“Misi” Menerobos Malam: Sisi Lain dari Novisiat Sang Sabda Kuwu

 

Pada tahun 2003, saya menamatkan pendidikan di SMA Seminari Mataloko. Pada tahun tersebut, saya juga memutuskan untuk melanjutkan panggilan istimewa sebagai imam dengan bergabung dengan salah satu kongregasi besar dan familiar di daerah Flores, yakni SVD Societas Verbi Divini (SVD). Untuk memulai formasi sebagai anggota SVD, pendidikan atau pembentukan pertama dalam kongregasi ini adalah menjalani masa novisiat. Ada dua novisiat SVD untuk wilayah NTT, yakni Novisiat Sang Sabda Kuwu (NSSK) Ruteng Flores dan Novisiat St. Yoseph Nenuk Atambua Timor, di samping ada Novisiat SVD di Batu- Malang. Saya memutuskan untuk memilih Novisiat Sang Sabda Kuwu sebagai rumah formasi saya selama dua tahun (2003-2005).

Agustus 2003, saya bersama rekan saya Arnoldus Lambertus Dipu (sudah menyelesaikan S3 di Tokyo) berangkat ke Ruteng menggunakan bus Agogo. Menariknya adalah itu pengalaman pertama kami pergi ke suatu daerah yang tidak pernah kami datangi sebelumnya. Di sana kami disambut masyarakat dengan pertanyaan dalam bahasa lokal setempat, kami sendiri tidak paham artinya, apalagi harus menjawab pertanyaan tersebut. Singkat cerita kami sampai di rumah Novisiat Sang Sabda Kuwu dan diterima oleh Magister P. Sebastianus Hobahana,SVD.

Sejak diterima Pater Magister, kami pun resmi menjadi anggota komunitas. Hari-hari selanjutnya kami belajar bersama tentang hidup sebagai seorang calon misionaris dalam tarekat Serikat Sabda Allah. Dalam perjalanan waktu,  kami tidak hanya belajar tentang pentingnya menghargai aturan, kami juga mulai belajar tentang bagaimana “bermisi” dalam tanda kutip.

Pengalaman bermisi jenis ini tergolong luar biasa karena kegiatan ini ilegal – melanggar aturan novisiat. Tapi di sisi lain makna dan kualitas dari pengalaman bermisi dibentuk dasarnya.

Awal mula dari pengalaman bermisi (baca: bolos), adalah keinginan untuk mencari suasana yang berbeda. “Misi” ini biasanya kami lakukan pada malam hari. Setelah melakukan aktivitas harian yang telah ditetapkan dalam aturan hidup berkomunitas seperti ibadat, misa, kuliah, bacaan Kitab Suci, bacaan rohani, dan ditutup dengan ibadat malam, saya dan beberapa teman mulai menyusun rencana untuk keluar. Kami akan datang ke rumah umat yang letaknya di balik tembok biara.

Sebelum keluar biara kami berbagi tugas untuk membawa beberapa makanan tambahan. Saya dan teman Jhon Timo (sahabat yang sekarang menjadi Imam Misionaris SVD di PNG), membawa rokok dan camilan. Kami tinggal di unit yang sama, yakni Wisma Beato Gregory, hal ini memudahkan kami untuk berkoordinasi. Teman yang lain, yakni Nelis Kroon dan Frans Taneseb menyiapkan beberapa burung merpati. Bukan kebetulan, karena di unit mereka ada puluhan ekor merpati yang mereka pelihara. Masih ada juga teman lain, sebut saja Ciu Cleophas, Fandi Ambuk, Piter Sii, Hila Kali yang turut serta dalam “misi” keluar ini.

“Misi” ini tidak mudah sebab kami harus menerobos kegelapan malam untuk sampai ke rumah umat di balik tembok biara. Dengan keberanian yang kadang dilebih-lebihkan, kami melewati kebun yang sepi, melompati lubang demi lubang (tempat anakan kopi ditanam) dengan hitungan langkah. Pernah sekali waktu, ada teman yang terperosok masuk ke dalam lubang tersebut karena salah menghitung langkah. Lumayan juga terperosok ke dalam lubang yang kedalamannya 1 meteran. Di pengalaman yang lain, ada juga teman yang harus menaklukkan anak anjing yang begitu berisik menggonggong kami di tengah kebun karena tidurnya diganggu. Kami juga belajar menaklukkan alam dengan belajar mengenal jalan melalui selokan kecil dan tingginya rerumputan untuk sampai pada tujuan. Rintangan terakhir adalah melompat dan melewati tembok biara.

Akhirnya, sampailah kami di rumah umat. Di rumah tersebut, kami bercerita dan berbagi pengalaman. Sambil berbagi pengalaman bersama keluarga tersebut kami menikmati sajian jagung rebus, kopi panas, serta daging merpati. Sesekali kami bermain kartu untuk meramaikan suasana kekeluargaan. Bahkan kami bisa duduk dan bercerita sampai dini hari.

Pagi hari kami kembali lagi ke biara untuk mengikuti ibadat dan misa pagi. Ada jejak yang ditinggalkan dalam pengalaman ini. Jejak itu berupa lumpur dan rerumputan yang melekat di sandal dan kaki. Jejak ini menjadi tanda bahwa ada “misi” terselubung yang telah berlangsung pada malam hari.

Tentu ‘misi’ yang kami lakukan saat itu rentan terhadap sanksi dari para pendidik di NSSK seandainya mereka mengetahuinya. Untuk itu pada usia ke 25 NSSK, kami menyampaikan permohonan maaf atas tingkah laku kami yang melanggar aturan biara saat itu. Di sisi lain, saya menyadari bahwa pendidikan di Novisiat telah turut membentuk saya menjadi awam yang mampu membawa diri masuk ke dalam kehidupan umat dan merangkul kehidupan mereka menjadi bagian dari kehidupanku sendiri hingga saat ini. “Misi” malam itu menjadi salah satu tempat saya berpraktik menjadi awam di tengah masyarakat hingga saat ini.  (Naskah: Metoddyus Tri Brata Role, Dosen di STAKatN Pontianak)