Sepeda Dahlan (14/10/2016)

http://kabarmisionaris.com/sepeda-dahlan-14102016.html

http://kabarmisionaris.com/sepeda-dahlan-14102016.html

Siapa yang tidak kenal tokoh ini? Dahlan Iskan yang sukses membangun bisnis media- Jawa Pos dan pelbagai bisnis lain, pernah menjabat menteri pada masa kepemimpinan SBY, pernah juga digadang—gadang menjadi presiden, tetapi tetap tampil bersahaja.

Ia lahir di Magetan, dari keluarga yang sangat miskin, saking miskinnya keluarga ini hampir tidak peduli tanggal dan tahun lahir anak-anak, termasuk Dahlan.

Dahlan menyebut tanggal dan tahun lahirnya 17 Agustus 1951. Dahlan menyimpulkan tahun kelahiran ini ketika sang ayah menjelaskan bahwa waktu Dahlan merangkak, gunung kelud meletus (1951).

Untuk tanggal lahir, Dahlan memilih tanggal 17 Agustus biar lebih mudah diingat, apalagi bertepatan dengan HUT RI. Sebenarnya tanggal dan tahun kelahirannya pernah dicatat oleh kakaknya di sebuah lemari keluarga, tetapi karena harus membiayai ibu yang sakit, lemari itu dijual, dan hilang pula dokumentasi tentang tanggal dan tahun kelahiran Dahlan.

Saat dewasa, Dahlan punya satu cita-cita ketika ia pindah ke Kalimantan mengikuti kakaknya untuk kuliah di sana: ia ingin punya sepeda. Sepeda yang bisa ia kayuh sendiri. Semasa SMA ia tidak diperbolehkan sang ayah untuk meminjam sepeda temannya, “Kalau rusak dengan cara apa kita membayarnya?” Teman-teman Dahlan pun tidak mau membonceng Dahlan, sebab katanya orang yang tidak tahu membawa sepeda lebih berat ketika dibonceng ketimbang membonceng orang yang sudah tahu membawa sepeda.

Cita-cita untuk memiliki sepeda menjadi satu motivasi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Saat pindah ke Jakarta, Dahlan meniti karier sebagai wartawan dengan magang di LP3S. Karier berlanjut. Dahlan tunjukkan kemampuannya dengan kerja keras hingga pelbagai prestasi ia peroleh sampai pada puncak kariernya saat ini.  Pengalaman hidup yang keras menempa Dahlan dan ia mampu bertahan dan melewatinya dengan setia.

Rupanya Dahlan sadar bahwa sepeda itu ternyata punya filosofi sendiri, ‘orang tidak akan jatuh kalau ia tidak berhenti mengayuhnya.’

“Tuhan memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia: dari tempat kediamanNya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka” (Mzm 32: 13-15) (Bill Halan)