Pelajaran dari Cafe Furore

http://kabarmisionaris.com/pelajaran-dari-cafe-furore.html

http://kabarmisionaris.com/pelajaran-dari-cafe-furore.html

Suatu ketika, seorang rekan mengajak saya ke salah satu kafe di jalan Jojoran Surabaya. Nama cafe itu Furore Cafe. Di bawah tulisan Furore Cafe ditambah lagi satu tulisan: Honest Cafe.

Cafe didesain menjadi tempat yang menyenangkan. Beberapa novel tertata rapi di salah satu sisi ruang cafe itu. Meja dan kursi klasik diletakkan dalam posisi membentuk lingkaran. Tidak ada asap rokok di ruang itu.

Kesan awal yang muncul di benak, cafe menjadi tempat bersantai sekaligus menjadi tempat untuk menambah pengetahuan. Dan itu benar.

Pengunjung cafe diizinkan, malah diajarkan juga bagaimana mencampur sendiri kopi sesuai pesanan. “Mau late? Mau espresso freeze? Mau flat white origin coffe?” Tidak hanya itu, dua anak muda yang menjamu kami malam itu dengan ramah membuka rahasia soal takaran, kualitas campuran yang bikin kopi jadi nikmat.

Rekan saya senyum-senyum sendiri, dan spontan mengajukan pertanyaan nakal, “Anda tidak kuatir jika kami membuka cafe sendiri dan menyajikan minuman seperti cafe ini?” Pria berambut pirang itu dengan santai menanggapi:

“Tuhan sudah mengatur rejeki masing-masing orang. Jadi kami tidak kuatir,” jawaban itu mengejutkan sebab banyak orang yang takut membuka rahasia tentang resep mereka. Dan jawaban itu ternyata berdampak. Teman saya langsung menyusun jadwal meeting dengan teman-temannya di tempat itu.

Ini pengalaman yang istimewa menyaksikan  orang lain membagi rahasia nikmatnya kopi, dan serentak ia mendapat tanggapan yang positif.

Saya teringat satu nasehat sederhana:  membagi informasi, membagi pengetahun, membagi pengalaman itu berbeda kadarnya dengan membagi barang. Ketika barang (kuantitas) dibagikan ke orang lain, pemilik akan kekurangan, tetapi informasi, pengatahuan dan pengalaman (kualitas) ketika dibagikan ke orang lain, sang pemilik tidak kehabisan malah ditambahkan pengetahuan, pengalaman dan informasi.

Orang-orang yang bersedia membagi kebaikan bagi orang lain itu ibarat “Pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan banyak buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm 1:3) (Bill Halan)