MENGENANG BR. YAKOBUS LABU, SVD

 

 

Pada hari Selasa pagi  tgl. 3 April 2018 Br. Yakobus Labu tidak hadir di Kapela Biara Simeon untuk ibadat pagi dan misa; ia  juga tidak hadir di kamar makan untuk sarapan. Ketika dicek ke kamarnya dengan memecahkan kaca jendela karena pintu kamarnya dalam keadaan terkunci, Br ternyata sudah pergi untuk selamanya. Diperkirakan, pagi itu ketika Br. Yakobus Labu mulai bersiap untuk menjalani aktivitas harian di Biara Simeon,  Tuhan datang menjemputnya.

Br. Yakobus, anak dari pasangan Simon Kaju dan Veronika Due, dilahirkan di Gizi – Mataloko pada tanggal 31 Januari 1946. Pada tahun 1953, ia masuk Sekolah Rakyat Katolik Todabelu I yang ia selesaikan pada tahun 1960. Ia kemudian masuk SMP Sanjaya, Bajawa dari tahun 1960/1961.

Karena diterima sebagai Kandidat Bruder SVD, ia meninggalkan SMP Sanjaya, dan berpindah ke Ende. Pendidikan SMP baru dilanjutkan lagi di Ende, pada SMP Nurjaya, dari tahun 1962 – 1964. Setelah menamatkan SMP, ia melanjutkan pendidikan sebagai calon Bruder SVD. Namun karena menderita sakit, dalam tahun 1968 ia  kembali ke kampungnya  di Gizi – Mataloko.

Merasa masih terpanggil, setelah hampir 10 tahun tinggal di kampungnya, dalam tahun 1977, Br. Yakobus mengajukan lagi lamaran untuk menjadi Bruder SVD.  Ia pun diterima kembali dan selama dua tahun mengikuti pendidikan dan pembinaan sebagai calon Bruder SVD di Biara St. Konradus, Ende.

Pada tanggal 6 Januari 1979, ia menjalani masa Novisiat selama dua tahun di Biara St. Konradus, dan pada tgl. 6 Januari 1981, ia mengikrarkan kaul-kaulnya untuk pertama kali sebagai Bruder SVD. Sesudah mengikrarkan kaulnya yang pertama, Br. Yakobus ditetapkan untuk belajar pada PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik)  St. Petrus Mautapaga,  yang ia selesaikan pada tahun 1984.

Berbekalkan pendidikan sebagai Guru Agama Katolik dan moto hidup: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15, 16), Br. Yakobus pun mulai mengabdikan diri  sebagai biarawan dan misionaris SVD. Mula-mula ia ditempatkan di Paroki Kenaikan Kristus Watubala, Maumere, di mana ia bekerja dari Juli 1984 hingga Desember 1985.

Pada akhir tahun 1985  Provinsi SVD Jawa yang menerima tawaran dari Keuskupan Sintang untuk menangani Paroki Merakai, meminta bantuan tenaga dari Provinsi SVD Ende.

Menanggapi permintaan tersebut, pada permulaan tahun 1986 Br. Yakobus bersama P. Hendrik Rehi Manuk, SVD dipresentasikan kepada Provinsi SVD Jawa, yang selanjutnya mengutus keduanya untuk bekerja di Paroki Merakai, Keuskupan Sintang.

Sesudah satu tahun bekerja di Paroki Merakai, dalam bulan Maret 1987 Br. Yakobus kembali ke Biara St. Konradus untuk menjalani masa probasi sebagai persiapan untuk kaul kekal. Karena ingin kembali bekerja di Kalimantan, dalam lamaran untuk penempatan pertamanya ia menulis Provinsi SVD Jawa sebagai pilihan pertama. Keinginannya tersebut sungguh diperhatikan oleh Pater Superior Jenderal dan Dewannya, yang menempatkannya  di Provinsi SVD Jawa.

Pada 8 September 1987, Br. Yakobus mengikrarkan kaul kekal di Biara St. Konradus. Sesudah itu ia pun kembali ke Provinsi SVD Jawa. Sesuai keinginannya,  Pimpinan Provinsi SVD Jawa pun menempatkannya di Kalimantan, mula-mula di Paroki Pangkalan Bun, Keuskupan Banjarmasin, di mana ia bekerja sampai tahun 1993. Ia kemudian dipindahkan ke Kalimantan Timur, ke Paroki Tenggarong, Keuskupan Agung Samarinda.

Sesudah 5 tahun bekerja di Paroki Tenggarong pada tahun 1998 ia berpindah ke Kalimantan Barat, dan ditempatkan di Paroki Tayan, Keuskupan  Sanggau. Baru satu tahun bekerja di Paroki Tayan, pada tahun 1999 Br. Yakobus  pun   kembali ke Paroki Merakai,   tempat tugasnya yang pertama di Kalimantan.

Sesudah 14 tahun bekerja di Kalimantan, mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, lalu ia kembali lagi ke Kalimantan Barat, pada permulaan tahun 2001 Br. Yakobus  atas permintaan sendiri berpindah dari Provinsi SVD Jawa ke Provinsi SVD Ende.

Kembali ke Provinsi SVD Ende, Pater Provinsial SVD Ende lewat surat  tgl. 3 Mei 2001 menempatkan Br. Yakobus di Biara St. Yosef untuk membantu pada Sekretariat Provinsi SVD Ende. Namun karena masih ingin terlibat dalam karya pastoral parokial, ia meminta untuk bekerja pada salah satu paroki dalam wilayah Provinsi SVD Ende. Pada akhir tahun 2002, Uskup Larantuka yang bersedia menerimanya bekerja dalam wilayah Keuskupan Larantuka, menempatkan Br. Yakobus di Paroki St. Arnoldus, Waikomo, Lembata, di mana ia sempat bekerja hingga tahun 2009.

Karena alasan usia, dan juga karena gangguan pada jantungnya yang menyebabkannya harus secara berkala mengadakan check-up kesehatan di RKZ Surabaya, sesudah hampir 9 tahun bekerja di Paroki St. Arnoldus Waikomo, Br. Yakobus meminta agar dibebaskan  dari tugas pastoral parokial. Karena itu dalam bulan April 2009 Bpk. Uskup Larantuka pun membebaskan Br. Yakobus, dan mengembalikannya ke Provinsi SVD Ende.

Merasa masih bisa berbuat sesuatu, dan juga karena berminat untuk bekerja di kebun, Br. Yakobus meminta tinggal di Kebun SVD Ratedao untuk membantu P. Andreas Ake Hodo.   Pimpinan Provinsi SVD Ende pun menyetujui dan menempatkannya di Kebun SVD Ratedao.

Karena kondisi fisiknya semakin menurun, dalam bulan April 2012, ketika baru saja pulang dari check-up kesehatan di RKZ Surabaya, Br. Yakobus tidak diizinkan untuk kembali ke Kebun SVD Ratedao. Untuk sementara ia menetap di Biara St. Yosef, Ende, dan pada akhir Juni 2012,  ia berpindah dan menetap di Biara Simeon. Sejak saat itu Br. Yakobus menjadi penghuni tetap Biara Simeon, hingga Tuhan menjemputnya pada hari Selasa pagi, tgl. 3 April 2018.

Kini Br. Yakobus sudah terbebas dari penderitaan jasmania, dan dengan keyakinan   penuh atas kerahiman Tuhan, ia sudah mengalami kebahagiaan abadi di surga.

Naskah dan foto Sekretariat Provinsi SVD Ende

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *