MENIKAH SECARA HUKUM, TETAPI CERAI SECARA EMOSIONAL

Romo Thoby Kraeng SVD

Romo Thoby yang selalu peduli. Maaf, saya memberanikan diri untuk mengatakan  sapaan ini, karena hampir setiap pokok permasalahan yang dibahas dalam  kolom kosultasi Majalah Warta  Flobamora atau Majalah keluarga KANA, pada kolom ‘CURHAT’ Romo hampir selalu mengutarakan pikiran-pikiran segar, untuk membangkitkan kesadaran kami agar  memperbaiki pola hidup berkeluarga. Romo Thoby pernah dalam salah satu kesempatan ceramah, menyinggung soal  “Perceraian secara emosional walau menikah secara hukum.”

Bagaimana hal itu bisa dicermati dan didalami untuk menghindari perceraian? Pandangan Romo, sungguh membuka wawasan dan membangkitkan kesadaran baru dalam hidup berkeluarga. Terima kasih Romo.  Tuhan memberkati karya pelayanan Romo. Wassalam! Romy.

Romy yang baik.

“Mimpi  yang berantakan, perkawinan yang hancur dari pasangan yang sudah menikah dengan janji setia seumur hidup.” Demikian pikiran sederhana yang menyoroti masalah perkawinan dewasa ini.

Bagaimana perceraian itu mempengaruhi kejiwaan pasangan suami istri dan anak-anak yang lahir dari persatuan intim dan akrab pasangan? Apakah dampaknya bagi anak-anak? Mereka tidak bisa dipisahkan begitu saja oleh masalah perceraian ini.

Perceraian sebenarnya berkisar seputar putusnya hati dua orang yang telah disatukan, di mana mimpi mereka tentang pernikahan yang bahagia dan sejahtera telah hancur. Hubungan yang dimulai dalam kesatuan yang bahagia telah pecah, dan keduanya tidak lagi menjadi satu. Apa artinya ungkapan suci “Mereka bukan lagi dua, melainkan satu” bagi mereka?

Perceraian adalah ‘kematian’ relasi antara dua orang yang saling berharap akan menikmati keamanan, kenyamanan, dan kebahagiaan dalam sebuah penyatuan secara emosional seumur hidup. Yang saya maksudkan adalah janji pernikahan yang dilanggar, mimpi yang kandas, harapan yang tidak terpenuhi, asa yang hilang, dan rasa emosional yang hancur di antara suami  dan istri.

Ketika saya mendekati seorang anak laki-laki yang berusia 12 tahun dan bertanya kepadanya perihal kesedihannya karena orangtuanya tidak akur. Dia penjawab, “Mudah-mudahan ayah dan ibu, setidaknya, masih mau bicara satu sama lain. Menjawab telpon pun mereka tidak mau. Menjawab sms saja pun tidak ada minat.”

Kemudian anak itu memandang kepada saya dengan wajah penuh harapan  dan berbisik, “Romo Thoby, sekarang saya bahkan tidak bisa bertemu ayah lagi, karena dia tinggal bersama “tante”, yang pernah dikenalkan ayah waktu saya diajak ke karoke. Saat itu saya masih usia di bawah 10 tahun.

Sekarang baru saya paham ketika mendengar teman-teman bilang ayah mereka selingkuh. Tidak heran kalau ayah mau telepon tante biasanya dia keluar dari rumah, karena takut ketahuan ibu atau kadang-kadang komunikasi via hp dalam mobil. Ayah jarang bicara dengan ibu dan kami anak-anaknya. Ayah lebih dekat dan senang bicara dengan orang di luar rumah daripada orang dalam rumah. Orang bilang via handphone itu mendekatkan orang yang jauh dan menjauhkan orang yang dekat Romo Thoby.”

Nilai apa yang mau diwariskan orangtua kepada anak-anaknya dalam hidupnya sekarang dan ke depan? Nilai budaya sudah menjadi barang rongsokan yang harus disingkirkan, karena tidak sesuai zaman. Bukankah dengan demikian kita tercabut dari akar budaya, dan kehilangan tata krama, layaknya manusia berbudaya?

Kalau setiap orang yang masih sadar bahwa dia memiliki hati seorang manusia, pasti hancur rasanya. Jika tidak, maka kita harus mulai menciptakan sebuah habitus (kebiasaan) baru dalam perkawinan, yang kebal terhadap perceraian demi generasi berikutnya.

