Orang Benar Hidup Berkat Imannya

orang-benar

Bacaan : 

Habakuk 1:2-3;2:2-4,Mzm 95: 1-2.6-7.8-9, Timotius 1:6-8:13-14, Lukas 17:5-10

Hari ini para rasul mengajukan permintaan yang menggelitik, “Tuhan, tambahkanlah iman kami!.” Untuk apa? Pertanyaan ini memang tidak diajukan Tuhan Yesus, tetapi di balik permintaan para rasul, Tuhan Yesus mengerti konsep tentang ‘iman’ yang dipahami para rasul.

Terhadap permintaan ini, Tuhan Yesus membahas tentang biji sesawi serta kesetiaan seorang hamba. Dua hal yang digunakan Tuhan Yesus untuk menjelaskan konsep tentang iman.

Bagi orang Palestina, biji sesawi itu merupakan biji yang paling kecil, walaupun masih ada biji lain yang lebih kecil dari biji sesawi. Meskipun kecil, biji sesawi ini adalah biji yang lengkap, biji yang memiliki potensi untuk bertumbuh dan ketika ditaburkan, biji sesawi akan bertumbuh. Dengan menyebut iman seperti biji sesawi, Tuhan Yesus mengintervensi konsep para rasul tentang iman:  iman bukan soal tambah atau kurang, besar atau kecil, tetapi iman itu bertumbuh atau tidak, soal kualitas.

Selain biji sesawi, Tuhan Yesus membahas tentang hamba: bagaimana orang beriman menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba yang baik. “Kami ini hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” Hamba dalam masyarakat Yahudi adalah hamba yang memiliki kepatuhan dan ketaatan luar biasa kepada tuannya yang memiliki kuasa yang juga sangat besar. Dalam konteks iman, orang beriman disebut hamba Allah jika ia patuh pada perintah Tuhan dan menjalankan setiap ketetapan Tuhan, sambil menyadari bahwa dirinya tidak layak mengemban tugas yang sangat istimewa itu.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkan Timotius betapa pentingnya mewartakan firman, bersaksi tentang Tuhan tanpa rasa takut sebab Tuhan senantiasa mengaruniakan kepada para pengikutnya, roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban, bukan ketakutan. Jadi jangan takut dan malu untuk mewartakan firman Tuhan, lakukan itu sebagai tugas dan tanggung jawab seorang hamba Tuhan.

Kitab Habakuk dalam bacaan pertama menyebutkan dua tipe manusia: manusia yang sombong dan manusia yang benar. “Orang yang sombong, tidak lurus hatinya, tetapi orang benar akan hdup berkat imannya.”

Jika demikian, maka ada satu benang merah yang patut kita susun untuk renungan hari ini:  Iman itu harus bertumbuh (bergerak keluar seperti tanaman dari dalam tanah dan menampakkan diri dan berguna bagi makhluk hidup lain). Iman itu bertumbuh jika kita meletakkan akar pada Tuhan sebagai pusat dan tuan yang harus dipatuhi, bukan kekuatan lain, bukan pada barang atau harta.

Dari Tuhan kita belajar untuk menjadi orang yang rendah hati, tahu mengasihi, taat, hidup tertib, serta mengabdikan seluruh hidup untuk bersaksi dan mewartakan firman Tuhan. Salah satu sikap seorang pewarta firman yang baik adalah hidup benar: berpikir yang benar, berkata yang benar, dan bertindak yang benar. “Orang yang sombong, tidak lurus hatinya, tetapi orang benar akan hdup berkat imannya.” (Bill Halan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *