Mengenang 02 November di Kampungku: Waibalun dan Lewolere

http://kabarmisionaris.com/pria-itu-bernama-muhhamad-yamin.htmlSaya ingin menceritakan pengalaman menghabiskan masa-masa kecil di kampungku. Kami tinggal dan dibesarkan di dua kampung: Waibalun dan Lewolere (masuk dalam Kabupaten Flores Timur ). Dua kampung itu berdekatan secara geografis.

Hingga tahun 90-an, dua kampung ini entah mengapa, menjadi begitu berjarak secara sosial. Beberapa orang di Waibalun punya cara pandang yang agak berbeda tentang penduduk di Lewolere. Sehingga ketika kami pulang menengok opa dan oma di Lewolere, bisanya beberapa pemuda Waibalun yang duduk di beberapa batu besar, melemparkan bahasa demikian, “Ata Lewolere balik ae (Orang Lewolere sudah pulang).” Orang Lewolere punya dialeg yang sangat istimewa, tetapi bagi beberapa orang di Waibalun dialeg itu sering dijadikan bahan guyonan.

Bagi kami, ini bukan suatu penghinaan, kami malah menjadi lebih bergairah untuk membalas komentar mereka. Saudari saya paling suka membalas candaan seperti ini. Ini masih sebatas cerita-cerita ringan antarkami. Masih ada hal yang lebih besar dari itu, khususnya saat dilangsungkannya pertandingan sepak bola.

Klub sepak bola di Waibalun namanya Jong Kudi, Lewolere juga punya klub sepak bola, namanya Ikutubo. Lapangan Sepak bola tempat berlangsungnya pertandingan itu, letaknya di samping gereja Paroki St. Ignatius dari Loyola, dan menjadi wilayah yang membatasi, serentak menjembatani dua kampung: Waibalun dan Lewolere.

Saat pertandingan, kami yang tinggal di dua kampung ini lebih memilih menjadi penonton yang netral, kalau dukung Ikutubo sebentar kita pulang lagi ke Waibalun. Mau dukung Jong Kudi, besok kita kunjung oma dan opa di Lewolere (dan tinggal di Lewolere). Oma dan opa’ itu istilah yang agak mentereng, di kampung kami, opa dan oma biasa kami panggil, ‘Nene Pa (untuk opa) dan Nene mama (untuk oma).

Namanya pertandingan sepak bola, suporter tetap lebih hebat dari pemain, biasanya mayoritas pendukung fanatik adalah ibu-ibu dan gadis-gadis di dua kampung itu. Pendukung Jong Kudi duduk di sekitar gereja, mereka melingkar sampai di depan SMPK Ratu  Damai. Sedangkan pendukung Ikutubo berdiri di batas lapangan melingkar sampai di samping SDK Waibalun II.

Pertandingan itu menjadi lebih bersemangat bukan terutama karena pemain, tetapi karena suporter fanatik dari dua kampung. Jangan ditanya soal siapa menang dan siapa kalah, sebab ujung dari pertandingan ini umumnya kericuhan. Kericuhan ini kadang tidak hanya berhenti di lapangan, malah melebar sampai ke jalan raya.

Suasana itu begitu berbeda saat memasuki bulan November, tepat tanggal 02 November. Sore itu, pada tanggal dan bulan yang sama, masing-masing anggota keluarga membawa ember, tofa, kain, dan pelbagai jenis bunga. Tiba di pekuburan, masing-masing anggota keluarga membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekitar kubur, ada yang mencungkil lilin yang melekat erat pada dasar kubur. Yang lain mengambil air dan membersihkan kubur. Anak-anak kecil mengumpulkan bunga kamboja, bunga yang lebih sering disebut bunga Santo Antonius. Itu nama yang umat berikan.

Helai bunga Santo Antonius biasanya berjumlah ganjil. Ada mitos yang beredar di antara anak-anak, jika ada yang mendapat bunga dengan susunan genap, dia bakal dapat rejeki.

Saya menafsir bahwa narasi tentang rejeki di balik bunga itu dibuat agar anak-anak tetap bergembira mengumpulkan bunga yang jatuh. Tanpa paksaan orang dewasa, anak-anak mengumpulkan semua itu (membersihkan kubur). Sehari sebelumnya, tanggal 01 November, ada juga anggota keluarga yang sudah terlebih dahulu membersihkan kubur anggota keluarga mereka.

Sore hari (02 November) sekitar pukul 18.00, ribuan lilin menyala di pekuburan St. Ignatius. Terang benderang. Spontanitas membersihkan kubur, menata bunga-bunga, dan membakar lilin di atasnya, ini bukan saja karena ajaran gereja, tetapi kekuatan kultur yang kemudian di atasnya gereja memberi penjelasan tentang relasi antara manusia yang masih hidup dengan mereka yang sudah meninggal.

Kebudayaan ini tidak hanya hadir di dua kampung ini, bahkan hampir di seluruh Asia, Eropa dan Afrika, secara kultur masyarakat menyadari pentingnya menjalin relasi dan mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ini juga bukan merupakan tuntutan, tetapi spontanitas yang lahir dari rasa cinta. Sehingga andai saja, suatu saat (sekalipun) gereja Katolik mengubah kebijakan dan melarang orang untuk membakar lilin di kubur, saya yakin bahwa kebijakan ini akan mengalami benturan dengan kebudayaan sebab masyarakat tidak dapat membunuh kenangan (memoria) dengan pada pendahulunya.

Dalam 2 Mak. 12:43-46, gereja Katolik menegaskan pentingnya mendoakan mereka yang sudah meninggal dan muncullah konsep tentang gereja berjuang (umat yang masih hidup), gereja berziarah (umat yang masih tinggal di api pencucian) dan gereja mulia (umat yang sudah berada di surga). Bagi yang masih berziarah membutuhkan doa yang terus menerus dari umat yang masih hidup, lalu otoritas gereja mengeluarkan kebijakan tentang indulgensi, salah satu sarana untuk membantu melepaskan ikatan hukuman bagi umat yang sudah meninggal, khususnya mereka yang masih tinggal di api pencucian.

Gagasan dan keyakinan tentang pentingnya menjaga relasi dengan anggota keluarga yang sudah meninggal secara ekonomis memberi keuntungan tersendiri bagi para penjual lilin. Hampir setiap hari orang membakar lilin di kubur (memang belum ada satu riset khusus yang menjelaskan hubungan antara keyakinan masyarakat dalam relasi dengan keuntungan ekonomis para penjual lilin). Dan malam, tepat tanggal 02 November, umat melakukan prosesi mulai dari gereja, berlanjut di kuburan, membawa lilin bernyala di tangan sambil berjalan mengelilingi kampung dan mendaraskan doa rosario, diselingi lagu-lagu Maria baik dalam bahasa Indonesia maupun berbahasa daerah.

Di depan masing-masing rumah, khususnya jalur yang dilewati umat, diletakkan gambar atau patung Bunda Maria, Salib, dan lilin bernyala. Waktu kecil biasanya kami keluar dari barisan prosesi dan berlari lebih cepat dan memberi pesan kepada para penjaga lilin di rumah bahwa umat sudah bergerak mendekat, lilin boleh mulai dinyalakan. Kalau dipikir-pikir tugas pembawa pesan ini termasuk tugas yang mulia ya!

Dalam perjalanan waktu, kebiasaan ini dijaga (bersihkan kubur dan prosesi), sedangkan masyarakat mulai berubah, pendidikan tinggi sudah bukan lagi menjadi hal yang asing, cara pandang antarsesama pun mulai berubah, perjumpaan dengan warga sekampung tidak hanya terjadi di dalam kampung, tetapi juga di tanah orang lain, dan untuk urusan hati, ternyata tidak sedikit pemuda Waibalun yang memilih gadis-gadis di Lewolere sebagai istri, demikian pun sebaliknya. Tentang gadis-gadis Lewolere, muncul ungkapan, “orang Lewolere tidak hanya menyiapkan buah Ata yang manis, tetapi juga gadis-gadis yang manis dan ramah.”

Pekuburan St. Ignatius, sejak mula bukan menjadi tempat yang menyeramkan sebab di sana keluarga mencurahkan isi hati kepada anggota keluarga yang sudah meninggal, orang betah duduk di kubur, sampai berjam-jam lamanya. Di tempat ini pula, anak-anak muda yang saling suka, bertemu walau hanya sebentar, tetapi benih cinta mereka bertumbuh, dipelihara dan kemudian jadilah keluarga baru.

Pada tahun 2013, saat melakukan penelitian tentang welin di Waibalun (untuk kepentingan Tesis), saya mendapat beberapa pikiran yang istimewa (saya pilih beberapa yang ada kaitan dengan konteks tulisan ini).

Pertama, Waibalun dan Lewolere tidak lagi dipandang sebagai dua kampung yang terpisah, sebab perkawinan antardua pihak, merekatkan jarak sosial yang sebenarnya sudah terlebih dahulu dijembatani secara geografis oleh lapangan sepak bola, pekuburan, gereja, dan sekolah.

Kedua, konsekuensinya tuntutan untuk menikah dalam sistem likat telo dengan rumusan, ‘kalau mau cari jodoh, cari terlebih dahulu orang yang jadi morowana di kampung (di Waibalun), ” kini ditambah kalimat yang baru, “Kalau memang tidak ada lagi di dalam kampung, cari pasangan di Lewolere. ”

Ketiga, komunikasi budaya menerobos batas perbedaan, sehingga beberapa kebiasaan dalam urusan adat di Waibalun digunakan juga di Lewolere, demikian pun sebaliknya.

Kempat, beberapa tokoh yang saya wawancarai mempunyai cara pandang yang unik tentang hubungan Waibalun dan Lewolere yang kurang lebih saya bahasakan demikian, ‘pendidikan yang maju telah menjadi alasan untuk tidak lagi menganggap orang lain dengan sebelah mata, bahkan ada kecenderungan di kalangan orang muda saat ini, jika hendak menikah, pertimbangan mereka yang pertama bukan terutama siapa yang menjadi murowananya, tetapi pekerjaan dan pendidikan orang yang menjadi pilihannya.

Kelima, dengan demikian sudah cukup banyak generasi muda yang menikah di luar sistel likat telo yang sudah diatur, ada yang menikah terbalik, tetapi ada yang memang keluar dari sistem sehingga pembicaraan tentang welin kadang menjadi lebih alot.

Relasi yang lebih cair antara Waibalun dan Lewolere,  dua kampung yang kini terasa seperti satu kampung besar, kemudian melahirkan tanggung jawab yang lebih besar khusus dalam urusan adat istiadat (eret mata). Dan pada tanggal 02 November (secara khusus), lilin dibelanjakan lebih banyak dari biasanya, sebab pernikahan antara dua kampung tidak hanya mempersatukan keluarga yang masih hidup, tetapi juga dengan keluarga yang sudah meninggal. Untuk itu, keluarga ini tidak hanya membakar lilin di Waibalun, tetapi juga di Lewolere, demikian pun sebaliknya.

Akhir-akhir ini, Flotim sedang mempersiapkan diri menyambut pemilihan kepada daerah yang baru. Harapan kita semoga perbedaan pandangan politik tidak memecahbelah relasi sosial yang sudah dibangun, bukan hanya di Waibalun dan Lewolere tetapi juga di tempat-tempat lain di wilayah Flores Timur. Sebab tindakan yang merugikan kepentingan umum, bukan hanya membangkitkan amarah orang hidup, tetapi restu dari generasi pendahulu yang sudah meninggal tidak akan menyertai langkah para calon bupati. Sebaliknya, mereka yang bijak bersikap, lewotanah akan menyertai. (Bill Halan)

4 Comments
  1. 2 tahun ago
    berrye

    Mantap pa Bill Halan..tulisan yg sangat menginspirasi dan menarik… semoga semangat ini menjadi semangat bersama utk bangun lewotanah…

    • 2 tahun ago
      bill halan

      tnks pa berrie, ini menjadi catatan dan masukan untuk kabarmisionaris

  2. 1 tahun ago
    Larantukan Suster

    mengenang semua yang terjadi di kampung halaman….ada JIWA kita di sana yang tetap hidup di sini, dimana kita semua berada…