Renungan Hari Sabtu (30/04/2016): Aku Rela Dibenci Demi Engkau

yesusOleh Baltazar Asa

Injil  Yoh 15:18-21

 

Pada tahap tertentu harus ada sebuah pengakuan bahwa dalam perjalanan hidup tidak mungkin kita dapat menyenangkan semua orang. Terkadang ada teman yang berpura-pura baik di hadapan kita, tetapi sebenarnya ia membenci kita. Apalagi ketika kita mengkritik tentang pekerjaan atau hal lain yang berkaitan dengan perilakunya yang salah. Reaksi yang timbul bisa berupa amarah, caci maki atau bahkan bertindak brutal dan merugikan kita. Sebaliknya, ketika kita bersaksi tentang kebenaran, ada pula yang menyindir kita dengan klaim-klaim positif yang bermakna negatif, misalnya orang ini layak disebut kudus.

Tentang reaksi orang lain ini, saya ingin berbagi sebuah pengalaman kepada saudara-saudari sekalian. Saya pernah bertugas di sebuah komunitas/lembaga. Pada awalnya semua kehidupan dari komunitas itu berjalan lancar. Tidak ada tanda-tanda percekcokkan di antara anggota komunitas itu sendiri. Hari demi hari kami lewati, tak terasa sudah enam bulan berlalu. Seiring dengan perkembangan waktu maka mulai muncul persoalan saling mengklaim kepemilikan. Siapa yang layak mengurus instansi tersebut?

Persoalan ini sungguh sangat menegangkan. Sebagai orang luar, kira-kira apa yang harus saya lakukan? Ada satu langkah yang saya ambil adalah berada di jalur tengah. Saya harus berusaha untuk meredakan dua kubu agar gesekan tidak semakin memanas. Namun, ada satu tantangan lanjutan adalah: mulai tersebar gosip yang kurang elegan tentang saya, bahwa saya tidak tegas. Pada tahap ini saya dibenci dan dipaksa untuk memilih salah satu kubu.

Dalam permenungan saya katakan bahwa saya harus berada di tengah-tengah. Tidak boleh berada pada salah satu kubu. Ketika saya memihak pada yang satu maka sudah pasti saya akan membuang yang lain. Hal ini bertentantangan dengan sikap dasar pemuridan Kristus, kehadiran saya harus membawa berkat bagi semua orang”. Situasi ini menjadi very stressing time untuk saya. Pada akhir dari pergulatan itu, saya tetap ambil sikap bahwa saya mengabdi untuk lembaga bukan untuk orang. Dengan demikian, posisi saya jelas, tidak memihak kepada salah satu kubu karena kehadiran harus membahagiakan semua orang dan merangkul semua orang sebagai saudara.  Sikap ini sejalan dengan sikap seorang murid Yesus.

Dalam kisah Injil, Sang Sabda, Yesus Kristus ingin meneguhkan kita dalam amanat perpisahannya. Ia mengatakan, jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia tentulah dunia mengasihi kamu sebagaimana miliknya. Tetapi bukan karena kamu dari dunia ini, melainkan aku telah memilih kamu dari dunia ini, sebab itulah dunia membenci kamu”. Selanjutnya Yesus menutupi amanatNya dengan sebuah penegasan bahwa setiap pengikutNya harus siap untuk berhadapan dengan situasi apapun dalam karya misi dan perutusan entah itu terjadi penolakan dan penerimaan setiap murid Kristus.

Saudara-saudari sekalian yang terkasih dalam kristus, mari kita merenungkan beberapa point penting penting dari sabda Yesus hari ini. Pertama  dunia dan kebencian. Tentu kita bertanya, mengapa Yesus berbeda dengan dunia? Dalam permenungan ini saya mengajak kita sekalian untuk memahami dunia sebagai situasi di mana energi negatif bekembang dan menjalar. Dengan demikian, yang terjadi dalam situasi ini adalah pertentangan antara satu dengan yang lain. Tidak ada terang untuk menerangi setiap orang, melainkan  yang ada justru suasana gelap gulita.

Kedua  Yesus dan misinya. Yesus hadir sebagai pembawa energi positif yang memberikan kedamaian, kekuatan dan keselamatan bagi dunia. Dia adalah terang yang memberi penerangan kepada semua orang  yang sedang berziarah di dunia ini. Perbedaan hakiki inilah yang membuat dunia menolak Yesus dan karya misiNya.  Dengan demikian, barangsiapa yang mengikuti Yesus dan mengambil bagian dalam karyaNya, bersiaplah untuk dibenci, sebagaimana pengalaman yang pernah kualami.

Dari kisah pribadi dan wejangan Tuhan dalam Injil hari ini ada hal penting yang patut kita ingat: untuk mengikuti Yesus orang harus berani menanggung kebencian.  Kita akan dibenci karena kita membawa cinta dan persaudaraan. Semangat ini sangat berbeda dengan semangat duniawi, saat di mana orang ingin untuk saling menghabisi dan musuh patut dibinasakan. Semangat murid Yesus adalah semangat untuk membawa perdamaian, semangat untuk menegakkan kebenaran, semangat untuk membangun persaudaraan. Terhadap semua hal ini kita harus siap untuk dibenci.

Semoga kita senantiasa belajar menjadi murid Yesus yang setia dalam setiap tugas dan perutusan. Salam dalam Sang Sabda.

sumber gambar:

http://2.bp.blogspot.com/–zfsFxy_uns/T-fZLBhJDRI/AAAAAAAAALU/7bSdE03pej4/s1600/i-hate-you-2.gif

http://suarakebenaran.org/wp-content/uploads/2014/01/Love-For-Jesus.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *