Renungan Hari Minggu (03 Maret 2016): Berbahagialah karena Percaya

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-03-maret-2016-berbahagialah-karena-percaya.html

http://kabarmisionaris.com/renungan-hari-minggu-03-maret-2016-berbahagialah-karena-percaya.html

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Ada pelbagai cara untuk memperoleh kebahagiaan.  Di antara sekian banyak cara itu, salah satu daripadanya adalah dengan menampilkan atau mewujudkan kepercayaan sekalipun ‘yang dipercayai’ itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa.

Penginjil Yohanes menampilkan Thomas, salah seorang murid Yesus yang baru bisa percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh  telah bangkit apabila ia sudah melihat bukti, yaitu melihat bekas paku pada tangan Yesus, mencucukkan jarinya ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung Yesus (Yoh.20:25).

Reaksi Thomas itu muncul karena teman-temannya menceriterakan kepadanya bahwa mereka telah melihat Tuhan ketika Ia menampakkan diri-Nya kepada mereka setelah Ia bangkit dari alam maut (Yoh.20:25a).

Sesudah Yesus wafat di salib, para murid-Nya berada dalam ketakutan terhadap sesama bangsa Yahudi. Mereka takut dan cemas akan hidup mereka di masa depan. Mereka takut akan diperlakukan secara keji seperti mereka memperlakukan Yesus. Bagi para pemimpin Yahudi, siapa pun yang keluar dari keyahudiannya karena mengimani Yesus, dipandang sebagai orang murtad. Orang seperti itu harus dikucilkan dari masyarakat Yahudi  dan bila perlu dibunuh. Karena itu  para murid Yesus mengunci pintu-pintu dan jendela-jendela di tempat di mana mereka berada.

Dalam ketakutan itu, Yesus mengambil inisiatif untuk menampakkan diri-Nya kepada mereka. Ia bisa masuk ke dalam ruangan di mana mereka berada. Hal itu memperlihatkan bahwa Ia bisa  berada di mana saja dan kapan saja. Kuasa-Nya menembusi batas waktu dan ruang.

Penginjil Yohanes memberitakan bahwa Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan menyapa mereka: “Damai sejahtera bagi kamu.” (Yoh.20:19). Sesudah berkata demikian, Yesus  menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Mereka bersukacita karena mereka melihat-Nya.

Sapaan “Damai sejahtera bagi kamu” diulangi-Nya lagi (Yoh.20:21a) dengan maksud mau meneguhkan iman mereka (bdk.Why.1:17-18). Sesudah itu, Ia memberi kepercayaan  kepada mereka. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh.20:21b).

Ia yang telah mereka tinggalkan ketika Ia menderita dan wafat, kini mengambil inisiatif untuk mendatangi mereka, dan meneguhkan serta  mengutus mereka. Untuk tujuan itu, Ia memberi mereka Roh Kudus.

Dalam kisah penciptaan, Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam gundukan tanah yang sudah dibuat-Nya. Dengan  demikian gundukan tanah itu berubah menjadi manusia yang hidup (Kej.2:7). Dalam kisah penampakan ini, Yesus menghembusi para murid-Nya dengan nafas.  Hembusan-Nya memperlihatkan adanya Roh Kudus yang keluar dari dalam diri-Nya dan Roh itu masuk dan ‘menghidupi’ mereka (para murid); ‘memenuhi mereka’ dan menguatkan mereka agar bisa melaksanakan karya perutusan dengan setia. Ia juga memberi  mereka  kuasa untuk mengampuni dosa.

Jadi pada saat itu mereka berbahagia  selain karena telah mendengar suara Yesus, tetapi juga melihat-Nya, memperoleh anugerah Roh Kudus dan mendapat penugasan untuk menjadi penerus karya perutusan-Nya (cf.Kis.5:12-16).

Yang menarik adalah bahwa reaksi Tomas seperti yang ditulis dalam Yoh.20:15, ternyata diketahui Yesus.  Delapan hari kemudian Yesus datang menampakkan diri-Nya lagi kepada mereka, dan Tomas  hadir pada waktu itu.  Yesus menyapa mereka semua: “Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh.20:26). Sesudah itu Ia berkata kepada Tomas:  Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya, melainkan percayalah.” (Yoh.20:27).  Tomas pun langsung mengakui imannya: “Ya Tuhan-Ku dan Allah-Ku!” (Yoh.20:28). Yesus menghargai ungkapan imannya itu.

Dengan peristiwa itu, penginjil Yohanes mau memberitakan bahwa Yesus  yang bangkit adalah Tuhan atas kehidupan; alam maut sama sekali tidak menguasai-Nya. Dia adalah pemenang yang telah mengalahkan dunia kebencian, kuasa kegelapan, kejahatan dan kematian. Dengan penampakkan-Nya itu, Ia  mau mengajak mereka semua agar setia beriman dan setia mengikuti-Nya agar mereka pun bisa memperoleh kebangkitan dan kehidupan Ilahi.

Para murid  dan secara khusus Tomas, berbahagia karena Yesus berbicara secara pribadi dengan dia dan memperlihatkan bukti berupa bekas-bekas luka kepadanya. Ia berbahagia karena sudah melihat bukti, bahwa Yesus sungguh telah bangkit. Yesus menegaskan: “Karena engkau melihat Aku, maka engkau percaya, berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh.20:29).

Berdasarkan kata-kata Yesus kepada Tomas itu, maka saya bisa katakan bahwa sekalipun kita tidak melihat bukti seperti yang dialami Tomas, namun kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada Yesus yang bangkit, maka sebetulnya kita jauh lebih berbahagia daripada Tomas.

Dengan peristiwa penampakan Yesus kepada Tomas dan teman-temannya itu, penginjil Yohanes mengajak kita sekalian untuk menyadari bahwa salah satu aspek yang amat penting bagi ‘kebahagiaan’ kita atau ‘kehidupan dalam nama Tuhan’ (bdk.Yoh.20:31) adalah ‘percaya’ kepada Putera Allah yang bangkit itu  (Yoh.20:31; bdk.Yoh.1:12; 2:11.22-23; 3:16.18.36; 5:24.46; 11:25-27.45.48).

‘Percaya’ mengandaikan adanya relasi yang harmonis di antara kita; kita percaya bahwa orang yang menjalin relasi pribadi dengan kita itu punya cinta yang ikhlas dan kesediaan untuk berkorban. Ia adalah seorang yang jujur, bisa menerima dan memahami kita apa adanya, bisa bekerjasama, dan bersedia membantu.

Seorang gadis baru bisa berani berlangkah maju dalam  menjalin kasih dengan pemuda pujaannya dan seterusnya sampai pada pernikahan dengan pemuda itu, apabila pemuda itu sungguh-sungguh merupakan pribadi yang ia percayai bisa membahagiakannya.

Kalau kita percaya bahwa sesama termasuk orang-orang ‘dekat’ kita  punya keutamaan-keutamaan seperti tersebut di atas, apalagi Tuhan. Dia jauh lebih baik, kebaikan-Nya jauh melampaui kebaikan kita. Karena itulah, sebaiknya kita memupuk kepercayaan kita kepada-Nya dengan jalan menjalin relasi personal dengan Dia dari saat ke saat. Dia lebih mengenal kita daripada kita mengenal diri kita sendiri termasuk kekurangan dan masalah-masalah yang sedang kita hadapi (bdk.Mzm.139).

‘Percaya kepada-Nya’ berarti percaya juga bahwa Dia tahu segala-galanya termasuk yang kita pikirkan tentang Dia. Karena itu kita diajak untuk mengakui kerapuhan dan dosa-dosa kita. Kita memohon pengampunan-Nya karena sering kita bersikap / berlaku seperti Tomas. Kita mungkin meremehkan sesama karena kepercayaan (iman) mereka sekalipun yang mereka percayai itu sukar dibuktikan secara rational. Kita mungkin amat rational, dan kurang memperhatikan kehidupan batiniah sehingga tidak ada keseimbangan dalam hidup.

Kita percaya bahwa Yesus Tuhan yang bangkit itu tidak hanya datang menampakkan diri-Nya kepada Tomas dan teman-temannya, tetapi juga kepada kita lewat pengalaman hidup kita setiap hari, terutama di kala kita berada dalam ketakutan atau  kecemasan. Ia hadir meneguhkan kita dan membuat kita sadar bahwa kita tidak sendirian.Sebagaimana kuasa-Nya jauh lebih besar daripada kuasa setan, kejahatan dan kematian, maka Dia pun akan membantu kita mengatasi masalah-masalah kita.

Karena itu, berbahagialah kita, apabila kita tetap setia berada dalam kepercayaan kita kepada-Nya sekalipun kita tidak melihat-Nya secara fisik. Dalam iman, kita melihat-Nya dan Dia senantiasa hadir bersama kita (Mat.1:23; 18:20; 28:20). Bersama Dia kita terus berlangkah maju menjawabi hal-hal yang menantang.

Sebagai manusia, kita mendambakan kebahagiaan dalam hidup. Dalam iman akan  Kristus yang bangkit, kita hendaknya sadar bahwa kita akan berbahagia apabila kita tetap menjadikan Dia sebagai tokoh yang  kita percayai. Dengan itu juga kita terdorong untuk menjadi pribadi yang bisa ‘dipercayai’ orang lain. Hal itu hendaknya kita lakukan dalam sikap dan perbuatan-perbuatan baik.

Dalam menjalin relasi, ada suatu hal yang amat penting, yaitu ‘berusaha menjaga kepercayaan orang’. Sekali kita mengkhianati atau menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan orang, maka sukar sekali kita bisa dipercayai lagi.

Karena itu, mari kita memohon bantuan Yesus yang bangkit dari alam maut, tokoh yang kita percayai, agar bisa mewujudkan kebahagiaan bersama dengan jalan menjadi pribadi-pribadi yang bisa dipercayai.

Untuk itu hendaknya kita  menjalin relasi yang baik di antara kita, supaya ada suasana saling percaya-mempercayai di antara kita, dan kita berusaha menjaga kepercayaan itu. Dalam suasana percaya –mempercayai, kita bisa menjalin kerjasama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Itulah kebahagiaan kita.

Ledalero, Maumere, Flores, NTT

Sumber foto:

http://cdn.bisnisukm.com/2013/06/kurang-percaya-pada-karyawan.jpg

http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2015/09/28-Sept-Rm-Aloysius-2.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *