Pater Paul Budi Kleden, SVD: Anggota Dewan General SVD

http://kabarmisionaris.com/pater-paul-budi-kleden-svd-anggota-dewan-general-svd.html

Paul Budi Kleden SVD

Apa benar bahwa saat diminta ke Roma (menjelang pemilihan anggota dewan) Pater memang tidak pergi sebagai calon Anggota Dewan SVD? Jika ya, bagaimana Pater bisa terpilih menjadi anggota dewan general SVD saat itu (05 Juli 2012)?

Para kapitularis datang ke Roma sebagai peserta kapitel, bukan sebagai calon ini atau itu. Tidak ada ketentuan di dalam SVD bahwa setiap provinsi mesti mengajukan calon Superior General atau calon anggota dewan. Sebelum ke Roma, memang ada pembicaraan di antara para kapitularis dari Indonesia. Namun, ini bukanlah sesuatu yang diharuskan oleh konstitusi. Pada setiap kapitel general, semua anggota SVD yang memenuhi syarat yang tertulis dalam konstitusi, adalah calon. Kapitel tidak hanya boleh memilih pemimpin dari para kapitularis, tetapi bisa juga seorang anggota yang tidak hadir di dalam kapitel, tetapi dipandang mampu.

Saya mendapat kesan, bahwa setelah satu periode kepemimpinan tanpa seorang anggota dari Indonesia di Dewan General (2006-2012), para kapitularis tampaknya menghendaki agar seorang dari negara yang menjadi asal dari 25% anggota SVD, menjadi juga anggota dewan. Tentu saja, hal ini tidak merupakan keharusan karena tidak ditetapkan dalam konstitusi SVD. Saya menduga, saya dipilih karena dari para kapitularis asal Indonesia saat itu, agaknya saya yang paling gampang “diambil” tanpa menyebabkan kesulitan terlalu besar di tempat tugas sebelumnya. Sebab, para peserta yang lain adalah provinsial atau rektor universitas atau pemimpin lembaga-lembaga yang penting bagi provinsi.

Apa tugas utama seorang Anggota Dewan General SVD?

Tugas utama seorang Anggota Dewan General SVD adalah membantu Pater Superior General dalam menjalankan tiga tugas utamanya: menganimasi para anggota SVD untuk tetap memiliki komitmen yang teguh sebagai anggota Serikat; mengkoordinasi karya serikat di semua provinsi agar bersama-sama mewujudkan visi serikat; menjalankan administrasi serikat sesuai dengan aturan serikat dan Gereja.

Ketiga tugas ini sama-sama penting. Kami menjalankan tugas-tugas ini melalui: membaca dan menanggapi surat-surat yang masuk, menghadiri pertemuan anggota dewan dua kali seminggu, memberikan input pada kursus-kursus yang diselenggarakan Serikat, mengikuti pertemuan-pertemuan dengan serikat-serikat lain dan lembaga-lembaga Vatikan terkait, membuat visitasi general serta kunjungan-kunjungan khusus.

Pater sering mengadakan visitasi, berapa negara yang sudah pater kunjungi?

Sejak menjadi anggota dewan general di Roma, saya sudah mengunjungi 18 negara. Sebagian besar di antara dalam rangka visitasi general, yang lain untuk urusan khusus.

Sejauh ini, tempat mana (yang pater kunjungi) meninggalkan kesan cukup mendalam? Mengapa?

Semua tempat mempunyai keistimewaan, karena selalu ada situasi khusus dan para anggota yang istimewa. Kendati demikian, kunjungan yang amat membekas dalam diri saya adalah kunjungan ke Liberia pada akhir 2013.

Saya ke Liberia ketika SVD belum mulai bekerja di sana. Pada saat itu uskup dari Cape Palmas di Liberia sudah mengirim undangan kepada SVD untuk membuka misi di sana. Ketika membuat visitasi di provinsi Ghana, saya diminta oleh Superior General untuk juga ke Liberia guna melihat dari dekat situasi di sana dan memberikan masukan kepada Dewan General bagaimana mesti menyikapi undangan Bapa Uskup. Pada saat saya ke sana, Liberia memang sudah 10 tahun mengalami damai setelah perang saudara selama 14 tahun. Namun, di mana-mana masih terlihat bekas perang: gedung pemerintah yang terbakar, sekolah yang ditinggalkan, gereja dan kapela yang tidak dirawat. Pasukan perdamaian PBB terlihat di mana-mana. Lebih dari itu, wajah sebagian besar penduduk yang menunjukkan trauma yang masih mereka pikul.

