Renungan Hari Sabtu (16/04/2015): Masih Adakah yang Bersungut-Sungut?

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-sabtu-16042015-masih-adakah-yang-bersungut-sungut.html

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-sabtu-16042015-masih-adakah-yang-bersungut-sungut.html

Oleh: Baltazar Asa

Bacaan: Teks Injil Yohanes  6:60-69

Saya pernah tinggal dan hidup di beberapa komunitas yang berbeda-beda. Ada satu hal menarik adalah setiap kali pimpinan ataukah lembaga mengeluarkan kebijakan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan, aturan hidup, maka hampir sebagian besar anggota bersungut-sungut. Anehnya, mereka hanya sampai pada tahap bersungut-sungut. Tidak ada sebuah pernyataan yang tegas untuk menunjukkan di mana posisi mereka.

Menurut pengamatan saya, orang yang demikian akan selalu merasa tidak puas terhadap segala hal yang baru. Ia lebih suka pada suatu yang sudah ada dan tidak mau menerima pembaruan. Lebih unik lagi bahwa orang-orang seperti ini biasanya bermuka dua, di depan publik ia mengatakan setuju dengan semua kebijakan yang dikeluarkan, setelah itu baru besungut-sungut dan bahkan menjelek-jelekan nama orang lain.

Injil hari ini juga kurang lebih menceritakan hal yang sama. Setelah para murid mendengar kesaksian Yesus mengenai tubuhNya yang menjadi santapan kehidupan, para pengikutNya bersungut-sungut atau menggerutu. Hal yang melatarbelakangi adalah bahwa mereka tidak bisa menerima sabda Yesus tersebut. Mereka tidak hanya berhenti pada bersungut-sungut melainkan mereka juga pergi dan meninggalkan Yesus.

Dalam situasi ini, para murid ini termasuk orang-orang yang berani karena setelah mereka mendengar Sabda Yesus, mereka memutuskan untuk pergi. Status mereka jelas dan sikap mereka tegas. Mereka tidak mau mengikuti Yesus sebab perkataannya keras. Saudara sekalian dengan status yang jelas dalam sebuah masalah, kita tidak menimbulkan kegalauan pada diri sendiri dan orang lain.

Selain para murid, kini tiba giliran para rasul. Ketika Yesus bertanya” apakah kamu tidak mau pergi juga? Jawab Simon Petrus “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang kudus dari Allah.”

Dalam hal ini, status para rasul jelas dan tegas bahwa mereka tetap mengikuti Yesus. Dengan demikian,  tidak ada keraguan lagi di antara para rasul. Dengan status yang jelas, para rasul tidak menimbulkan kesangsian dalam kelompok tersebut. Dan sampai hari ini kita tahu bahwa para rasul (tidak termasuk abang Yudas Iskariot) tetap mengikut Yesus sampai akhir kehidupan mereka.

Bagaimana dengan kita? Apakah masih ada di antara kita yang masih suka bersungut-sungut, entah dalam kerja, entah dalam menjalankan kebijakan, entah dalam kehidupan rohani atau dalam kehidupan bermasyarakat? Jika masih ada tegurlah. Berikut beberapa hal penting yang bisa kita pelajari dari firman hari ini.

  1. Be Brave

Seturut kamus John. M. Echols : brave artinya berani. Dalam hal ini, mau ditegaskan bahwa orang harus berani mengatakan apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan kepada pihak lain. Ketika ia tidak berani untuk mengeluarkan kemauannya, idenya, maka perlahan ia menimbun segala gejolak dalam dirinya. Dengan demikian, akan ada efek lanjut bahwa ia terus menggerutu terhadap hal baru dan ada kecenderungan untuk menjadi emosional, cepat marah.

Menurut para pakar psikolog penimbunan masalah dalam diri akan berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Ayo…. Mau pilih yang mana ? Bermental berani atau mau terus bersungut-sungut? Jika terus bersungut-sungut maka sakitnya tuh di situ di dalam hatimu . . . ! Dan bisa-bisa peti mayat sudah siap menanti dirimu.

  1. Jangan pernah diam.

Dalam pelayaran kehidupan, ada berbagai hal yang tentu membuat perasaan kita tidak nyaman. Dalam situasi seperti ini, jangan pernah untuk terus berdiam diri. Ada kesempatan  untuk berdiam dan merenung ada pula kesempatan untuk bangkit dan menghadapi drama kehidupan itu lalu katakan sikap yang jelas terhadap masalah tersebut. Kita perlu belajar dari para rasul. Setelah mendengar perkataan Yesus, dengan gagah berani mereka putuskan untuk tetap mengikuti Yesus. Demikianlah juga para murid Yesus, merekapun pergi meninggalkan Yesus karena perkataanNya terlalu keras.

  1. Jangan pernah membenci yang lain.

Pada umumnya orang sangat takut akan perbedaan apalagi konsep “sosialis” masih berakar dalam kelompok tersebut. Contohnya ada orang yang berani untuk berkata jujur ketika ada masalah,  namun tantangan selanjutnya adalah orang tersebut mulai dibenci oleh yang lain. Hal ini terjadi pada orang-orang yang tidak sepaham dengan pimpinan.

Dalam injil hari ini, Yesus memberikan sebuah contoh yang baik bagi kita bahwa apapun pendapat atau status seseorang terhadap sebuah kebijakan, ia harus tetap dihormati karena itu adalah pilihan bebas. Kita tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti kebijakan yang kita keluarkan. Mari kita memahami dan mengakui kehendaknya. Jauhkan kebencian terhadapnya karena kebencian itu justru akan membuat jurang pemisah.

Saudara-saudari sekalian yang saya kasihi, janganlah terus bersungut-sungut dalam kehidupan tetapi nyatakan  status yang jelas,  anda mau memilih yang mana? Stop bersungut-sungut!

Sumber gambar:

http://3.bp.blogspot.com/-ZyOLupzYOw4/Tr6fgvZ1gGI/AAAAAAAAAeY/u6fQ76_Zm2s/s640/stop_complaining1.jpg

http://www.hidupkatolik.com/foto/bank/images/Akulah-roti-hidup.jpg