Sisi Lain Dari Ratapan Dalam Peristiwa Kematian di NTT

Saya merumuskan judul tulisan ini dengan satu kesadaran bahwa semua orang tahu bahwa ratapan saat kematian terkait erat dengan rasa duka yang mendalam akan perpisahan sehingga ketika saya tidak menyinggung lagi aspek ini, pembaca memahami bahwa saya tidak sedang mengabaikannya. Selain itu, dorongan untuk membuat tulisan ini pun sebenarnya termotivasi oleh pengalaman perjumpaan dengan konteks masyarakat Jawa terkait dengan pemaknaan mereka terhadap peristiwa kematian.

Dalam konteks masyarakat Jawa umumnya, kematian dimaknai sebagai suatu pengalaman kehilangan yang perlu dilewati dengan kerelaan. Pada saat pemakaman orang menghindarkan dukacita yang histeris, tidak demonstratif dan lesu. Saat pelepasan, air mata bahkan tidak diperkenankan. Semua daya justru diarahkan untuk membereskan tugas, tidak untuk berlama-lama menikmati kesedihan. Tetek – bengek pekerjaan pemakaman yang menyibukkan segera diselesaikan. (Geertz: 2013, hal. 95-96 yang diterbitkan ulang oleh  Komunitas Bambu)

Keluarga yang meninggal segera dikuburkan. Ketentuan ini yang menjadi standar utama sehingga keluarga yang datang dari jauh terpaksa tunduk pada ketentuan ini. Di balik ketentuan ini ada satu kepercayaan bahwa jika orang yang meninggal tidak segera dikuburkan, rohnya akan bergentayangan ke mana-mana. Ikhlas, merelakan keadaan secara sadar, merupakan kata yang jadi pedoman hidup mereka. Walaupun sulit, hal ini senantiasa diusahakan orang.

Situasi ini tentu saja berbeda dengan konteks masyarakat NTT pada umumnya. Ratapan saat kematian adalah hal yang lumrah, tidak dilarang, bahkan menjadi indikator untuk mengukur relasi dan kedalaman cinta. Ketika oma saya meninggal dalam usia yang sudah cukup tua, keluarga merelakan kepergiannya dan kami para cucu ditegur oleh seorang ibu karena ia tidak menjumpai kami turut meratap. Lalu ibu yang menegur kami tadi mulai meratap. Konsep yang menjadi dasar teguran ini adalah kesadaran bahwa ratapan itu menjadi (1) ungkapan kedekatan relasi dan kedalaman cinta sehingga ketika ada orang yang tidak meratap, muncul pertanyaan besar tentang kedekatan relasi dan kedalaman cintanya. Dalam perspektif pemaknaan ini saya bisa mengerti makna teguran tadi saat dilontarkan.

Hal yang lebih unik lagi terjadi sekitar tahun 2003, saat berada di novisiat St. Yoseph Nenuk- Atambua, saya menyaksikan bagaimana sekelompok umat terpilih, meratapi seorang pastor yang meninggal dengan menggunakan teks ratapan di tangan. Sebelumnya mereka berlatih bersama cara meratap. Di dalam ratapan itu ada ungkapan, ada doa yang menyertainya. Ratapan dalam hal ini merupakan salah satu (2) produk budaya imaterial yang menjelma menjadi sebuah karya seni karena para peratap mesti menjaga harmoni dengan membidik nada secara tepat – di dalam ratapan itu terkandung kenangan, duka dan doa. Dan untuk bisa mengambil bagian dalam produk budaya ini, orang harus melewati suatu proses pembelajaran- learned.

Sebagai suatu hal yang dipelajari, tanpa sadar ratapan orang-orang tua saat peristiwa kematian menjadi satu (3) sharing budaya – yang secara langsung dan mudah dipelajari masyarakat umumnya sehingga tidak heran jika cara generasi muda (umumnya perempuan) meratap tidak jauh berbeda dengan cara orang-orang tuanya meratap. Proses enkulturasi berlangsung tanpa melewati banyak kesulitan.

Saat meratap ibu-ibu mulai berkisah, (4) biasanya mereka berkisah tentang peristiwa yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi dalam relasi dengan orang yang sudah meninggal. Umumnya mereka menggunakan narasi berbahasa daerah. Isi narasi itu bisa berubah sesuai dengan konteksnya, misalnya saat meratap ada anggota keluarga yang baru datang maka isi narasi itu diarahkan untuk menjelaskan pengalaman atau relasi dengan keluarga yang baru datang. Jadi, isi narasi itu sifatnya fleksibel dengan catatan bahwa ada pola utama yang tetap dijaga.

Ratapan juga menjelaskan tentang (5) presensi – bahwa seseorang hadir- ada- dan terlibat. Pada permulaan tahun 2013, saya melakukan riset di salah satu daerah di Flores Timur dan bertepatan dengan itu ada peristiwa kematian. Ibu-ibu yang datang membawa sarung dan kain untuk orang yang meninggal (biasanya dari pihak belake), sesaat sebelum masuk rumah duka mereka menyapa para tamu dengan nada suara yang ringan, tetapi saat tiba di pintu rumah, spontan mereka meratap dengan suara yang lantang diselingi cerita-cerita saat mereka berada bersama orang yang meninggal ketika ia masih hidup. Masyarakat yang sibuk mengurus pelbagai perlengkapan di belakang dapur perlahan-lahan bergerak ke depan rumah menyaksikan ratapan itu. Lalu beredarlah cerita “oh pihak belake sudah datang”. Tangisan itu memang tidak berlangsung lama, tetapi pesannya cukup kuat bahwa pihak belake hadir dan terlibat.

Tentu saja, uraian-uraian kecil ini perlu ditelurusi lebih jauh dalam sebuah riset yang lebih padu dan teliti karena uraian yang terbatas ini masih meninggalkan sekian banyak cela. Meskipun catatan ini masih sangat terbatas, saya ingin menyimpulkan bahwa reaksi terhadap peristiwa kematian di NTT diungkapkan lebih demonstratif dan ekpresif jika dibandingkan dengan  peristiwa kematian di Jawa. Reaksi masyarakat di Jawa cukup kuat mendapat pengaruh dari agama Islam, yang menentukan agar orang yang meninggal sesegera mungkin dikuburkan.

Herbert Blumer (Sosiolog asal Amerika) dalam gagasannya tentang relasi antara tindakan dan pemaknaan mengungkapkan bahwa pemaknaan manusia selalu disempurnakan dalam interaksi sosial (Blumer:1996, hal.2). Ratapan sebagai reaksi terhadap peristiwa kematian selalu terjadi dalam konteks relasi sosial karena ada kontak dan komunikasi yang kurang lebih terkait dengan beberapa hal berikut: 1), Ratapan  sebagai penanda relasi, 2), Ratapan bernilai estetik, 3) Ratapan sebagai satu sharing budaya, 4) Ratapan sebagai satu sharing informasi – dalam narasi  5) Ratapan sebagai penanda kehadiran – presensi.  (Bill Halan, Pimred WF, Staf Pengajar Ilmu Sosial Budaya Dasar  Univ. Ciputra Surabaya)

 

Sumber foto:https://pixabay.com/p-795647/?no_redirect

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *