalangan kita sendiri maupun yang datang dari pihak luar khususnya orang-orang yang tegar hati untuk tidak mau melihat ‘dunia kebaikan’, tidak mau mendengar pewartaan, tidak mau percaya kepada Yesus dan tidak mau bertobat.

Selain itu, ‘dunia’ itu nampak dalam diri orang yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi seperti yang dilakukan Pilatus. Ia mengorbankan Yesus yang seharusnya dibebaskan karena tidak bersalah, dan membebaskan Barabas yang seharusnya dihukum (Yoh.23).

Pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, kita diajak agar semakin beriman kepada-Nya. Hal itu hendaknya kita tidak hanya nyatakan lewat kegiatan-kegiatan rohani saja, tetapi juga lewat kesaksian hidup yang baik dan menarik. Allah Tritunggal mengajak kita sekalian agar menjalin persatuan baik di antara kita sendiri (keluarga, komunitas religius, Gereja) maupun dengan sesama kita yang berlainan agama, suku, budaya, status sosial dan bahasa.

Roh Kebenaran itu adalah Roh cinta  yang sempurna. Sebagai manusia kita tidak bisa menjadi sempurna  seperti Dia. Sekalipun demikian, berkat bantuan Roh kebenaran-Nya,  kita diajak untuk berjuang  ‘menjadi semakin lebih baik’: semakin setia berdoa; berusaha memiliki iman yang semakin dewasa dan tahu bersyukur kepada-Nya karena menyadari bahwa hanya oleh cinta-Nya, kita bisa hidup di dunia (Ams.8:22; Mzm.8:5-6; bdk.Kej.2:7); memandang tantangan atau penderitaan sebagai kesempatan untuk memperdalam iman dan cinta kita kepada-Nya dan kepada sesama (bdk.Rm.5:3-4); semakin menghayati cinta yang ikhlas dengan lebih rela untuk berkorban demi kepentingan sesama; berbuat baik tanpa membeda-bedakan dan tanpa mengharapkan balas jasa; berusaha untuk semakin jujur; berani mengakui kesalahan dan mau memperbaiknya; berinisiatip untuk berdialog dengan sesama untuk lebih saling mengenal,  mempercayai dan kerjasama; dan berusaha agar semakin setia dalam melaksanakan tugas pengabdian sampai akhir hidup.

Belajar dari  Yesus, hendaknya kita   juga berani dan bijaksana mewartakan ‘kebenaran Allah Tritunggal’ (Allah yang sempurna dan cinta-Nya)  dalam hidup harian kita lewat sikap, kata-kata dan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama kita. Hanya dengan demikian, semakin banyak orang yang akan tertarik untuk percaya kepada-Nya.

Sumber gambar: https://yehoshuayahwe.files.wordpress.com/2013/02/image.jpg