SEMUA LAKI-LAKI SAMA SAJA?

Oleh: Pater Thoby Muda Kraeng, SVD

 

Romo Thoby yang baik hati. Saya mengetahui Romo dari rekan kerja saya. Dia memberi saya  satu eksemplar Warta Flobamora untuk meyakinkan saya bahwa yang mengasuh rubrik konsultasi keluarga adalah Romo Thoby. Setelah membaca Warta Flobamora saya memberanikan diri untuk menulis kepada Romo. Siapa tahu bisa membantu saya.

Sampai sepuluh tahun pertama kami menikah, semuanya berjalan dengan baik. Tetapi dalam perjalanan selanjutnya, yaitu tiga tahun terakhir ini, bahtera perkawinan kami tertimpa  badai gara-gara hadirnya pihak ketiga. Suami saya punya simpanan,  selingkuhan atau Wanita Idaman Lain ( WIL). Saking sakit hatiku, saya memberondong dia dengan kata-kata yang tidak sopan terhadap suami. Saya lalu mengatakan kepada diri saya dan teman curhat saya bahwa ‘semua laki-laki itu sama saja!’.

Romo Thoby, apakah saya masih bisa membangun kepercayaan kepada suami saya, mengingat anak-anak kami? Kira-kira berapa persen saya percaya pada suami? Saya sudah kehilangan kepercayaan pada dia lantaran dia mengkhianati perkawinan kami. Dia sudah minta maaf  dan mengatakan mau bertobat, tapi kambuh lagi.  Saya menanti dengan penuh harapan, bisa mendapat pencerahan dari Romo. Terima kasih. Wassalam – Lucia

Lucia yang baik. Terima kasih atas kasus yang disampaikan kepada saya untuk dibawa ke hadapan pembaca Warta Flobamora. Saya sangat kagum akan keberanianmu mengungkapkan persoalan ini ke publik. Saya kira ada sekian banyak ibu yang bernasib sama. Karena itu, saya merasa berkewajiban untuk berpendapat lewat media komunikasi kesayangan kita, Warta Flobamora.

Terus-terang saya harus mengatakan bahwa kepercayaan yang telah dibangun saat pandangan pertama dan berlanjut sampai ke jenjang perkawinan adalah salah satu kunci keberhasilan dalam hidup berpasangan. Namun, bahtera keluarga Anda mengalami goncangan dengan hadirnya pihak ketiga sehingga robohnya bangunan “kepercayaan” satu sama lain sebagai suami istri. Saya sungguh memahami perasaan sakit hati dan ketidakpercayaan Lucia.

Ketika sang suami minta maaf, perasaan Lucia yang terluka mulai dipulihkan dan upaya membangun kepercayaan lagi kepada sang suami bersemi kembali. Namun dalam perjalanan waktu, pengalaman itu malah  terulang lagi. Saya cuma bertanya balik, “Apakah masih ada berkas kepercayaan yang tersisa di hati Anda?” Tentu masih tersisa di lubuk hati yang terdalam, akan tetapi kepercayaan yang telah dibangun sejak awal pertemuan itu boleh saya katakan sudah tidak utuh lagi, atau sudah “cacat!” Hal semacam ini yang sering menimbulkan perasaan curiga satu sama lain berkepanjangan, malah bisa seumur hidup. Untuk membangun kembali kepercayaan baru bukan hal gampang.

Menjaga kepercayaan satu sama lain sebagai pasangan suami istri sepanjang hidup, menuntut komitmen tanpa syarat. Kepercayaan hendaknya diupayakan dari waktu ke waktu secara sadar dan penuh tanggung jawab. Mengapa? Pernyataan Lucia sangat jelas – “demi anak-anak!” Itulah komitmen seorang ibu, yang tidak mau mengorbankan buah kandungannya dan nilai “keibuannya”.

Anak-anak sungguh membutuhkan hati seorang ibu dalam menjalankan fungsinya. Apakah sang suami juga sadar diri bahwa dia adalah seorang lelaki yang berhati bapa atau memiliki nilai “kebapaan” bagi anak-anaknya?  Dari sharing pengalaman beberapa ibu yang bernasib malang, mereka menyatakan bahwa laki-laki memang begitu. Semua laki-laki sama saja!

Pertanyaan Lucia tentang, “Kira-kira berapa persen saya percaya pada suami?” Saya hanya berpendapat ya Lucia. Seandainya saya berada di pihak Bu Lucia, saya akan berani mengatakan bahwa untuk percaya pada pasangan tentu bukan 100 % karena ini sangat berbahaya bahkan akan sangat menyakitkan hati andaikata kepercayaan saya pada pasanganku yang 100 % itu dikianati. Selain itu, dengan memberi kepercayaan 100 % kepada pasanganku telah menunjukkan secara tidak langsung bahwa saya telah memberi kebebasan penuh pada pasangan. Saya lepas tanggungjawab dan  kontrol sosial bagi pasangan.

Saya cuma berpendapat lain, bahwa percaya pada pasangan cukup 50 %. Yang sisanya, jangan percaya, dengan pertimbangan bahwa pasangan Anda bukan malaikat. Pasangan Anda adalah pasangan yang tidak sempurna. Ia masih butuh keterlibatan Anda dalam menata kehidupan yang lebih bermartabat, kalau dia mau. Andaikata dia tidak beritikad baik untuk membangun bersama “kepercayaan” antara kalian berdua, maka dia adalah orang yang tidak layak diberi kepercayaan. Apa yang mau diwariskan kepada anak-anak bagi hidupnya ke depan bila sikap dan perilaku suami dan ayah mereka seperti itu?

Bu Lucia yang baik. Tujuan saya bukan memberi amunisi bagi Anda untuk memperkuat semua cara yang ada dalam pikiran Anda agar pasangan Anda seharusnya berubah. Tujuan saya adalah memperbaiki hubungan Anda dengan pasangan Anda kalau dia mau memutuskan hubungan dengan pasangan instannya. Jangan lupa Bu Lucia. Tidak ada perkawinan yang sempurna. Tidak ada pasangan yang sempurna. Banyak orang berfantasi seperti apa seharusnya pasangan mereka. Memang fantasi yang menyenangkan, tetapi fantasi itu barangkali lebih banyak berdasarkan film-film romantis, buku-buku romantis, lagu-lagu cinta, pikiran yang penuh khayalan dan gejolak cinta pertama daripada realitas.

Berkaitan dengan kisah Bu Lucia, saya boleh mengutip apa yang dikatakan Grant Howard: “ Kita mempunyai gambaran tentang pasangan yang sempurna, tetapi kita menikahi pasangan yang tidak sempurna. Kita mempunyai dua pilihan. Robek gambar itu dan menerima orangnya, atau hancurkan orang itu dan menerima gambar tersebut.”

Apakah Anda masih menyimpan gambaran aneh dari pasangan yang sempurna di hati Anda? Coba Anda keluarkan gambar aneh itu dan bandingkan dengan pasangan Anda, maka Anda akan kecewa dengan apa yang Anda punyai. Hal ini sudah tentu bergantung pada kacamata yang Anda gunakan. Tidak semua laki-laki sama!  Bu Lucia, jadilah Cahaya bagi orang lain. Blessing from the Loving God for you and kids. ***

Pernah dipublikasikan di majalah warta Flobamora edisi Februari 2015

sumber foto untuk gambar utama: google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *