STOP BERDEBAT, CARILAH TITIK TEMU!

Romo Thoby, saya suka  sekali membaca Rubrik Konsultasi Keluarga dalam Majalah Warta FLOBAMORA. Sebagai seorang bapa keluarga, ketika membaca rubrik ini rasanya seperti melihat diri sendiri yang bermasalah. Saya bisa belajar dari pengalaman orang lain untuk berdisiplin diri dan  mengatur kehidupan rumah tangga dengan lebih baik dan bijaksana.

Terus-terang Romo,  saya tidak pernah alpa berdebat dengan pasanganku. Masalah sepele jadi besar dan ribut melulu, sampai anak-anak kami berteriak “Stop! Kami bosan”. Saya sangat membutuhkan pencerahan dari Romo, karena yakin pasti ada manfaatnya untuk kehidupan keluarga kami. Terima kasih Romo Thoby atas waktunya.

Wassalam

Daud

Pak Daud yang baik hati. Luar biasa!!! Saya  teringat akan kata seorang  bijak: “Semakin lama saya semakin menemukan diri saya tercermin dalam setiap orang yang saya jumpai sehari-hari dengan aneka masalah dan kelemahan manusiawi.”

Terkadang debat antara pasangan sebetulnya dapat dihindari, andaikata keduanya sadar diri atau paling tidak salah satunya sadar dan mengambil sikap diam penuh perhatian, bukan cuek. Dari pengalaman praktik  menjembatani perdebatan antara pasangan suami istri, karena beda pendapat atau salah pandang dan salah paham, lantaran tidak saling mendengarkan,  saya mempunyai kesan perdebatan atau pertengkaran itu sia-sia, bahkan menimbulkan penghalang dan bukannya menjembatani. Pak Daud, orang bijak mengatakan, “Jangan pernah berdebat dengan wanita yang marah, pemabuk atau orang yang fanatik agama.”

Pada suatu kesempatan berdebat akrab dan setengah gurau dengan seorang rekan mengenai soal sepele. Posisinya nampak jelas salah, namun dengan sangat agresif dia meneruskan perdebatan. Pada akhirnya saya sendiri tertawa dan mengatakan kepadanya, “Saya tidak dapat menanggapi Anda, tetapi saya yakin saya benar.” Perdebatan berakhir di sini.

Kalau kita menganalisis pengalaman Pak Daud dengan pasangan, apa hasilnya? Tidak ada. Pasangan Anda yakin bahwa dia benar; dan Pak Daud tidak senang dan mogok bicara. Jangan lupa, bahwa orang yang rendah harga dirinya selalu berupaya memenangkan perdebatan. Karena  takut  kehilangan identitas. Orang yang jati dirinya lemah, ingin selalu merasa benar. Orang semacam ini tidak dapat membedakan antara pendapat seseorang dengan diri seseorang. Baginya,“Menyerang pendapat saya berarti menyerang diri saya. Mengeritik pandangan saya berarti mengeritik diri saya.”

 

Kita kembali ke pengalaman Pak Daud. Anda berdua sepertinya kurang memiliki harga diri yang benar, dan masing-masing merasa harus memenangkan perdebatan itu. Orang yang mempunyai jati diri yang kuat dapat mendengarkan kritik tanpa merasa terancam. Mereka menilai kritik itu sebagai kurangnya pengetahuan ‘perbedaan’ atau hanya sikap yang kurang sopan. Reaksi apa yang tepat untuk orang yang suka berdebat? Ada beberapa pilihan positif berikut ini, jika situasinya memungkinkan, Anda cukup mendengarkan saja dan sesekali memberikan reaksi “Hmmmm…..hmmmm”.

Kalau pasangan Anda ingin memperpanjang perdebatan, maka tidak perlu membuat pembelaan. Mengapa? Karena pembelaan Anda yang bergelora tidak akan berguna  bagi pasangan. Cukup saja mengatakan dengan rendah hati, “Pandangan saya tidak persis sama dengan pandangan Anda, tetapi saya menghargai pendapat Anda.”

Menurut pendapat saya, kata-kata ini sudah cukup sebagai jawaban. Dengan cara semacam ini, Pak Daud sudah menempatkan posisi Anda dan perdebatan sengit selama ini tidak akan menghasilkan apa-apa, cuma Anda akan terjerat dalam dialog atau diskusi yang sia-sia. Perdebatan tidak menyelesaikan apa-apa. Untuk menyenangkan pasangan seratus persen, tidak mungkin. Oleh karena itu,

  • Bersikap lebih bijaksana dan penuh perhatian dalam mengungkapkan kasih sayang. Dan saran ini merupakan kebutuhan wanita pada umumnya, tetapi sebagian besar pria gagal mengungkapkannya.
  • Selain itu, “Dengarkan!” Dengarkan saja tanpa memberikan nasihat, tanpa membiarkan mata anda mengarah ke surat kabar atau televisi. Dengan cara macam ini, anda telah menunjukkan perhatian dan penghargaan pada pasangan anda.

Keluarga yang diliputi iklim semacam ini, akan tercipta komunikasi dan dialog yang baik. Ayah dan Ibu hendaknya menjadi guru dan pendidik yang baik dan benar dalam kata dan perbuatan. Anak-anak akan belajar menjadi orang baik dalam keluarga. Semoga berguna.***

Sudah dipublikasikan di Majalah Warta Flobamora edisi Maret 2017