Mewujudkan Belaskasihan (Minggu Biasa X, 5 Juni 2016)

Yang,Yesus,berbelaskasih

http://kabarmisionaris.com/mewujudkan-belaskasihan-minggu-biasa-x-5-juni-2016.html

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Bacaan: 1Raj.17:17-24; Mzm.30:2-6.11; Gal.1:11-19; Luk.7:11-17

Belaskasihan merupakan salah satu aspek cinta, dan hal ini pada umumnya berkaitan dengan ketergerakan batin untuk menolong orang lain yang menderita sekalipun orang yang menderita itu tidak mengungkapkannya secara terus terang. Orang yang berbelaskasihan langsung mendatangi penderita yang bersangkutan, berdialog dengan dia  dan kemudian membantunya.

Penginjil Lukas menampilkan kepada kita pribadi Yesus yang berbelaskasihan kepada janda miskin di Nain yang mengalami kematian anaknya. Kita  menemukan perikop ini hanya dalam injil Lukas.  Dengan menampilkan cerita ini,  penginjil ini rupanya mau menampilkan Yesus yang mempunyai perhatian khusus kepada kelompok masyarakat miskin yang diwakili oleh janda miskin ini.

Anak laki-laki yang meninggal  itu adalah  anak  tunggal janda itu. Karena dia adalah anak tunggal, maka dialah yang menjadi segala-galanya bagi ibunya; kepada dialah ibu janda itu mencurahkan segala kasih-sayangnya; anak itu adalah sumber kebahagiaan ibunya.

Keberadaan anaknya itu sungguh amat berharga baginya. Di tengah kemiskinannya, satu-satunya kekayaan yang amat berarti baginya adalah anaknya itu. Namun dengan peristiwa kematian anaknya itu, janda tersebut bukan saja mengalami kehilangan tumpuan pengharapan akan masa depannya, tetapi terutama  mengalami kehilangan ‘segala-galanya termasuk kebahagiaannya.’

Dikatakan oleh penginjil Lukas, begitu melihat janda itu, tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan, lalu berkata kepadanya: ‘Jangan menangis.’ Rupanya begitu melihat janda tersebut, Yesus langsung mendekatinya dan memberi peneguhan. Ungkapan ‘Jangan menangis’ memperlihatkan kesediaan Yesus  untuk bersolider dan memberi harapan: Saya ada dan siap untuk membantumu. Engkau tidak sendirian.

Peneguhan lewat kata-kata verbal itu dilanjutkan dengan tindakan-Nya sendiri. Ia menghampiri usungan itu dan menyentuhnya. Dengan menyentuh usungan itu, sebetulnya Ia mau mengajak para pembawa usungan itu agar berhenti. Mereka pun berhenti. Kemudian Ia berkata kepada anak muda itu: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah !. Maka bangunlah orang itu  dan duduk dan mulai berkata-kata…” (Luk.7:14-15).

Kita melihat bahwa belaskasihan Yesus diperlihatkan dengan membangkitkan anak itu. Dengan peristiwa itu, terlihat bahwa Yesus sungguh-sungguh mempunyai kuasa Ilahi, dan kuasa-Nya itu jauh melebihi baik kuasa makluk ciptaan mana pun maupun kuasa kematian. Ia membangkitkan anak itu hanya dengan bersabda. Kalau dalam kitab Kejadian dikatakan bahwa segala yang Tuhan ciptakan hanya dengan bersabda itu baik adanya (bdk.Kej.1), maka pada peristiwa ini kita melihat bahwa hanya dengan bersabda saja ‘anak muda  yang sudah meninggal itu bangkit dan hidup kembali.’ Dengan bersabda saja Yesus mengalahkan kuasa kematian.

Kebangkitan  anak muda itu terjadi atas cara yang amat sederhana, tanpa ritus-ritus tertentu dan tanpa tuntutan-tuntutan  yang berat yang harus terlebih dulu dipenuhi oleh pihak keluarga yang berduka.

Dikatakan bahwa anak muda itu langsung duduk dan mulai berbicara. Sekalipun penginjil Lukas tidak memberitakan secara terus terang tentang apa yang dibicarakan oleh anak muda itu, namun kenyataan bahwa dia yang sudah meninggal, bisa bangun seketika itu juga, lalu duduk dan berbicara memperlihatkan karya Allah dalam diri Yesus yang harus dikagumi. Hanya Tuhan, pemegang dan pemilik kehidupan  dan orang-orang khusus yang memperoleh kuasa dari Tuhan bisa membuat mujizat seperti itu (1Raj.17:17-24; Kis.9:32-43).

Kedatangan Yesus ke kota Nain itu dan perjumpaan-Nya dengan janda yang berdukacita sungguh membawa suasana baru. Janda  itu beralih: dari kesedihannya menjadi kegembiraan, dan dari keputusasaan menjadi optimis dan penuh harapan. Dalam 1Raj.17:17-24 diceritakan bahwa setelah menghidupkan kembali anak perempuan janda miskin di Sarfat, nabi Elia membawa anak itu turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya sambil berkata: “Ini anakmu, ia sudah hidup!” Elia menyerahkan anak perempuan yang sudah hidup kembali itu kepada ibunya.

Dalam Luk.7:11-17, diberitakan bahwa hal itu juga dilakukan Yesus. Sesudah anak  laki-laki itu hidup kembali, Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Berbeda antara kedua cerita ini adalah: dalam 1Raj.17:17-24, peristiwa kebangkitan anak perempuan itu terjadi tidak lama sesudah kematiannya dan terjadi di rumah, sedangkan dalam Luk.7:11-17 hidupnya kembali anak muda itu terjadi mungkin sekali satu-dua hari sesudah kematiannya dan terjadi bukan di rumah melainkan mungkin dalam perjalanan menuju pekuburan.

Dalam 1Raj.17:17-24, diberitakan bahwa kebangkitan anak perempuan itu terjadi sesudah nabi Elia mendoakannya, sedangkan dalam Luk.7:11-17 tidak diberitakan secara eksplisit Yesus berdoa. Hal serupa kita bisa jumpai juga dalam Luk.9:40-42.49-56 di mana diberitakan tentang Yesus membangkitkan anak Yairus. Apakah Yesus tidak perlu berdoa ?

Dalam injil Lukas, Yesus justru ditampilkan sebagai Anak Allah yang setia berdoa. Doa merupakan bagian integral dari hidup dan karya perutusan-Nya (Luk.3:21; 6:12; 9:28-29; 22:32; 22:41). Sebelum wafat-Nya di salib, Ia masih berdoa kepada Bapa-Nya agar mengampuni orang-orang yang menyengsarakan dan menyalibkan-Nya (Luk.23:34). Dengan tidak memberitakan secara eksplisit doa Yesus dalam Luk.7:11-17, rupanya penginjil Lukas mau menegaskan bahwa doa Yesus sudah lebih dulu dilakukan-Nya, dan pada saat berhadapan dengan kematian anak muda janda itu, Yesus  sungguh-sungguh berperan sebagai Allah yang berkuasa atas kematian dan kehidupan manusia.

Yesus yang adalah pewahyu Bapa dan Roh-Nya hadir dalam peristiwa kedukaan tersebut dan membebaskan pemuda itu dari  belenggu kematian. Hal itu terjadi karena belaskasihan Allah bagi manusia khususnya bagi kaum pinggiran, miskin dan lemah yang diwakili oleh  janda  di Nain itu.

Mujizat yang dialami janda di Sarfat ada dua;  pertama,  tepung dalam tempayannya  tidak habis dan minyak dalam buli-bulinya pun tidak berkurang (1Raj.17:16), dan kedua adalah  kebangkitan anak perempuannya itu. Dua mujizat itu sungguh  semakin membangkitkan dan memperkuat imannya kepada Tuhan lewat kehadiran nabi Elia. Katanya kepada Elia: “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan Firman Tuhan yang kauucapkan itu adalah benar.” (1Raj.17:24).

Pengakuan iman yang serupa kita jumpai dalam diri orang-orang yang menyaksikan peristiwa kebangkitan anak muda di Nain. Walaupun penginjil Lukas tidak memberitakan secara eksplisit reaksi janda tersebut, namun bisa dikatakan bahwa ia sungguh berbahagia dan mengakui imannya kepada Tuhan yang hadir dalam diri Yesus. Ia mensyukuri anugerah Allah dalam ‘kesederhanaannya.’

Dalam susana batin penuh syukur dan kebahagiaan, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Yesus yang telah berbelaskasihan kepada-Nya.  Atau barangkali dia dan  semua orang yang hadir pada saat itu mengalami ‘ketakutan’ juga, lalu bersama-sama  memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita dan Allah telah melawat umat-Nya.” (Luk.7:16).

Kalau Elia adalah abdi Allah, maka Yesus adalah nabi besar Allah; Dia mewahyukan Allah yang tidak kelihatan. Dengan menyerahkan anak laki-laki tunggal yang sudah hidup kembali itu kepada ibunya, Yesus sekaligus ‘membangkitkan’ janda itu. Dengan demikian, dunia lama janda itu yang diliputi ‘air mata kedukaan’  berubah menjadi ‘air mata kebahagiaan’;  segala-galanya yang telah hilang karena kematian puteranya, kini diperolehnya kembali.

