Redion Voice: The New & The Memory

Pagi-pagi sebelum matahari terbit dari ufuk sebelah timur, Redion Voice membangunkanku untuk bergegas membuka pintu kamar dan jendela, menjulurkan kepala dan menyapa alam. Hidup memang harus diawali  dengan ucapan syukur.

Beberapa penjual sayur bergegas mengantar dagangannya ke pasar. Pria muda yang menikah tiga tahun lalu, saat ini sedang mengantar putri kesayangannya berjalan-jalan menyambut mentari pagi. Tak ketinggalan, beberapa pria yang memilih menjadi pemulung mulai menyeleksi barang-barang yang dianggap layak untuk diambil dari tumpukan sampah. Tidak jauh dari situ, ibu-ibu sudah siap menyeleksi barang-barang yang layak pakai untuk dijual kembali. “Hidup sudah bergerak dan tak berhenti bergerak sampai waktumu tiba. ”

“Be Mine…..remember your heart, Be Mine dont forget….be mine” (lagu ke-6), suara Romo Wilibaldus Gebo, O. Carm, terdengar seperti dipekikkan dari atas puncak karmel, masuk perlahan bersama cahaya mentari yang menembus cela pepohonan dan perlahan meresap dan menyerap aroma tanah. Langit menjadi lebih cerah, anak-anak sekolah bergegas ke sekolah, pergi untuk belajar. Kecupan orang tua pada dahi mereka, memberi pesan bahwa kemana pun kalian pergi, saat keluar dari rumah ini, ingatlah bahwa kalian anak-anakku, be mine. Di kampung halamanku orang tua memberi tanda salib pada dahi anak-anak, untuk mengingatkan mereka bahwa Tuan Deo (Deo berasal dari kata bahasa Latin Deus yang artinya Tuhan) menyertai mereka sebab mereka adalah milik Tuhan. Tanda salib itu menjadi meterai sekaligus menjadi satu pernyataan performatif “Be Mine! “Jadilah milikku” even “When You lost your faith (lagu ke-2)”

Setiap langkah, setiap karya yang dilakukan, apa pun itu, jangan ragu untuk dilakukan jika hal itu benar dan adil. Kini saatnya para pekerja menghidupkan mesin sepeda motor dan bergegas meninggalkan rumah. Satu di antara tetangga yang kukenal, baru kehilangan istrinya yang menderita sakit kanker. Biasanya istrinya mengecup tangannya sebelum ia berangkat ke tempat kerja, tetapi tidak untuk kali ini. Hati boleh hancur tetapi ada tangan yang secara perlahan membangun reruntuhan itu. “Ada yang hilang dan ditinggal pergi dan bersedih. Memang tak ada yang abadi. Selain kasih Tuhan. Kita bersaudara, bekerja, berdoa. Semoga di suatu titik kau bersatu bersamanya selama-lamanya.” (lagu ke-10)

Teman-teman Redion Voice saya ingin sekali memberikan album ini kepada pria yang sudah kehilangan istrinya ini, juga kepada mereka yang sudah kehilangan harapan, bagi mereka yang ingin membagi kasih bagi sesama, bagi mereka yang belum menemukan dan belum mampu menciptakan kedamaian: dalam diri, dalam keluarga, juga di tempat kerja mereka. Kepada mereka yang berniat untuk mengambil upah yang bukan menjadi jatahnya. Terima kasih untuk album Redion Voice: karya para biarawan ordo Karmel-Komisariat Indonesia Timur. (Bill Halan)

Bagi rekan-rekan di wilayah Surabaya-Jawa yang membutuhkan informasi tentang album ini hubungi no kontak/wa-Bill Halan-081233414757. Album Rohani Redion Voice berisi dua keping cd.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *