Sari Firman Minggu Biasa 21

Pater Leo Kleden SVD

Bacaan: Yoh. 6:60-69

Roti, Sabda, dan Pengakuan Iman

  1. Injil Yohanes bab 6 berpuncak dalam pewahyuan Diri Yesus sebagai Roti Hidup dan bahwa menyambut Tubuh-Darah-Nya adalah jaminan hidup abadi.
  2. Reaksi orang-orang Yahudi: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarnya?” Dan sejak saat itu banyak murid meninggalkan Yesus.
  3. Yesus lalu bertanya kepada ke-12 rasul: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Petrus menjawab: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Sabda-Mu adalah sabda hidup kekal. Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah “.
  4. Pengakuan Petrus ini tentang Sabda, padahal inti pewahyuan dalam Yoh 6 adalah tentang Roti Hidup. Bagaimanakah hubungan antara Sabda dan Roti?
  5. Hubungan itu dapat dirumuskan sebagai berikut: (a) Melalui roti, Sabda mendapat perwujudan nyata dalam amal kasih. (b) Melalui Sabda, roti santapan jasmani mendapat makna rohani. (c) Tanpa Sabda, roti hanya ampas dari bumi yang fana. (d) Tanpa roti-amal-kasih, sabda hanya sebuah ilusi, gaung suara tanpa isi.
  1. Dalam Perjamuan Tuhan yaitu Ekaristi kita merayakan Sabda dan Roti. “Dan Sabda menjadi daging dan tinggal di tengah kita.” Atau dalam konteks Yohanes 6 kita boleh pun mengatakan: “Dan Sabda menjadi Roti Hidup yang dianugerahkan kepada kita.”
  2. DOA  + Yesus Tuhan, Engkaulah Sabda yang menjelma jadi Roti Hidup abadi untuk kami. Semoga kami pun mewujudkan Firman-Mu dalam amal kasih yang nyata, agar diri kami Kauubah menjadi sepotong roti yang dipecahkan bagi sesama, tanda belaskasih-Mu bagi dunia + Amin

Salam kasih & doaku bersama St. Arnoldus Janssen dari Rumah Misi Steyl untukmu semua. Saudaramu, Leo Kleden SVD