Pria itu Bernama Mohammad Yamin

http://kabarmisionaris.com/pria-itu-bernama-muhhamad-yamin.html

http://kabarmisionaris.com/pria-itu-bernama-muhhamad-yamin.html

Pria itu bernama Mohammad Yamin. Ia adalah salah satu aggota dalam rapat marathon yang digelar Sabtu sore hingga Ahad malam, 27-28 Oktober 1928. Yamin terlibat dalam urun rembuk bersama utusan dari Jong Java Jong Sumatranen Bond, Jong Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, dan lainnya.

Mahasiswa tahun pertama Rechts Hooge School (Perguruan Tinggi Hukum) ini, dalam usia 25 tahun diminta untuk meramu kesepatan tentang ikrar para pemuda yang ingin bersatu. Tak butuh waktu lama bagi Yamin untuk membuat rumusan itu. Kertas hasil rumusan itu ia serahkan ke Ketua Kongres, Soegondo Djojopoespoto, yang duduk di sebelahnya.

“Saya punya rumusan resolusi yang elegan,”kata Yamin sembari berbisik ke Soegondo. Sang ketua langsung membaca isinya. Tak lama, kemudian ia memandang Yamin. Yang dilihat membalas dengan senyuman. Tanpa komentar, Soegondo memparaf rancangan dari Yamin. Lalu ia teruskan carikan kertas itu ke Amir Sjarifuddin. Awalnya Amir sempat bingung. Dia pandang Soegondo dengan tatapan bertanya-taya. Soegondo kemudian menjawab dengan anggukan.

Amir pun memberikan paraf, setuju. Dua paraf itu diikuti dengan tanda setuju dari seluruh utusan organisasi pemuda. Awalnya, perjanjian itu tak bernama Sumpah Pemuda melainkan Ikrar Pemuda. Yamin mengubah kata ikrar menjadi sumpah.

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia

Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Kongres pemuda itu diawasi 24 jam oleh tentara Belanda, tetapi kehadiran mereka sama sekali tidak membuat para pemuda gentar, malah mereka makin kokoh karena kesatuan ini, tak ada lagi yang diangap sebagai orang asing, semua adalah satu keluarga. Persatuan ini menjadi seperti terang dalam kegelapan.

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah” (Ef, 2: 19) (Bill Halan)