Rektorat SVD Ende-Lio Gelar Temu Para Pemangku Adat

dsc05622

Sekitar 60-an mosalaki mengikuti acara forum para pemangku adat (selanjutnya: mosalaki) yang digelar di paroki Hati Amat Kudus Yesus Wolowaru. Para mosalaki ini berasal dari lima paroki SVD di wilayah Ende Lio: Paroki Roh Kudus Detukeli, Paroki Kristus Raja Mukusaki, Paroki Kristus Raja Wolotolo, Paroki St Yoseph Onekore dan Paroki Hati Amat Kudus Yesus Wolowaru. Masing-masing paroki mengutus 10-15 mosalaki, pastor, frater, anggota DPP (dewan pastoral paroki), dan tamu undangan lainnya.

Temu mosalaki ini berlangsung selama dua hari, 10-11 Desember 2016 di bawah tema, “Mai Sai Kita Pu’u Uju, Wenggo Nua, Nena Ola, We Nua Mae Ngura, Keka Mae Nggera” (Marilah kita bersatu padu, mengatur kampung, menata dunia, agar kampung tidak hancur dan dunia tidak berantakan).

Rombongan diterima dengan sapaan dan tarian adat yang meriah pada hari Sabtu 10/12. Bapak Silvester Rapa selaku ketua panitia menyapa para peserta, “Miu mai dowa sea sawe, leja ina no’o wisia, kita mo gare pawe, keko jie, seso nemo molo-molo (kamu semua sudah datang, telah tiba, hari ini dan esok kita akan bicara bersama, melihat dengan jernih, menata kembali kehidupan secara baik),” sapa Bapak Silvester.

Para peserta kemudian dibekali dengan sebuah pendalaman materi yang dibawakan oleh Pater Adam Satu, SVD, seorang antropolog dan peneliti budaya. Pater Adam menjelaskan kembali peran mosalaki dalam karya misi SVD yang terjabar dalam tiga poin ini: Pertama, sebagai penjaga dan penunjuk jalan misionaris. Kedua, menyerahkan tanah-tanah untuk Gereja dan sekolah (ti’i iwa wiki, pati iwa lai), dan ketiga, menjaga persekutuan dengan berpegang teguh pada prinsip peradilan adalah “iwa tolo nia, kai ata sala du sala”(tak memandang muka, yang salah tetaplah salah).

“Ketika agama Katolik baru masuk di wilayah Ende Lio, mosalaki tidak menganggap para misionaris saingan, tetapi sebagai sahabat yang bekerja sama memikirkan nasib masyarakat lewat agama dan pendidikan,” kata pastor yang berdomisili di Ruteng itu.

Selanjutnya, semua mosalaki berkumpul upacara sere pane, yakni upacara memberi makan kepada mosalaki (pati ka mosalaki). Hanya dua hidangan disuguhkan, boge dan ndota. Boge adalah potongan daging dalam bentuk yang lebih besar, sementara ndota adalah daging yang dicincang. Keduanya melambangkan persekutuan dan keberagaman yang tak tercerai-berai.

Pater Leo Kleden, SVD, Provinsial SVD Ende hadir dalam kegiatan hari kedua, Minggu 11/12. Kegiatan diawali dengan perayaaan Ekaristi inkulturatif bersama. Dalam kotbahnya, Pater Leo menegaskan pentingnya pembaharuan diri dari hati untuk membangun kampung dan dunia, sekaligus ia mengucapkan terima kasih kepada mosalaki atas kerja sama yang telah terjalin baik antara mosalaki dan para misionaris SVD.

“Terima kasih kepada para mosalaki yang telah menunjuk jalan, memberikan tanah, menjadi pengajar dan penatua, yang sejak awal para misionaris tiba selalu mendukung karya misi Gereja.” Ujar pater Leo.

Setelah perayan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama yang dipandu oleh Pater Herman Sina, SVD dan Pater Charles Beraf, SVD. Diskusi lebih difokuskan pada fenomena perantauan yang terjadi di kalangan masyarakat Ende-Lio. Para peserta forum mosalaki dibagi ke dalam kelompok-kelompok dengan mendiskusikan dua pertanyaan penuntun ini; apa tanggapan mosalaki tentang perantauan dan apa peran mosalaki dalam karya pastoral Gereja.

img_0805

“Diskusi ini berjalan dengan sangat baik, tetapi belum banyak menyentuh pada dampak atau akibat perantauan dan mungkin ini menyimpan kerinduan dalam diri kita untuk mengadakan lagi pertemuan serupa di waktu mendatang.” Komentar Pater Herman dalam rangkuman akhir diskusi.

Kegiatan forum mosalaki ini ditutup dengan sebuah refleksi biblis yang dibawakan oleh rektor SVD Ende Lio, P. Nikomedes Mere, SVD. Dalam renungannya Pater Medes menekankan Gereja sebagai persekutuan tak tercerai-beraikan dan setiap kita yang telah dibaptis mengambil bagian dalam tritugas mulia Yesus; sebagai nabi, imam, dan raja.

“Kita mesti tetap sadar akan panggilan dan tugas mulia ini, tau wenggo nua, nena ola, we nua kita iwa do ngura, keka kita iwa do nggera.” Tandas Pater Medes.

Ide tentang digelarnya forum mosalaki ini muncul pertama kali dalam kapitel rektorat SVD Ende Lio pada awal Oktober 2015, dengan pertimbangan para mosalaki mempunyai peran penting untuk masyarakat lokal setempat (ana kalo fai walu). Dalam rencana, kegiatan temu mosalaki ini akan digelar lagi pada tahun 2018 di paroki Roh Kudus Detukeli.  (Rukhe A Woda, SVD,kontributor kabarmisionaris Ende-Lio)

Keterangan Foto:

  1. Upacara penerimaan mosalaki dari 5 paroki SVD di wilayah kevikepan Ende.
  2. Adam Satu SVD dan P. Herman Sina SVD dalam kegiatan diskusi tentang perantaun bersama para mosalaki.
  3. Provinsial SVD Ende, Pater Leo Kleden, bersama Pater Herman Sina SVD dalam sesi rangkuman diskusi pada forum mosalaki 2016.