Renungan Hari Minggu (24 April 2016): Saling Mengasihi

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-24-april-2016-saling-mengasihi.html

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-24-april-2016-saling-mengasihi.html

Minggu Paskah V

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero 

Sebuah keluarga atau komunitas religius akan mengalami kebahagiaan dan bertahan di tengah pelbagai tantangan, apabila semua anggotanya saling mengasihi.

Penginjil Yohanes menampilkan salah satu ajaran Yesus yang amat penting, yaitu kesediaan untuk saling mengasihi di antara para murid-Nya. Mereka harus saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi mereka. Itu berarti seperti Yesus, mereka harus bersedia untuk berkorban sampai menyerahkan nyawa demi kebahagiaan dan keselamatan sesama (Yoh.15:13; bdk.Mrk.12:29-31; Mat.22:37-39). Dalam hal ini yang terpenting dan terutama adalah kebahagiaan sesama, bukan kenikmatan hidup atau kepentingan pribadi.

Ajaran Yesus tentang pentingnya saling mengasihi di antara para murid-Nya disampaikan-Nya pada malam perjamuan terakhir. Hal itu terjadi sesudah Ia mengambil inisiatif untuk membasuh kaki mereka. Dia yang adalah Tuhan dan Guru mereka, sudah memberi contoh bagaimana harus membasuh kaki. Karena itu mereka pun harus berinisiatif untuk saling membasuh kaki (Yoh.13:1-17). Itu berarti tanpa menunggu, mereka harus mulai membasuh kaki sesama.

Tindakan pembasuhan kaki memperlihatkan inisiatif dan kemauan untuk menjadi pelayan kecil yang melayani orang lain. Pelayanan  itu harus merupakan perwujudan kasih mereka seperti yang dikehendaki Yesus. Mereka harus melakukan hal itu tanpa membeda-bedakan orang (bdk.Kis.14:21-28) dan tanpa mengharapkan balas jasa dari orang-orang yang mereka layani. Kalau mereka harus melayani, mereka harus  bersedia  untuk berkorban demi orang-orang yang dilayani itu.

Lebih dari itu, kalau mereka saling mengasihi berarti mereka harus berinisiatif untuk mulai  memberi yang terbaik bagi sesama; mereka harus  memberi sampai habis, sampai tidak ada sisanya lagi  untuk diri mereka sendiri. Memberi dengan tulus hati sampai habis itulah yang mendatangkan kebahagiaan bagi sesama. Kalau mereka berbuat demikian, maka Yesus  akan mengganjari mereka baik selama mereka masih hidup maupun nanti sesudah mereka meninggal (bdk.Why.21:1-4). Dia mengetahui apa yang harus Ia lakukan bagi mereka yang sudah melaksanakan hukum kasih-Nya itu bagi orang-orang lain.

Menghayati  dan mewujudkan hukum kasih  dalam hidup harian  menjadi salah satu kekhasan utama  mereka sebagai murid-murid-Nya. Orang-orang lain yang belum atau tidak mengenal Allah akan tahu bahwa mereka adalah para murid-Nya, apabila mereka saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi mereka.

Hukum kasih-Nya itu mendorong mereka agar mereka mengutamakan kepentingan sesama atau bersama. Dengan demikian tidak ada orang yang cenderung untuk mengutamakan dirinya sendiri. Sifat egois bertentangan hukum kasih-Nya dan menjadi salah satu penyebab perselisihan dan ketidakharmonisan hidup bersama. Orang yang egois biasanya mengabaikan sesama termasuk yang menderita dan yang membutuhkan bantuannya. Orang egois  sulit sekali rela berkorban.

Hukum kasih yang diajarkan Yesus dimaksudkan agar para murid sadar bahwa untuk mewujudkannya tidak mudah. Hal itu disebabkan karena sebagai manusia biasa, mereka cenderung ingat diri dan mengabaikan yang lain. Karena itu, mereka diminta-Nya agar setia beriman pada-Nya, mempersatukan diri mereka dengan Dia sebagai pokok anggur yang benar. Mereka adalah ranting-rantingnya yang tidak bisa hidup dan berbuah apabila terpisah dari  Dia (Yoh.15:1-18).

Apabila mereka bersatu dengan Dia, mereka pun akan dibantu untuk menghayati dan mewujudkan hukum kasih-Nya itu. Sekalipun hal itu tidak mudah, namun mereka akan melaksanakannya dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab demi kebahagiaan sesamanya.

Seperti Yesus hidup dalam persatuan dengan Bapa yang dilandasi oleh kasih sejati, maka Ia pun menghendaki agar para murid pun bersatu dengan Dia dalam kasih sejati. Dalam persatuan seperti itu, para murid pun terdorong untuk saling mengasihi dan hidup dalam persatuan. Itulah dasar kekuatan dan keberhasilan para murid Yesus dalam melanjutkan karya perutusan Yesus. Mereka akan saling menolong dalam karya dan terbuka untuk saling bekerjasama.

Ajaran Yesus tentang pentingnya hukum kasih itu menantang kita. Dasar  perwujudan kasih bagi sesama adalah Yesus sendiri. Karena itu, kalau kita mau agar kita bisa menghayati dan mengungkapkan kasih itu dalam perbuatan-perbuatan baik bagi sesama, maka yang harus kita lakukan adalah belajar dari Dia sendiri. Itu berarti, kita diajak untuk berguru pada-Nya. Seperti Maria (Luk.10:39.42), kita pun hendaknya setia berdialog dengan Dia dalam doa.

Dengan bersikap tenang di hadapan-Nya, kita mau mendengarkan Dia berbicara kepada kita; apa yang Ia kehendaki kita harus lakukan. Dengan demikian, kita pun didorong untuk melakukan kehendak-Nya, dan bukan kehendak kita. Kita akan ditolong-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya itu.