Banyak sekali pasangan menerima fakta bahwa di dalam pernikahan ada banyak aspek selain kebahagiaan dan kegembiraan yang mereka rasakan selama bulan madu. Kebanyakan pasangan suami istri menyadari bahwa dalam aspek ‘relasional’ ternyata ditemukan lebih banyak pasang dan surutnya. Jika pasangan suami istri tidak bertekad dan bertindak untuk mengembangkan hubungan yang lebih mendalam, akrab dan bersahabat, maka risikonya adalah  kehilangan pernikahan impian pasangan suami istri. Pernikahan pasangan  sedang menuju kondisi yang rusak berantakan.

Pecahnya hubungan emosional biasa dimulai secara bertahap, hampir tanpa disadari. Keterpisahan emosional dan fisik, yang diakibatkannya juga tidak terjadi secara mendadak. Penikahan yang berada diambang kehancuran hampir selalu sudah melewati buruknya hubungan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Ada pasangan yang mengatakan, “Hubungan kami jauh dari pernikahan impian, tetapi kami berkomitmen satu sama lain. Perceraian  bukan pilihan kami.”

Benar, perceraian fisik mungkin tidak masuk dalam pertimbangan rasional pasangan. Namun, jika pasangan tidak mau mengambil langkah-langkah tertentu untuk menghindari hancurnya pernikahan, mereka berdua sebenarnya sedang meluncur ke arah perceraian emosional.

Sangat mungkin salah satu dari mereka  tidak berada di luar rumah secara fisik, tetapi tanpa upaya yang terfokus untuk memelihara hubungan, mereka sebenarnya sedang berada dalam proses saling meninggalkan secara emosional dan relasional.  Walaupun tinggal di bawah atap yang satu dan sama, dan berbagi tempat tidur yang sama, mereka  berdua menjadi asing seorang terhadap yang lain dan juga terhadap anak-anak. Dalam kaitan dengan ini, bila suami atau istri mengatakan bahwa mereka bisa mendidik anak-anak secara bersama-sama walau cerai, itu suatu pernyataan yang tidak bermutu dan tidak berwibawa sebagai pendidik dan pengajar utama dan terutama dalam keluarga sebagai sebuah sekolah kehidupan.

Suami istri itu seperti dua lempeng tanah yang sangat besar dan saling bergesekkan ketika berusaha untuk mencocokkan satu sama lain. Dalam prosesnya, pertengkaran sering terjadi karena pemaksaan kehendak, beda pikiran dan pendapat serta stres menumpuk. Jika tidak ada upaya terus-menerus untuk mengurai simpul-simpul kebuntuan akibat pertengkaran, semua tekanan yang dibendung akhirnya terlepas dan kadang meledak. Tanah pun runtuh dan bumi pun berguncang.

Pertengkaran dan kesalahpahaman adalah hal yang wajar dalam pernikahan dua orang yang berbeda dan tidak sempurna. Dari segi hukum, sangat mungkin bagi pasangan untuk tetap berstatus suami istri, tetapi tidak demikian dengan hati dari keduanya. Mereka hidup di bawah tekanan kekecewaan dan keputusasaan yang tak terpecahkan. Mereka bisa jadi menempati rumah yang sama, tetapi secara emosional mereka tinggal terpisah berkilometer jauhnya. Ini namanya peceraian emosional.

Ketika sudah sampai pada titik perceraian emosional, hubungan pun telah mati. Gary dan Barbara Rosberg dalam bukunya “Divorce-Proof Your Marriage” mengatakan bahwa kalau salah satu dari pasangan, entah suami atau istri mengajukan tuntutan perceraian, maka dokumen persidangan hanya berfungsi sebagai “akte kematian bagi pernikahan.”

Setiap pasangan hendaknya berupaya dari waktu ke waktu untuk menjadikan pernikahannya bertahan seumur hidup dan kebal  terhadap perceraian. Pernikahan memerlukan  upaya keras  untuk bertumbuh subur dan membuahkan kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin seumur hidup.

Demikian Romy beberapa buah pikiran yang dapat saya bagikan melalui rubrik konsultasi keluarga WF. Semoga ada manfaatnya bagi keluarga-keluarga dalam upaya menata kembali hidup berumah tangga yang berkualitas dan beriman.  Berkat Tuhan!*****

Dipublikasikan di Warta Flobamora edisi Desember 2013

Sumber gambar utama: google