Jadi dalam Yesus  dan lewat Dia, Allah datang dan berada di tengah umat-Nya. Dia membebaskan manusia, khususnya yang beriman dan berharap pada-Nya dari segala perbudakan dosa, penyakit, kuasa kegelapan, setan dan maut. Karya-Nya yang merupakan perwujudan belaskasihan-Nya kepada pihak yang berduka dan menderita itu membuat nama-Nya tersebar luas ke mana-mana.

Berpedomankan pada perwujudan belaskasihan Yesus, sebagai pengikut-pengikut-Nya, apa yang seharusnya kita lakukan ? Belaskasihan tidak hanya sebatas ucapan verbal tetapi harus dibuktikan lewat perbuatan baik kepada sesama yang berduka atau menderita. Kita mungkin tidak bisa membangkitkan orang yang sudah meninggal, tetapi dalam iman kepada Yesus yang membangkitkan anak muda di Nain itu bahkan Dia sendiri dibangkitkan Allah dari alam maut (Luk.23:56b-24:12/parl), kita pun bisa ‘membangkitkan kembali’ sesama.

Misalnya seperti Yesus, kita berinisiatip mendatangi kaum kecil dan miskin  seperti janda dan puteranya itu; berada bersama mereka, mendegarkan mereka dan berusaha membantu mereka. Kita datang kepada  orang-orang  yang mengalami kedukaan karena kematian salah seorang anggota keluarganya. ‘Kehadiran kita’ dalam kedukaan itu sungguh berharga bagi keluarga yang berduka. Dengan kehadiran itu,  kita ‘membangkitkan’ mereka dari rasa duka yang sedang mereka alami; dengan kehadiran, kita menyatakan solidaritas kita kepada  mereka.

Yesus menyerahkan anak muda yang sudah hidup itu kepada ibunya. Yesus memberikan kepada janda itu apa yang menjadi hak miliknya. Sebagai pengikut-pengikut-Nya kita hendaknya bisa berbuat demikian:  ‘memberikan,  menyerahkan atau mengembalikan apa yang menjadi hak orang.’ Yang diberikan itu bukan hanya barang-barang materiil, tetapi terutama ‘manusianya yang sudah dibangkitkan atau dihidupkan kembali.’

Ada banyak saudara/i kita yang kelihatan hidup, tetapi sesungguhnya sudah mati imannya kepada Tuhan, mati  harapan dan mati cintanya. Tidak sedikit anak-anak  sudah ‘mati rasa hormat dan tanggung jawabnya kepada orangtuanya,’ padahal mereka sebetulnya adalah harapan dan kebanggan orangtuanya.

Tangungjawab kita adalah bagaimana  mewujudkan belaskasihan kepada orangtua yang mempunyai anak-anak seperti itu sehingga pada suatu saat kita pun bisa mengembalikan ‘mereka yang sudah hidup rasa hormat dan tanggung jawabnya’ kepada orangtua mereka ?

Janda miskin itu menangisi anaknya yang tunggal. Tangisannya merupakan ungkapan  cintanya kepada anaknya itu. Kalau kita melihat kenyataan dewasa ini, kita akan menemukan bahwa banyak ibu  tidak lagi menangisi anak-anaknya yang meninggal, karena mereka sendiri adalah pembunuhnya. Karena tidak mau menanggung malu karena hamil di luar pernikahan resmi, akhirnya menggugurkan anaknya; ataupun sesudah melahirkan anaknya, lalu karena alasan tertentu,  membuang anaknya begitu saja di pinggir jalan atau di tempat-tempat pembuangan.  Pertanyaan: “Bagaimana usaha kita mewujudkan belaskasihan kepada anak-anak itu yang mempunyai ibu yang tidak berbelaskasihan lagi kepada anak kandungnya sendiri ?”

Yang menjadi tanggungjawab kita juga adalah: “Bagaimana usaha kita ‘membangkitkan’ belaskasihan dalam hati saudara-saudari yang sudah mati rasa belaskasihannya.”  Karya pelayanan yang merupakan perwujudan belaskasihan  ‘membangkitkan atau menghidupkan sesama’  yang hendaknya dilandasi oleh iman, pengharapan dan cinta,  hanya akan berhasil, apabila kita selalu menyertakan Yesus. Tanpa bantuan-Nya, kita akan gagal.

Hanya dengan kuasa Roh-Nya, kita bisa hidup, bangkit (bdk.Mzm.30:3-4) dan ‘berubah menjadi lebih baik mewujudkan belaskasihan (bdk.Gal.1:14-16). Berbahagialah orang yang mewujudkan berbelaskasihan dalam perbuatan-perbuatan baik kepada orang lain, khususnya yang sedang berduka atau menderita, karena dia juga akan memperoleh belaskasihan dari Tuhan.

sumber foto: https://catatanseorangofs.files.wordpress.com/2014/08/76433f5f9d4f93ec50162c44b4a514ac.jpg?w=300&h=225

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *