Perjalanan, Tempat Tinggal dan Kerinduan

http://kabarmisionaris.com/perjalanan-tempat-tinggal-dan-kerinduan.html

http://kabarmisionaris.com/perjalanan-tempat-tinggal-dan-kerinduan.html

Dalam sejarah penaklukkan bangsa-bangsa, para sejarahwan membuat perbedaan antara orang Eropa dan orang Skandinavia. Orang Skandinavia pergi dan tinggalkan daerah mereka karena mereka sangat kekurangan ruang untuk hidup di negaranya dan bersedia menantang risiko untuk dapat hidup lebih layak dan pindah ke tempat yang lain.

Eropa, punya kerinduan untuk berbalik yang juga tidak kalah besarnya dengan keinginan untuk pergi. Penggerak utama mereka adalah keuntungan, bukan tempat tinggal. Sia-sialah pencarian kalau bukan penemuan tidak dibawa pulang. Mereka rindu untuk kembali bersatu dengan keluarga.

Tentang perjalanan, tempat tinggal dan kerinduan untuk kembali, Tuhan Yesus, ketika diingatkan orang Farisi bahwa Herodes mencarinya, Ia menjawab,

“Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalananKu, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. “

“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama sepeti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Luk 13:32-34)

Di Yerusalem, pusat keagamaan bangsa Yahudi, Yesus merindukan persatuan, penghargaan akan perbedaan dan bukan tempat pembantaian para nabi. Jika demikian, perjalanan pulang ke Yerusaem menjadi perjalanan yang menggembirakan.

Demikian pun dengan pusat-pusat keagamaan dan tempat-tempat ibadah saat ini. Orang rindu untuk pergi ke tempat ibadah dan pusat-pusat keagamaan karena di sana terjadi persatuan dan bukan menjadi tempat untuk menghakimi apalagi memecahbelah.  (Bill Halan)