Catatan untuk Kumpulan Puisi ‘Anak-Anak Ombak’

“Anak-Anak Ombak adalah judul untuk kumpulan puisi karya Apol Sukardi yang ia tulis sejak tahun 2005 sampai 2016. Bila diperhatikan tahun-tahun kelahiran puisi-puisi ini, pembaca dan penikmat sastra boleh menyimpulkan bahwa pada tahun 2005-2012, Apol Sukardi begitu bergairah menghasilkan puisi-puisinya. Gairah menulis puisi itu muncul lagi pada tahun 2015-2016, sesudah jedah pada tahun 2013 dan 2014.

Meskipun ditulis dalam rentang waktu yang berbeda, dengan jedah pada rentang tahun tertentu, puisi-puisi dalam buku “Anak-Anak Ombak” terhubung oleh satu anasir yang hadir cukup dominan dalam karya Apol Sukardi, yakni ‘air’: entah itu ‘air mata,’ ‘air hujan,’ ‘air laut’. Dan anasir ‘air’ yang digunakan ini menyimpan kenangan (memoria) terhadap pengalaman yang sudah terjadi (post factum).

Pengalaman dominan dalam buku “Anak-Anak Ombak” adalah pengalaman penderitaan yang umumnya terhubung dengan penggunakan anasir ‘air’. Air bisa memberi pesan atas apa saja tentang penderitaan. Misalnya dalam puisi berjudul ‘Perpisahan’ penyair menggunakan ‘air mata’ bersamaan dengan penegasan terhadap ‘jarak’. Jadi, derai air mata yang kian menjadi-jadi makin mempertegas jauhnya jarak. Jarak yang makin jauh pun mempertegas dalamnya penderitaan, terlebih ketika jarak yang dimaksud terhubung dengan dunia keabadian: “denting jam kematian telah memanggilmu’/ dari liang tanpa mayat.”

Penyair dalam buku “Anak-Anak Ombak” juga kagum pada air hujan yang datang dengan caranya yang istimewa. Kehadirannya membawa pesan, ketidakhadirannya pun membawa pesan, bergantung bagaimana si penyair meramunya. Dalam puisi berjudul, “Siapa di Langit”, tampak jelas kepiawaian sang penyair merumuskan rasa putus asa, ketika sosok yang ia harapkan justru tidak hadir. ‘Tak ada siapa-siapa di langit/ tak ada pintu terbuka/ musim telah menamatkan riwayat hujan’. Bagi seorang petani, tamatnya riwayat hujan menjadi malapetaka yang dahsyat dan sekian banyak litani duka akan keluar dari ‘seruling malam petani tua’.

Selain hujan, air laut menyimpan rahasia tersendiri. Laut di mata penyair, memiliki ‘memori’, ia merekam, ia mengingat. Jangan dilupakan bahwa bagi orang Yunani, memori adalah ibu dari sembilan dewi, namanya Mnemosin. Maka, memorilah induk dari segala seni. (Baez: 2015). Menghancurkan memori sama halnya dengan menghancurkan kesenian itu sendiri. Dalam sejarah peradaban dunia, buku sering dilihat sebagai media yang menjilid memori manusia. Untuk itu, jika ada kekuatan yang hendak menghancurkan peradaban tertentu, buku dibakar, dihancurkan dan hancur lebur pulalah memori tentang masa lalu. Dalam kumpulan puisi “Anak-Anak Ombak” memori itu diletakkan di dalam laut dan laut menyimpan semua kisah. Tak ada kekuasaan mana pun yang menghancurkan laut. Aku akan datang ke rumahmu/ membawa serta gelombang laut banda/yang mash membungkus cerita/ perkawinan kita/ di debur mimpi, akan kau lihat/ anak kita bermain memanggil ayah, ibunya/ yang telah dikawinkan laut.

Terhadap pengalaman penderitaan, sang penyair memang berusaha menyembunyikan rasa sakit dan duka itu dalam pilihan-pilihan kata yang sangat halus. Entahlah, mungkin sang penyair berikhtiar untuk tetap menyimpan pengalaman duka itu dalam batin tanpa harus memanen simpati dari banyak pihak, seperti yang saat ini sering terjadi di media sosial, ketika ada postingan tentang suatu pengalaman penderitaan, dalam sekejap postingan itu mendapat banjir simpati dengan aneka tulisan atau stiker.

Dengan tetap menyimpannya dalam batin, pengalaman penderitaan itu tetap tinggal dalam kesunyian, awet dalam keheningan. Puisi “Malam Terakhir” berusaha menjelaskan suasana ini. Dalam puisi ini, sang penyair tidak menyebut ‘maut’ yang membawa duka sebagai ‘musuh’ melainkan sebagai ‘warisan ibu’ yang ‘meminangmu pergi’. Kenangan tentang kematian itu hadir mula-mula saat ‘gerimis’ turun pada malam hari. Dan ternyata, gerimis yang turun, tidak saja membawa kenangan akan kematian, tetapi juga ‘tangis yang tak sempat mengucapkan duka’.

Berhadapan dengan pengalaman penderitaan, kumpulan puisi “Anak-Anak ombak” juga dengan berani memberi satu cara pandang baru. Dalam sajak berjudul “Ladang Kain” sang penyair menyingkapkan bahwa kenangan akan penderitaan, tidak saja terekam dalam benak manusia, alam pun menyimpan rasa duka itu. “Mengapa pelupuk pepohonan selalu berkaca?/ Ada yang dikenang sebagai luka/di ladang Kain/telah terbantai Abel/ atas nama dendam alam”.

 

Sang penyair menafsir bahwa pelupuk pepohonan jadi tampak berkaca disebabkan oleh kenangan akan pembunuhan Abel. Pada muara ini kita boleh berandai-andai, jika pelupuk pepohonan yang dimaksudkan adalah pelupuk pada pepohonan yang hadir sesudah melewati proses regenerasi maka kisah “Di ladang Kain” itu telah diperoleh pepohonan sebagai warisan kisah dari generasi-generasi sebelumnya. Betapa dahsyatnya kekuatan alam, jika alam pun memiliki kemampuan untuk mewariskan kisah akan pertumpahan darah yang pernah dilakoni anak manusia kepada saudaranya sendiri. Bukankah itu pertanda bahwa reaksi alam yang kadang-kadang tak bersahabat turut ditentukan oleh perilaku generasi pendahulu? Konsekuensi dari cara pandang seperti ini adalah bahwa reaksi alam pada generasi berikut turut ditentukan oleh sikap generasi sekarang.

Sajak-sajak dalam buku “Anak-anak ombak” secara umum memang bermuara pada tiga aras, (1) mengingatkan orang untuk tidak mudah melupakan pengalaman penderitaan yang pernah dialami dengan tujuan untuk (2) mengantisipasi agar penderitaan ini tidak terulang, dan seandainya pengalaman ini harus dialami lagi, (3) orang sudah siap menghadapinya dengan cara pandang yang berbeda. Untuk itu, warna khas dalam “Anak-anak ombak” menyentuh aspek-aspek ini.

Berkaitan dengan tiga aras tadi, saya ingin menjelaskan dengan menggunakan contoh pengalaman, bagaimana pentingnya kenangan, yang dapat membuat orang menjadi lebih arif dalam hidup. Bagi kebanyakan orang, senja di pinggir pantai adalah momen yang istimewa untuk dialbumkan dalam ponsel lalu disebarkan ke mana-mana melalui pelbagai saluran media. Namun, tidak banyak dari mereka yang ingat bahwa bagi orang lain, pengalaman menunggu senja yang lewat di pinggir pantai, ‘itu ibarat menjemput kembali luka bulan Desember’, saat gempa bumi dan tsunami dahsyat merenggut nyawa dan harta banyak keluarga ( gempa bumi Flores, tahun 1992). Dalam sajak “Luka lautan Luka di Hati”, sang penyair mengungkapkan bahwa ‘ombak-ombak’ yang saling menyahut pada senja hari itu, ‘menyebut lagi/ masa lalu, dengan sakit, dengan pahit.” Hingga senja tiba untuk kesekian kalinya di pinggir pantai, mereka yang namanya selalu disebut dalam doa tak pernah lagi kembali. Sajak berjudul “Luka lautan Luka di Hati” mengajak pembaca untuk tidak mudah mengabaikan ingatan akan pengalaman derita orang lain yang boleh jadi sedang berdiri di samping Anda.

Terus terang bahwa pembaca dan penikmat sastra tidak akan kesulitan menikmati puisi-puisi dalam buku “Anak-Anak Ombak” sebab tiap pesan dalam puisi dibungkus dalam narasi yang mudah dicerna. Sang penyair juga begitu lentur mengangkat tokoh-tokoh dalam kitab suci dalam narasi-narasi tersebut, khususnya tokoh-tokoh dalam kitab suci perjanjian lama untuk memberi makna terhadap setiap pengalaman. Memang terhadap setiap pengalaman, tiap orang ditantang untuk bereaksi, membuat keputusan, dan segera mengambil tindakan jika tidak ingin tenggelam. Dalam puisi berjudul “Anak-Anak Ombak’ sang penyair merenungkan bahwa tidak setiap tindakan lahir dari kematangan sikap, tetapi juga keragu-raguan. “Barangkali keraguanlah yang/ memberangkatkanmu merantau jauh/ ke negeri ombak/ tak ada senyum di bibir pantai/ selain riwayat tangis yang terucap/ perlahan.”

Negeri ombak, rujukan dalam puisi berjudul “Anak-Anak Ombak” tidak hanya dimengerti dalam batas kategori geografis tetapi juga ruang yang meliputi aspek sosial, budaya, religi, tempat si perantau ditenun untuk melihat seluruh pengalaman yang sudah berlalu dengan cara pandang yang lebih lengkap. Dan ‘anak–anak ombak’ adalah metafor yang digunakan untuk membahasakan ruang-ruang kepolosan yang harus dirawat seperti anak-anak ombak yang tak pernah tua. Kepolosan itulah yang memungkinkan manusia mengajukan sekian banyak pertanyaan tentang pengalaman yang ia alami. Kepolosan yang sama pun yang memungkinkan seorang anak manusia untuk mendengar suara ibu yang memanggil dari dunia seberang. “Setelah letih mengejar jejak-jejak angin/ Aku terdiam di genangan air mata ibu/ ‘Lekaslah pulang/ tanah itu menabung/ dendam yang purba.”

Pada tepi tiap sajak yang terkumpul dalam buku “Anak-Anak Ombak”, pembaca akan dijemput dengan pesan-pesan istimewa. Kadang pesan itu datang dengan santun, tetapi ada juga pesan yang datang seperti tamparan dan mengejutkan. Mengingat sang penyair, Apol Sukardy, memahami cara menyampaikan pesannya maka ia tahu cara menampar yang tepat dan terkadang saya merasa seperti ditampar oleh bunga mawar. Terkejut, tetapi saat mengetahui bahwa itu bunga mawar, amarah itu reda dan pesan yang aromanya semerbak itu kusimpan baik-baik dalam batin.  Selama menikmati (Naskah FX. Wigbertus Labi Halan, Foto Hengky Ola Sura )