Renungan Hari Minggu (17 April 2016): Hanya Dia, Tidak Ada yang Lain

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-17-april-2016-hanya-dia-tidak-ada-yang-lain.html

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-17-april-2016-hanya-dia-tidak-ada-yang-lain.html

Oleh P.Alfons Betan SVD

Dengan menyusui anaknya, seorang ibu memberi kehidupan kepada anaknya itu. Namun ibu itu tidak bisa memberikan kehidupan kekal kepadanya karena baik dia maupun anaknya sama-sama adalah makluk yang fana.

Penginjil Yohanes memberitakan bahwa hanya Yesus dan tidak ada pihak lain yang bisa memberikan kehidupan yang kekal bagi  manusia, khususnya bagi orang-orang yang setia beriman dan mengikuti-Nya (Yoh.10:27-30; bdk.Why.7:14-17). Hal itu disebabkan karena Dia, Bapa dan Roh Kudus (yang adalah Roh cinta Bapa dan Putera) adalah satu (Yoh.10:30). Dalam persatuan Ilahi itulah datangnya kehidupan bagi manusia. Dia  adalah asal segala yang ada termasuk kita manusia. Dia juga adalah tujuan akhir hidup dan perjuangan kita.

Dalam persatuan Ilahi itu ada kekuatan untuk menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada; dan segala yang diciptakan itu baik adanya (Kej.1:10). Segala yang baik berasal dari Tuhan Pencipta. Inisiatif untuk mencipta datang dari  DIA dan DIA mendambakan agar kita manusia ciptaan-Nya itu memperoleh kebahagiaan dan keselamatan.

Yesus yang adalah Putera Allah  datang ke dunia  untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya  menyelamatkan semua orang. Dialah Pewahyu Bapa yang paling sempurna (Yoh.1:18). Barang siapa melihat Dia, melihat Bapa-Nya (Yoh.14:9). Bapa-Nya yang mungkin  dipandang jauh dan tidak kelihatan sebetulnya sudah nampak dalam diri Putera-Nya itu.

Dia selalu  berada  dalam persatuan dengan Bapa-Nya. Itulah  yang membuat-Nya kuat dan berani serta mampu mengatasi semua tantangan yang Ia hadapi. Hidup dan karya-Nya semata-mata untuk kebahagiaan dan keselamatan semua orang khususnya orang-orang yang  setia beriman dan mengikuti-Nya. Ia mengenal mereka dan mereka pun mengenal-Nya (Yoh.10:14.27). Ada kasih yang  ikhlas yang Ia berikan dan mereka hidup oleh kasih-Nya itu.  Kehidupan yang Ia berikan itu bukan saja selama mereka berada di dunia tetapi berkelanjutan dalam Kerajaan Surga. Itulah kehidupan kekal.

Ia bersedia untuk berkorban sampai memberikan nyawa-Nya sendiri (Yoh.10:15). Dialah biji gandum yang harus jatuh ke dalam tanah dan mati, namun dengan mati-Nya itu, Ia menghasilkan banyak buah (Yoh.12:24). Dengan wafat-Nya di salib, Ia menyelamatkan semua orang yang beriman kepada-Nya. Peristiwa wafat Yesus di salib merupakan juga peristiwa pemuliaan-Nya oleh Bapa-Nya (Yoh.12:32) dan dengan itu Ia memberikan kehidupan sejati bagi para pengikut-Nya. Karena itu, kehidupan yang dimililki oleh manusia sungguh-sungguh amat berharga karena selain berasal dari Allah sendiri tetapi terutama diperoleh berkat pengorbanan dan wafat Yesus.

Persatuan dengan Bapa-Nya mendorong-Nya untuk menyadarkan para pengikut-Nya agar senantiasa memupuk persatuan dan persaudaraan di antara mereka (bdk.Kis.13:43). Mereka harus bersatu dengan Dia sebagai pokok anggur yang benar. Mereka hanya bisa hidup, kuat, bertahan di tengah pelbagai tantangan, berhasil dalam karya, dan memperoleh sukacita batin apabila mereka setia memelihara persatuan dengan Dia (Yoh.15:1-18).

Persatuan dengan Bapa-Nya itu juga mendorong-Nya untuk menyadarkan mereka bahwa kehidupan mereka di dunia ini fana, hanya sementara saja. Mereka akan mati dan beralih ke dunia lain, yaitu dunia yang dipersiapkan sendiri oleh Bapa-Nya. Namun untuk bisa memperoleh kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga atau Rumah Bapa (bdk.Yoh.14:1-3), mereka harus mengisi kehidupannya  di dunia ini dengan hal-hal yang baik.

Identitas sebagai pengikut-pengikut-Nya tidak otomatis membuat mereka masuk ke dalam Rumah Bapa. Identitas itu merupakan Rahmat tetapi juga tugas yang harus diwujudkan. ‘Mereka harus tampil beda’ mewujudkan identitas kekristenan itu dalam karya pelayanan untuk siapa saja  (bdk.Mat.5:43-48) dan tanpa pamrih (Mat.10:8). Mereka harus mencontohi Yesus yang mewujudkan kasih-Nya yang ikhlas sampai akhir hidup-Nya (Yoh.15:13).

Perwujudan identitas kekristenan mereka itu harus dimulai dengan  inisiatif  menjadi ‘kecil’ atau  ‘hamba’ yang  membasuh kaki atau melayani (Yoh.13:1-17). Kalau mau menjadi besar, terkemuka atau pemimpin, harus bersedia menjadi kecil dan pelayan (Mrk.10:45; Mat.20:28).

Dalam karya pelayanan-Nya, Yesus menyadarkan mereka bahwa persatuan dan persaudaraan yang dilandasi oleh kasih sejati merupakan kebajikan  amat penting demi terciptanya kebahagiaan dalam hidup bersama.  Mereka hendaknya mewujudkan hal ini. Untuk itu mereka harus memberi tempat yang istimewa  dalam hati mereka  bagi sesamanya tanpa membeda-bedakan. Itu berarti hal yang terpenting dan terutama adalah kepentingan, kebahagiaan atau kehidupan sesama, bukan kepentingan pribadi. Kalau mereka berbuat demikian, maka mereka akan memperoleh tempat yang istimewa dalam Rumah Bapa (bdk.Yoh.14:1-3).

Hanya Yesus yang berada dalam persatuan dengan Bapa dan Roh Kudus itulah yang bisa memberi kehidupan kekal. Karena itu seperti kepada para murid-Nya, kita pun disadarkan oleh Yesus bahwa kalau kita mau memperoleh kehidupan kekal, maka kita hendaknya mengisi kehidupan kita  di dunia ini dengan hal-hal baik. Kita  berusaha agar  selalu menjalin persatuan kita dengan Tuhan dalam doa, Ekaristi dan kegiatan-kegiatan rohani lain.

Persatuan kita dengan Dia harus juga diwujudkan dalam persatuan dan persaudaraan kita dengan sesama, mulai dalam keluarga atau komunitas kita. Kita  berusaha menyingkirkan unsur kemunafikan, karena banyak orang setia menjalin persatuannya dengan Tuhan, misalnya dengan setia berdoa, dan mengikuti pelbagai kegiatan rohani, namun tidak jarang justru mereka itu jugalah yang menjadi penyebab perpecahan atau perselisihan dalam keluarga, komunitas  dan masyarakat.

Dengan berbuat demikian, selain mereka menipu Tuhan dan mempermainkan-Nya mereka juga  ‘tidak memberi tempat yang layak di hati mereka bagi sesamanya.’ Apa yang mereka lakukan terhadap sesamanya itu mereka pun melakukannya untuk Yesus (Tuhan) sendiri (Mat.25:40.45).

Pemazmur mengungkapkan kekagumanannya atas cinta Tuhan yang begitu besar bagi kita manusia yang fana (Mzm.144:3-4; 103:15). Tuhan Pencipta itu amat menghargai kita dan kehidupan kita. Demi kehidupan kita, Yesus rela berkorban. Karena itu, kita hendaknya setia memelihara atau menjaga kehidupan kita dan kehidupan sesama.

Tidak bisa dibenarkan praktik pembunuhan  dalam bentuk apa pun. Kita mungkin tidak melakukan pembunuhan dengan menggunakan senjata tajam, senjata api dan alat-alat perang. Walaupun demikian, kita bisa mengiris-iris kehidupan sesama itu lewat kata-kata penghinaan, ejekan, sikap dan tindakan yang menyakitkan disertai dengan tidak adanya rasa bersalah dan kemauan untuk meminta maaf dan berdamai dengan dia.

Praktik Kekerasan dalam Rumah Tangga yang sering terjadi sebetulnya tidak hanya terjadi lewat kekerasan fisik / senjata tetapi juga lewat kata-kata dan sikap-sikap yang menyakitkan, yang menimbulkan ‘luka batin’, atau yang membuat anggota keluarga yang bersangkutan tidak menemukan kebahagiaan dalam hidup. Lalu muncul pertanyaan: “Apa gunanya membangun kehidupan bersama kalau  tidak ada tempat yang layak di hati bagi yang lain ???”

Persatuan dan persaudaraan memberi kekuatan untuk bertahan dalam aneka tantangan dan mendorong kita untuk terus berlangkah maju dalam perjuangan lewat cara-cara yang halal demi tercapainya tujuan bersama. Sebuah keluarga atau komunitas religius yang hidupnya dilandasi oleh cinta yang ikhlas baik terhadap Tuhan dan sesama akan terdorong untuk mewujudkan suasana persatuan dan persaudaraan.

Dalam situasi seperti itulah mereka akan dengan mudah mewujudkan kerjasama demi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Mereka akan berikap solider terhadap yang lain namun solidaritas itu bukan dalam hal-hal negatif tetapi dalam hal-hal positif.  Itu berarti ada kesediaan untuk saling menegur apabila ada kesalahan dan ada keterbukaan untuk menerima teguran.

Kita mohon bantuan  Bapa, Putera dan Roh Kudus yang hidup dalam satu persatuan yang dilandasi oleh cinta sejati itu agar membantu kita mewujudkan persatuan dan persaudaraan ini. DIA akan memberi kehidupan kekal kepada kita, apabila selama hidup kita di dunia ini, kita ‘memberi tempat yang layak di hati bagi yang lain.’

Hal itu berarti, misalnya kita setia bersatu dengan DIA setiap waktu, dan bukan melupakan-Nya; menjadi pembawa persatuan dan persaudaraan, dan bukan menjadi sumber percecokan atau perselisihan; berusaha untuk menampilkan  kerendahan  hati, dan bukan keangkuhan, lalu meremehkan sesama; rela memberi dan bukan menuntut untuk diberi;  mengampuni dan bukan menuntut supaya diampuni; memberi tempat yang istimewa bagi yang lain, dan bukan merampasnya; berkorban demi mereka, dan bukan mengorbankan mereka demi kepentingan pribadi; menghargai / melihara kehidupan sesama, dan bukan membinasakannya; berinisiatif untuk melayani dan bukan menunggu dilayani.

Di atas segala-galanya itu, hendaknya kita sadar bahwa kita adalah manusia yang fana, rapuh dan berdosa. Kita memohon pengampunan-Nya. Hanya Tuhan sajalah yang kekal, yang Mahakudus dan hanya DIAlah yang memberi kehidupan kekal (bdk.Kis.13:48; Yoh.10:28). Kepada Dia yang menjadi asal dan tujuan perjuangan hidup kita di dunia ini kita mendasarkan dan mengarahkan hidup kita. Berbagialah orang yang hidup dalam persatuan dengan DIA dan dengan sesama.

Ledalero, Maumere, Flores, NTT.

Sumber foto: http://www.godisreal.today/wp-content/uploads/2013/09/jesus-movie2.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *