Natal dan Batas- Paulus Budi Kleden, SVD

 

Sahabat dan Kerabatku terkasih,

Natal membuat kita bersentuhan dengan batas dan perbatasan, sebab Natal adalah peristiwa Tuhan melintasi batas tak berhingga yang memisahkan Pencipta yang kudus, dengan manusia, ciptaan yang berdosa. Untuk membebaskan manusia yang terperangkap dalam penghancuran diri karena ketakutan atau kebencian pada yang lain, Tuhan melintasi batas yang melindungi ke-ilahian-Nya dan masuk ke dunia manusia.

Agar pergaulan manusia bisa melampaui kesempitan kelompoknya sendiri, Allah membongkar tembok yang dibangun manusia untuk mengamankan kepentingannya sendiri. Bukan dengan kekuatan senjata, tidak dengan pekikan yang membahana, bukan pula dengan pengerahan massa Tuhan melintasi batas. Cara-Nya adalah dengan kehadiran seorang bayi, tanda paling nyata dari ketidakberdayaan dan kebergantungan pada kasih. Tuhan merobohkan sekat dan melintasi batas dengan menyentuh naluri terdalam manusia: kepedulian pada kehidupan.

Tentu ada batas yang harus dihormati dan dijaga, karena berkaitan dengan jati diri dan harga diri orang. Namun, Natal menyebarkan pesan, di mana batas menjadi alasan untuk mendiskriminasi dan membenarkan penindasan, di sana inisiatif untuk melampuinya dibutuhkan. Demi kebahagiaan yang sejati, Tuhan melintasi batas untuk masuk ke dalam wilayah manusia yang penuh kenistaan. Demi kasih maha agung ini, Dia tidak takut dinistakan.

Dewasa kita, dunia kita tampaknya sedang didominasi oleh kekuatan-kekuatan yang ingin memperketat batas. Politisi di sejumlah negara memberlakukan peraturan yang semakin keras untuk mencegah para pengungsi masuk ke dalam negaranya. Kebangkitan nasionalisme dan etnosentrisme beriringan dengan pembicaraan tentang pembangunan tembok atau penambahan pasukan di wilayah perbatasan. Keamanan dan kenyamanan warga sendiri dijadikan tema besar untuk melarang masuk pendatang baru dan mengusir mereka yang sudah terlanjur masuk tanpa dokumen.

Sementara itu, para tokoh agama meneriakkan pentingnya kewaspadaan untuk menjaga jarak dari para penganut agama lain, mempertahankan kemurnian ajaran benar dari semua yang dipandang sesat. Mereka menghendaki agar agama-agama menjadi semakin puritan. Sejumlah tokoh agama mengira bahwa mereka berkeharusan untuk menjadi serdadu penjaga batas Tuhan agar tidak dihina.

Melintasi batas adalah pengalaman, tugas sekaligus tantangan bagi seorang misionaris. Sebagaimana diserukan berulang kali oleh Paus Fransiskus, seorang misionaris mesti melintasi batas kenyamanan diri sendiri untuk menjangkau yang lain, teristimewa mereka yang dipinggirkan. Sebagai anggota sebuah serikat internasional, berbagi hidup dan karya lintas budaya adalah bagian utuh dari indentitas seorang anggota SVD.

Tahun ini, saya kembali mendapat kesempatan istimewa untuk mengunjungi para anggota SVD di beberapa negara. Kunjungan pertama membawa saya ke Indonesia. Bersama seorang anggota lain  dari tim pimpinan pusat, Jose Antunes, saya bertemu dengan para anggota SVD di provinsi Jawa yang meliputi Lombok, Bali, Jawa, Kalimantan, Batam dan Sumetera.

Ada banyak hal membanggakan yang saya lihat dan dengar dari dan tentang para anggota SVD. Sekadar satu contoh. Pada hari Rabu Abu, saya sedang berada di sebuah paroki yang ditangani oleh tiga orang saudara. Hari itu hujan lebat. Saya mendapat tugas melayani di pusat paroki. Ketiga saudara lain, dengan mantel hujan, bersepeda motor untuk melayani di tiga stasi luar yang lumayan jauh dan tidak mudah dijangkau. Melihat itu, seorang katekis muda berkata kepada saya, “Inilah yang saya kagumi dari para saudara Anda”.

Pada bulan September sampai pertengahan Oktober saya berada di India, mengunjungi para anggota SVD di beberapa negara bagian di India Selatan. Di negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia ini, kepincangan sosial adalah realitas yang nyata di mana-mana, di kota dan di pedalaman. Kemiskinan tidak bisa disembunyikan. Sebagian anggota SVD terlibat dalam pusat-pusat pelayanan sosial di kota-kota besar seperti Mumbai dan Pune untuk mendampingi anak-anak jalanan dan yang putus sekolah.Di wilayah perkampungan sejumlah anggota SVD bekerja untuk dan bersama suku-suku asli yang lama termarginalisasi.

Kerja sosial adalah melintasi batas suku, agama dan ras karena tergerak oleh panggilan untuk merawat kehidupan. Di Bailhongal, sebuah kota dengan jumlah penduduk muslim yang cukup besar, SVD mulai berkarya empat tahun lalu untuk mendampingi suku asli dan menawarkan kursus ketrampilan bagi kaum muda putus sekolah. Karena belum mempunyai rumah sendiri, dua anggota SVD tinggal di lantai bawah rumah milik sebuah keluarga Islam, sementara keluarga dengan dua anak itu menghuni lantai dua. Ada keakraban yang hangat di rumah ini. Tidak ada masalah bagi para penganut agama yang berbeda itu untuk saling menghargai.

Dalam tahun 2016 dua kali saya ke Jerman untuk menghadiri pertemuan di Sankt Augustin. Ini sudah menjadi bagian rutin kegiatan saya sejak tiga tahun terakhir. Yang berbeda kali adalah melihat bagaimana sebagian fasilitas biara besar ini mulai dimanfaatkan untuk menerima para pengungsi. Tahun lalu dua puluh orang mendapat tempat, tahun ini bertambah menjadi 100 orang. Penerimaan ini hanya mungkin karena para penghuni biara ini dapat merobohkan tembok prasangka dan pagar kenyamanan mereka sendiri, untuk menanggapi seruan penderitaan dari para pengungsi.

Secara keseluruhan sekitar 330 orang pengungsi ditampung di biara-biara SVD, termasuk dua di Generalat SVD di Roma. Saya teringat apa yang terjadi di Sankt Gabriel, Austria, lebih dari 25 tahun lalu. Biara memutuskan untuk melepaskan sebagian dari rumahnya untuk menerima para pengungsi dari negara-negara yang dikuasai Yugoslavia. Sejak itu biara menjadi berubah. Suasana menjadi lebih hidup. Ini sebuah pembelajaran, bahwa mengurung diri selalu berarti pengkerdilan, sementara hukum kehidupan adalah melintasi batas untuk diperkaya dan memperkaya.

Sebagai anggota SVD kami tetap bersyukur bahwa masih ada banyak orang muda yang menyatakan kesediaan untuk bergabung dengan serikat dan menjadi pelintas batas. Pada akhir tahun ini, dari 5990, 1230 orang berada dalam masa pendidikan: 343 menjalani masa novisiat, 887 dalam masa kaul sementara. Tahun ini (2016) ada 77 anggota yang mengikrarkan janji menjadi anggota tetap SVD. Jumlah ini berkurang jauh dari tahun-tahun sebelumnya ketika jumlah yang berkaul kekal selalu melebihi 100.

Saya bersyukur, dalam kunjungan ke Indonesia maupun ke India saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan para anggota muda SVD baik di seminari tinggi Malang maupun di Pune, India. Mereka disiapkan untuk menjadi biarawan misionaris yang sanggup melintasi batas budaya dan sukunya untuk hidup dan bekerja dengan para anggota lain dari berbagai latar berbeda. Mereka dibekali untuk berani dan rela melintasi batas keamanan diri mereka sendiri, membongkar tembok superioritas seorang pejabat agama, untuk turun merendah dan menjadi akrab dengan kaum yang miskin dan menderita.

Kita saling belajar dan menguatkan untuk melintasi batas yang membelenggu, merobohkan tembok yang memenjarakan. Untuk semua contoh yang sudah ditunjukkan selama tahun 2016, saya ucapkan banyak terima kasih. Selamat merayakan Pesta Natal, dan dengan rakhmat berlimpah dari Tuhan yang melintasi batas keilahian-Nya, kita melintasi batas tahun 2016 menuju tahun baru 2017.

Saudaramu

Budi Kleden, SVD- Collegio del Verbo Divino-Via dei Verbiti 1-I-00154 Roma

(Pater Budi saat masih kuliah di STFK Ledalero sebagai calon imam-biarawan SVD, ia dikirim untuk melanjutkan pendidikan di Modling, Wina, Austria. Selanjutnya ia menyelesaikan program studi magister untuk theologie- studi doktoral dalam bidang teologi di Albert-Ludwigs-Universitat Freiburg, Jerman. Imam, Biarawan, dan dosen STFK Ledalero ini, sekarang menjadi anggota dewan generalat SVD di Roma)