Keuskupan Cape Palmas (salah satu dari tiga keuskupan di Liberia) hanya mempunyai lima pastor projo. Para pastor biarawan dan para Suster misionaris meninggalkan wilayah ini selama masa perang dan tidak kembali lagi. Di wilayah paroki yang ditawarkan Uskup untuk ditangani SVD, ada sebuah penampungan para pengungsi dari Pantai Gading. Pada akhir 2013 ada sekitar 30.000 orang ada di sana, ditangani oleh UNHCR. Selain umat paroki, para pengungsi ini pun membutuhkan perhatian pastoral. Setelah pulang, Dewan General memutuskan untuk mengabulkan permintaan uskup dan mengirim para misionaris ke sana.

 

Dari pengalaman visitasi, apakah visitasi atau kunjungan itu masih perlu dilakukan, ketika teknologi informasi sudah begitu canggih dan menjangkau siapa saja?

Ya, visitasi tetap perlu karena apa yang terjadi dalam visitasi tidak dapat tersalurkan hanya melalui teknologi informasi. Melalui teknologi kami bisa memperoleh informasi, namun dengan mengadakan kunjungan, kami mendapatkan pengalaman: pengalaman hadir dan merasakan kegembiraan dan tantangan yang dihadapi seorang sama saudara, pengalaman kegembiraan seorang sama saudara karena dikunjungi dan didengarkan oleh pimpinannya. Banyak hal dapat dipahami secara lain setelah mengadakan kunjungan.

Berapa total jumlah anggota SVD saat ini (pastor, Bruder, Frater)? Dan negara mana penghasil anggota SVD terbanyak?

Pada saat ini (8 Oktober 2016), jumlah yang tercatat pada data base di Generalat Roma adalah 5915. Ini karena beberapa provinsi seperti dari Indonesia belum memasukkan jumlah novisnya. Kalau semua data sudah masuk, bisa sedikit di atas 6000. Dari jumlah di atas ada 49 uskup (547 bruder berkaul kekal; 84 bruder berkaul sementara; 37 bruder novis; 55 frater berkaul kekal; 295 novis calon imam; 11 di antaranya sudah pensiun), dan sisanya diakon dan imam. Indonesia merupakan negara asal 1567 anggota SVD. Ini kelompok terbesar dari segi nasionalitas.

Bagaimana tanggapan umum umat, tempat para misionaris SVD asal Indonesia bekerja? Dan hal-hal mana yang memang menjadi kekhasan gaya bermisi para misionaris SVD asal Indonesia?

Umumnya umat amat menghargai karya para misionaris Indonesia. Kerendahan hati, kerelaan untuk mengunjungi umat dan kegembiraan adalah kekayaan yang dimiliki para misionaris dari Indonesia. Ada pula kesan tentang administrasi paroki yang relatif baik. Gaya berpastoral masih cukup tradisional. Keberanian mengambil inisiatif perlu ditingkatkan. Kemampuan berbahasa bervariasi, ada yang baik sekali, ada yang kurang.

Ketika cukup banyak paroki, tempat para misionaris SVD berkarya saat ini diserahkan ke keuskupan untuk dikelola oleh imam projo, karya kategorial mana yang giat dikembangkan SVD saat ini?

SVD memiliki empat matra khas, dan inilah yang didorong untuk dikembangkan: kerasulan Kitab Suci, JPIC, komunikasi dan animasi misi. Selain itu, pendidikan pun dikembangkan di beberapa negara seperti di India.

Apakah peran SVD awam cukup diperhitungkan di generalat? Seperti apa pihak generalat membicarakan program khusus untuk membangun kinerja dengan SVD awam?

Ya, amat diperhitungkan. Kapitel General ke-17 berbicara secara cukup banyak tentang para awam, dan untuk pertama kalinya utusan awam diundang hadir pada kapitel itu selama beberapa hari.

Di beberapa provinsi sudah terbentuk asosiasi awam SVD yang mempunyai statuta sendiri, seperti SOVERDIA di provinsi Jawa. Beberapa bulan lalu diterbitkan secara elektronik buletin awam SVD. Tahun depan akan diselenggarakan sebuah workshop bagi para awam SVD yang akan berlangsung di Nemi, Roma. Di banyak provinsi, utusan awam selalu diundang hadir dalam kapitel provinsi, tentu tanpa hak pilih.

Apa isu besar yang sedang ditanggapi SVD saat ini? Apa ada program khusus yang sedang digarap untuk menanggapi isu besar itu?

Saya melihat ada empat isu besar yang dihadapi SVD saat ini. Yang pertama adalah hidup dan misi lintas budaya, yang merupakan tema besar dari kapitel umum terakhir pada tahun 2012. Dalam konteks dunia dewasa ini di mana interaksi antarwarga dari berbagai latar belakang semakin intens tetapi juga semakin bermasalah, para anggota SVD ditantang untuk sungguh-sungguh menghidupi persekutuan lintas-budaya. Artinya, Artinya, sejatinya kami tidak menjadikan perbedaan kebudayaan dan suku sebagai biang perpecahan di antara kami.

Untuk itu, sejak kapitel terakhir, semua provinsi diharuskan untuk merancang kegiatan-kegiatan yang membantu memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan anggota untuk hidup dan bekerja lintas budaya. Sudah dua kali diadakan workshop di Roma tentang tema ini. Yang terakhir secara khusus berbicara mengenai bagaimana mengatasi konflik lintas budaya.

Yang kedua, sebagai bagian dari Gereja dan masyarakat internasional, SVD juga melihat masalah perantau dan pengungsi sebagai tantangan besar yang harus dihadapi. Sebagai misionaris kami adalah perantau. Sebab itu, mestinya kami memiliki pengalaman dan kemampuan untuk membantu Gereja-gereja lokal menghadapi masalah ini. Kami bersyukur bahwa beberapa komunitas SVD di Eropa sudah membuka pintu rumah mereka untuk berbagi ruang dengan para pengungsi. Di Sankt Augustin, Jerman, ada sekitar 100 orang pengungsi. Hal seperti ini sudah dibuat lebih dari 25 tahun di Sank Gabriel, Austria. Sekarang, makin banyak komunitas ikut contoh yang sama. Kami juga menjalin kerjasama dengan JRS (Jesuit Refugees Services) untuk melatih para anggota SVD supaya mempunyai pengalaman dalam menghadapi arus pengungsi.

Selain membuka rumah dan menyediakan tempat, soal lain yang harus dihadapi adalah bagaimana mengatasi pandangan negatif orang, secara khusus di Eropa, yang hanya melihat dalam arus para pengungsi bahaya Islamisasi Eropa. Sebagai misionaris kami ditantang untuk meyakinkan orang bahwa menolong orang yang berkesusahan adalah keharusan imani. Islamisasi adalah semacam “phobia” yang diciptakan orang-orang yang nasionalismenya tidak sehat. Mereka sebenarnya benci orang asing. Dengan mengaitkan masalah pengungsi dengan persoalan agama, mereka mengharapkan mendapatkan banyak dukungan. Dan kasihan, banyak orang, termasuk para pejabat Gereja, terjebak dalam jerat ini.

Yang ketiga adalah bagaimana menganimasi provinsi-provinsi agar melaksanakan dengan konsekuen rencana aksi yang diputuskan dalam kapitel umum ke-17. Provinsi-provinsi menentukan beberapa prioritas dan membuat rencana aksi. Cukup sering saya mendapat kesan, rencana aksi ini belum dilaksanakan dengan baik.

Yang terakhir adalah soal panggilan dan pendidikan para calon dan anggota muda SVD. Tahun ini, untuk seluruh Eropa hanya ada satu novis, dari Jerman. Di Amerika Latin ada tiga. Memang semakin sulit mendapatkan panggilan di wilayah-wilayah ini. Tentu ada banyak alasan. Namun, sebagai sebuah serikat internasional kami harus terus mencari jalan untuk mendapatkan panggilan serentak melibatkan lebih banyak awam supaya pengaruh dan sumbangan dari wilayah-wilayah yang mengalami penurunan panggilan tidak hilang.

Tentang pendidikan para calon dan anggota muda, kami melihat bahwa formasi harus terus dibenahi sehingga menyiapkan orang-orang yang berpikir dan berketrampilan sebagai misionaris inter gentes, artinya misionaris yang sungguh sanggup berada dan bekerja di tengah umat dan masyarakat, khususnya mereka yang terpinggirkan. Tantangan terutama dihadapi dalam pendidikan para calon imam, karena terkikis klerikalisme yang menempatkan imam di atas segalanya, menjauhkannya dari umat. Formasi SVD adalah formasi untuk misi. Sebab itu, orang harus selalu berani ambil inisiatif untuk mendekatkan diri dengan orang-orang miskin dan berkomitmen untuk membela mereka.

Di banyak tempat kami masih menghadapi kenyataan bahwa para misionaris terlalu mudah menempatkan diri sebagai dan sejajar dengan para penguasa dan karena itu kehilangan kepekaan untuk membela orang-orang miskin. Dan kami yakin, hal seperti ini hanya dapat diatasi apabila kami terus mengevaluasi program formasi kami. Kapitel berikut akan berkonsentrasi pada pembaruan spiritual dalam arti kata yang paling dasar, yakni pembaruan sikap dan semangat dasar, orientasi utama dalam hidup. Spiritualitas bukan hanya soal berdoa dan bermeditasi, tetapi adalah sikap dasar orang terhadap diri, sesama dan alam semesta dalam relasinya dengan Tuhan. Dan pembaruan ini hendak kami galakkan sambil memperhatikan apa yang perlu dilakukan dalam formasi dasar supaya sikap dasar ini terbentuk dan terpelihara.

Jika pada pemilihan Anggota Dewan General SVD berikut, Pater tidak lagi terpilih menjadi Anggota Dewan, apa pilihan Pater?  Kembali ke Ledalero untuk mengajar? Atau ada pilihan lain?

Perpindahan saya dari Ledalero ke Roma adalah pengalaman paling dalam bagi saya untuk menghayati apa artinya menjadi anggota sebuah serikat religius. Waktu itu saya mempunyai banyak rencana, mau tulis buku tentang ini, mau tawarkan kuliah itu, dan dalami tema-tema tertentu. Namun, ketika membersihkan kamar saya, waktu saya harus membawa buku-buku dari kamar ke perpustakaan Ledalero, saya merasa amat berat, karena berbagai rencana itu masih ditangguhkan dulu, demi kepentingan serikat. Ya, moment memindahkan buku-buku itu adalah saat yang sulit. Waktu itu saya membuat saya sungguh menyadari, bahwa saya boleh dan harus punya rencana untuk kerja saya, tetapi sebagai anggota serikat saya harus tetap terbuka terhadap apa yang menjadi kebutuhan serikat. Setelah kapitel 2018, saya bisa kembali ke Ledalero, tetapi saya juga berminat kalau dikirim sebagai misionaris ke tempat yang lain.

Di tengah kesibukan tugas, apakah Pater masih sempat main takraw atau olah raga lain yang menjadi kegemaran Pater?

Ya, biasanya, mulai akhir musim semi sampai akhir musim gugur, apabila bisa mengumpulkan 4 atau 6 pemain, kami bermain takraw. Syukur, ada beberapa teman yang rela membawa bola takraw dari Indonesia. Yang bermain adalah teman-teman dari Indonesia dan Vietnam. Namun, beberapa bulan terakhir menjadi agak sulit karena tidak mudah menemukan pemain dalam jumlah yang memadai. Kalau tidak bisa main takraw, saya main pimpong.

Waktu di Ledalero beberapa kali saya ke Unit Yosef untuk bermain pimpong dengan para frater, seperti Roland Lima Letu. Lebih mudah temukan orang yang mau bermain pimpong dengan saya yang lebih sering hanya bisa menjadi “pelengkap penderita” ini.

(Bill Halan)

2 Comments
  1. 1 tahun ago
    Gwen

    I am really inspired with your writing skills and also with thee structure
    for your weblog. Is this a paid theme or did you customize
    it yourself? Either way stay up the excellent quality writing, it’s uncommon to see a
    nicee blog like this one these days..