Kuasa-Nya jauh melampaui kuasa kejahatan atau dunia kegelapan mana pun juga, termasuk sifat ingat diri kita sendiri. Kuasa-Nya itu juga akan menguatkan dan memampukan kita untuk setia dan bertanggung jawab dalam melakukan tugas-tugas pelayanan kita setiap hari.

Kuasa-Nya itu membuat kita merasakan peneguhan-Nya dan sukacita batin dalam  mewujudkan hukum kasih-Nya sekalipun realitas yang kita hadapi itu sulit. Kuasa-Nya juga  membuat membuat kita sadar bahwa tidak semua kebaikan yang kita lakukan ditanggapi  positif juga oleh orang-orang lain. Ada yang senang dan mendukung karya pelayanan kita, tetapi ada juga yang tidak senang dan memberi reaksi negatif.

Sekalipun demikian, kalau ‘kita dalam kerjasama dengan sesama yang memiliki kepedulian yang besar bagi kepentingan bersama’ sungguh-sungguh yakin bahwa yang kita lakukan sungguh-sungguh merupakan ungkapan kasih kita, maka mereka yang memberi reaksi negatif akan sadar bahwa kita berada di jalan yang benar. Suatu waktu, mereka akan berbalik dan  mendukung karya kita. Melaksanakan hukum kasih Yesus  membutuhkan ‘iman yang kuat, kesabaran dan kepribadian yang tangguh, yang tahan bantingan.’

‘Saling melayani’ tidak hanya sebatas ungkapan verbal tetapi harus dibuktikan dalam perbuatan. Tanpa perbuatan yang dilandasi oleh pengorban yang ikhas, orang sulit untuk percaya.

Sebuah rumah keluarga atau komunitas religius akan mengalami kebahagiaan  apabila semua anggotanya menghayati dan berusaha melaksanakan hukum kasih Yesus dengan bersedia berkorban. Penderitaan yang satu menjadi peluang bagi yang lain untuk segera membantu. Keberhasilan seseorang dalam karya menjadi sebuah kesempatan bagi yang lain untuk memberi penghargaan kepadanya. Tantangan dan kesulitan yang dihadapi diinformasikan kepada semua anggota supaya diketahui, lalu bersama-sama mencari jalan pemecahannya. Dalam hal ini, hukum kasih Yesus mendorong  kita untuk berinisiatif melibatkan diri kita dalam perjuangan bersama demi kepentingan bersama.

Saya pernah bertemu  dua anak pengemis, kakak-beradik dekat tempat tinggal saya beberapa tahun lalu di Christ the King Seminary, Manila. Yang kakak adalah seorang anak laki-laki, sedangkan yang  adik adalah seorang  perempuan. Ketika itu keduanya sedang mengais-ngais sampah, mereka menemukan sepotong roti yang rupanya masih baik dalam sebuah kotak. Yang adik minta supaya kakaknya membagi, tetapi yang kakak, setelah berpikir sejenak, memutuskan untuk memberikan seutuhnya kepadanya. Adiknya bertanya: “Engkau memberikan seutuhnya kepada saya, lalu engkau makan apa ?” Kakaknya menjawab: “Semuanya untukmu; sekalipun tidak ada sisa untuk saya, tetapi saya bergembira. Yang  penting engkau  bisa makan. Saya bergembira  melihat engkau bisa makan dan bergembira. Sekalipun saya tidak makan, tetapi saya jadi kuat karena kegembiraanmu.” Sambil menangis, yang adik memeluk kakaknya sebagai  ungkapan kebahagiaan dan terima kasihnya. Saya kemudian  memberkati keduanya. Dalam doa dan perayaan Ekaristi saya mendoakan keduanya.

Saya kagum menyaksikan  pengorban anak laki-laki itu.  Ia  memberi sampai habis. Ia menjadi kuat karena kegembiraan adiknya.  Saya juga kagum dan tertegun melihat adiknya sambil meneteskan air mata memeluk kakaknya sebagai ungkapan kebahagiaan dan terima kasihnya. Dia berbangga mempunyai kakak yang rela berkorban.

Saling mengasihi hanya bisa terjadi apabila kita terlebih dulu mengasihi sesama dengan mulai memberi perhatian, pelayanan, waktu, tenaga, pikiran dan seluruh diri kita bagi mereka. Mereka akan mengasihi kita apabila kita mulai mengasihi mereka. Kalau kita berbuat baik, mereka akan berlaku juga demikian; bahkan mungkin mereka akan  berbuat lebih baik  kepada kita. Kalau bukan mereka, maka  orang-orang lain akan berbuat baik kepada kita. Itu berarti Tuhan hadir dan berbuat baik kepada kita lewat mereka itu. Tuhan tidak akan menutup mata-Nya terhadap perbuatan kita termasuk kebaikan yang kita berikan kepada sesama.

DIA adalah kasih  (1Yoh.4:16b). Lewat wafat-Nya di salib, Yesus memperlihatkan bahwa Dia memberi sampai habis. Karena pengorbanan dan wafat-Nya itu, kita hidup dan memperoleh keselamatan. Dia  adalah  sumber kebahagiaan kita, namun yang tidak kelihatan secara fisik. Sekalipun demikian, DIA  bisa dirasakan kehadiran-Nya lewat kita yang setia saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi kita.  “Berbahagialah kita yang  hidup dalam suasana  saling mengasihi !”

Ledalero, Maumere, Flores, NTT

Sumber foto:

http://www.gpibyudea.org/userdata/renungan/8dc8e3093ea6e3f79e8700a8d1e905f1.jpg

http://analisadaily.com/assets/image/news/big/2016/01/paus-fransiskus-hapus-larangan-basuh-kaki-perempuan-207656-1.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *