Sentuhan Tuhan di Ujung Duka

bahagia

Bacaan:  Luk 7:11-17

Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi. Selamat berjumpa lagi, semoga Anda selalu dilindungi Tuhan dan sukses dalam karya. Pada hari ini, injil Lukas bercerita tentang Yesus yang membangkitkan seorang pemuda di Nain. Untuk itu, saya memberi judul renungan kita, “Sentuhan di Ujung Duka.”

Untuk mendalami kisah injil ini saya ingin membagikan sebuah pengalaman pribadi.

Ketika baru pertama kali pindah dari desa ke kota, saya berhadapan dengan pekerjaan baru, dengan sistem kerja yang baru pula. Waktu itu, saya berkarya sebagai seorang guru. Jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja, lumayan jauh. Dengan demikian, setiap pagi saya harus mengendarai sepeda motor milik adikku untuk pergi mengajar.

Pada suatu hari, adikku menelpon bahwa tanggal untuk wisuda (di Kota Malang) hampir tiba dan sekolah tinggi menuntut agar setiap mahasiswa segera melunaskan keuangannya. Setelah membuat kalkulasi, ternyata tunggakan kuliah adikku, membengkak. Ibu di kampung, tidak bisa melunasi, mengingat ibu hanya menjadi petani sayur-sayuran. Setelah berbincang dengan adik, akhirnya kami memutuskan untuk menjual sepeda motor. Dengan demikian, saya pun siap untuk berjalan kaki saat harus pergi mengajar.

Keputusan dilaksanakan. Mulailah suatu perguatan baru. Minggu pertama saya masih bersemangat berjalan kaki ke sekolah. Namun, semangat untuk berjalan kaki perlahan memudar karena sengatan sinar matahari yang dahsyat. Saya mulai menggerutu, mengeluh, dan terkadang harus meneteskan air mata. Sering saya bertanya, “Apakah ini jalan penderitaanku? Kapan semua ini akan berakhir? Ataukah ini menjadi kutukan bagi saya?” Segala keluh kesah itu saya pasrahkan dalam doa.

Lalu, saya pun memutuskan untuk membeli sepeda motor sendiri. Rencana ini saya utarakan kepada teman kerja. Beliau menyarankan agar saya menabung di koperasi. Setelah itu, baru bisa pinjam dalam jumlah banyak dan saya pun mengikutinya. Selanjutnya, saya pun bisa membeli sepeda motor bekas, sesudah selama empat bulan, saya berjalan kaki. Dengan sepeda motor ini, segala pergerakan bisa saya atur secara cepat.

Para pencinta kabar misionaris yang terkasih. Campur tangan Tuhan sungguh besar. Saya menyadari situasi dalam hidup saya, lalu saya membawanya dalam doa. Di dalam doa itu saya pasrahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Ternyata, Tuhan menyentuh saya di ujung kedukaan. Sebuah kendaraan bekas siap melayani saya ke mana saja.

Kisah Injil hari ini,“Yesus membangkitkan seorang pemuda di Nain,” anak muda yang meninggal, diusung keluar dekat pintu gerbang kota. Ia adalah anak laki-laki dari seorang janda miskin. Ketika Yesus  melihat janda itu, tergeraklah hatinya oleh belaskasihan. Ia berkata “Jangan menangis.” Lalu Yesus menghampiri usungan itu lalu menyentuhnya dan berkata, ”Hai anak muda, aku berkata kepadamu bangkitlah.” Lalu anak muda itu pun bangun dan mulai berkata. Melihat hal itu, semua orang menjadi takjub dan bahkan ada yang berkata, “Seorang nabi besar telah datang.”

Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi. Kita tahu bahwa janda miskin itu mengalami suasana duka yang sangat mendalam. Ia berduka karena anak semata mayangnya meninggal. Kematian anak menjadi simbol kehilangan pegangan hidup. Si janda pasrah. Ia tidak berbuat apa-apa di hadapan kematian, kecuali meratap. Si janda berada pada posisi tanpa harapan.

Sentuhan Yesus di ujung duka mengubah segala kegalauan menjadi sebuah kegembiraan, mengubah segala ketidakpastian menjadi kepastian, mengubah kehampaan menjadi harapan. Pelajaran untuk kita, jangan pernah patah di tengah pergulatan hidup sebab Tuhan akan membuat sentuhan di ujung duka kehidupanmu. Pengalaman hidupku telah membuktikan, demikianlah juga pengalaman hidup si janda miskin. Oleh karena itu, percayalah bahwa Tuhan akan menyentuhmu di ujung duka.  Pada saat itulah, engkau akan merasa rahasia Tuhan dalam sejarah hidupmu. Amin. (Hans Asa)

sumber gambar: http://sidomi.com/wp-content/uploads/2015/01/bahagia.jpg