Marta dan Maria: Memilih Bagian yang Terbaik (Renungan untuk hari Minggu, 17 Juli 2016)

marta dan maria

http://kabarmisionaris.com/marta-dan-maria-memilih-bagian-yang-terbaik-renungan-untuk-hari-minggu-17-juli-2016.html

Oleh: Alfons Betan, SVD

Bacaan: Kej.18:1-10; Mzm.15:2-5; Kol.1:24-28; Luk.10:38-42

Ada dua jalan hidup yaitu hidup sebagai kaum awam yang membentuk kehidupan berkeluarga  dan  hidup sebagai seorang rohaniwan / ti. Kita harus memilih salah satu daripadanya yang kita pandang terbaik bagi kita untuk menemukan kebahagiaan.

Penulis kitab Kejadian dalam Kej.18:1-10 menyajikan cerita tentang kunjungan Tuhan lewat tiga utusan-Nya kepada Abraham dan memberitakan bahwa dia dan Sara isterinya akan mempunyai seorang anak laki-laki.

Penginjil Lukas dalam Luk.10:38-42 menampilkan kunjungan Yesus ke rumah Marta dan Maria (Luk.10:38-42). Teks ini hanya kita temukan dalam injil Lukas. Marta menerima kedatangan Yesus dan mulai sibuk melayani. Tidak diberitakan pelayanan jenis apa yang membuat Marta itu sibuk. Mungkin sebagai  seorang perempuan dan tuan rumah, Marta sibuk dengan urusan rumah tangga misalnya menyediakan makanan dan minuman bagi Yesus yang datang bertamu.

Rupanya, Marta melihat bahwa saudarinya Maria, tidak turut menyibukkan diri menyediakan makanan dan minuman, tetapi berada dekat Yesus dan memusatkan perhatiannya pada usaha mendengarkan-Nya.  Bagi Marta, sebagai tuan rumah yang harus menghormati tamu, Maria harus bertindak seperti dia. Mungkin, Yesus sedang lapar dan haus; Ia membutuhkan makanan dan minuman sesegera mungkin. Untuk itu, perlu keterlibatan aktif Maria juga agar kebutuhan Yesus bisa segera dipenuhi. Saling membantu dalam pelayanan merupakan hal yang amat penting demi memenuhi kebutuhan Yesus. Itulah harapan Marta.

Namun, rupanya apa yang Marta harapkan tidak segera dilaksanakan oleh Maria. Oleh sebab itu, ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri ? Suruhlah dia membantu aku ?” (ay.40).

Timbul pertanyaan, mengapa Marta tidak mendekati Maria dan menegurnya secara baik agar ia pun membantu, tetapi meminta Yesus untuk menegur ? Sungguh tidak etis, tuan rumah (Marta) meminta tamu (Yesus) menegur Maria yang adalah tuan rumah juga.

Kalau kita membaca teks ini secara saksama, maka kita dapat mengatakan bahwa rupanya sikap Maria, yaitu ‘berada dekat Yesus dan memfokuskan perhatiannya untuk mendengarkan-Nya’ itu menimbukan kejengkelan atau kemarahan Marta yang sibuk melayani.  Jadi sikap ‘menerima’ Yesus yang diperlihatkan Marta, kemudian dilanjutkan dengan pelayanannya terhadap Yesus yang sejak awal mungkin dilakukan dengan gembira, kini berubah, dan diwarnai oleh perasaan jengkel atau marah terhadap Maria karena Maria tidak membantunya. Mungkin inilah yang mengurangi nilai pelayanannya.

Setelah mendengar permohonan Marta, dengan tenang Yesus berkata,“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara; tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.” (ay.41-42).

Penginjil Lukas memberitakan bahwa Yesus menyapa Marta dua kali. Angka ‘dua’ memperlihatkan kegenapan, kepenuhan yang dijiwai oleh kesungguhan atau ketulusan hati Yesus; ada rasa empati-Nya terhadap Marta. Ia sungguh menghargai dan berterima kasih atas pelayanan Marta terhadapnya. Namun alangkah baiknya, pelayanan itu didasarkan pada yang satu bagian yang terbaik yaitu ‘terlebih dulu mendekatkan diri pada Tuhan untuk mendengarkan’ Dia. Justru ‘mendengarkan Dia’ itulah yang dilakukan Maria.

Pada waktu itu, Yesus sedang berada dalam perjalanan menuju Yerusalem. Dalam perjalanan-Nya itu sudah dua kali Ia memberitakan tentang penderitaan dan wafat-Nya yang akan terjadi di sana (Luk.9:22-27/parl; 9:43b-46/parl). Dengan itu, Ia menggenapi seluruh karya perutusan yang telah dipercayakan Bapa kepada-Nya. Maksud pemberitaan-Nya itu adalah supaya para murid-Nya setia mengikuti-Nya sampai pada peristiwa salib. Sebagaimana Ia akan dibangkitkan dalam kemuliaan Paskah, maka mereka yang setia mengikuti-Nya pun akan mengalami hal yang sama.

Dalam hal ini, pemberitaan yang sudah Ia sampaikan kepada para murid, ingin Ia sampaikan juga kepada Marta dan Maria. Karena itulah, Ia menginginkan agar keduanya terlebih dulu mendengarkan Dia.

Saya mau menjelaskan juga ungkapan ‘yang terbaik’ seperti yang tertulis dalam teks Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Ada orang mengatakan bukan ‘yang terbaik’ tetapi ‘yang lebih baik.’ (Luk.10:42). Bagi saya, memilih bagian ‘yang lebih baik’ mengandaikan adanya dua pilihan, yaitu melayani seperti yang dilakukan Marta atau mendengarkan seperti yang dilakukan Maria. Ungkapan ‘yang terbaik’ mengandaikan adanya beberapa pilihan, dan orang harus memilih salah satu daripadanya yang dipandang ‘yang terbaik.’

Namun dalam Luk.10:38-42, kita hanya menemukan dua hal, yaitu melayani dan mendengarkan. Namun perlu saya sampaikan di sini bahwa mungkin berdasarkan keinginan Yesus bagi para murid-Nya, dan dalam Luk.10:38-42 ini, dilakukan oleh Maria serta ditegaskan oleh Yesus sendiri, maka hanya ada satu bagian yang terbaik, yaitu ‘mendengarkan’ Tuhan (Luk.10:42), baru disusul dengan karya pelayanan.

Jadi idealnya, karya pelayanan itu hendaknya dilandasi oleh kesediaan untuk terlebih dulu mendengarkan Tuhan sehingga pelayanan itu berdasarkan kehendak-Nya dan bukan kehendak kita manusia.

Sekalipun penginjil Lukas tidak memberitakan secara eksplisit kehendak Yesus bagi Marta dan Maria dengan kedatangan-Nya ke rumah mereka itu, namun dari konteks cerita seperti yang sudah saya sampaikan di atas, maka saya bisa katakan bahwa dengan ‘mendengarkan’ Dia, mereka dapat mengetahui kehendak atau keinginan-Nya. Mungkin Ia menghendaki agar mereka pun harus setia mengikuti-Nya.

Untuk itu, seperti yang Ia kehendaki bagi para murid-Nya, maka Marta dan Maria pun harus bersedia menyangkal diri, memikul salib-Nya setiap hari, lalu mengikuti-Nya (Luk.9:23). Menyangkal diri berarti mereka harus bersedia menghampakan diri, merendahkan diri dan bersedia melayani (bdk.Flp.2:5-8Mrk.10:45).

Memikul salib merupakan konsekuensi dari penyangkalan diri. Kalau mereka mau mengsongkan diri dan melayani sesama, maka mereka harus bersedia memikul salib penderitaan. Dalam hal ini, yang diutamakan adalah kepentingan orang lain, dan justru karena itulah, mereka harus rela berkorban.  Itulah yang dihayati dan dilakukan Yesus dalam seluruh karya perutusan-Nya.

Kalau mereka bersedia untuk menyangkal diri, dan memikul salib, maka mereka pun bisa menjadi pengikut-pengikut-Nya. Menjadi pengikut-pengikut-Nya bukan untuk memperoleh kenikmatan duniawi, malah justru sebaliknya. Kehendak Yesus seperti ini bagi para pengikut-Nya termasuk Marta dan Maria, mungkin dipandang bodoh oleh orang-orang tidak beriman, yang ingat diri dan enggan berkorban atau pun  yang lebih suka menikmati kenikmatan duniawi.

Namun mereka yang dengan penuh kesadaran, iman dan cinta mau mengabdikan seluruh hidup-Nya demi terwujudnya Kerajaan Allah  (kebahagiaan, keselamatan, perdamaian, kesejahteraan bersama) di tengah masyarakat, akan memperoleh keselamatan dari Tuhan sendiri. Ia tidak akan menutup mata terhadap mereka dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Ia akan memberikan mereka kebahagiaan dan keselamatan.

Mungkin dalam hidup harian, kita sering berlaku seperti Marta. Kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu baik bagi orang-orang lain, namun kita mungkin tidak sadar bahwa yang kita lakukan itu tidak  mereka kehendaki. Jadi apa yang baik menurut kita, belum tentu baik bagi mereka dan belum tentu mereka butuhkan.

Alasannya karena  kita tidak berlaku seperti Maria terhadap Yesus. Kita kita tidak berada dekat mereka dan tidak mendengarkan mereka. Kita sibuk dengan banyak perkara dan karena itu kita lupa bahwa hanya ada satu hal yang terpenting yaitu berada dekat Tuhan dan mendengarkan-Nya.

Karena kita sibuk dengan banyak urusan ini dan itu, kita merasa heran, aneh, marah atau jengkel melihat saudara/i kita yang tidak seperti kita, tetapi menggunakan kesempatan tertentu untuk mendekatkan diri pada Tuhan, berdoa kepada-Nya dan mendengarkan Dia. Kita menyibukkan diri dengan pelbagai urusan duniawi sedangkan mereka mendahulukan dan mengutamakan Tuhan yang terlebih dulu harus mereka dengarkan sebelum mereka berkarya.

Mendahulukan dan mengutamakan Tuhan dalam hidup tidak berarti kita mengabaikan urusan-urusan duniawi. Namun sebagai orang beriman kepada Tuhan, kita hendaknya menyadari bahwa dalam hidup hanya ada satu hal yang terbaik seperti yang dilakukan Maria, yaitu terlebih dulu mendekatkan diri pada Tuhan dan setia mendengarkan-Nya. Kita hendaknya berperan sebagai murid yang harus setia berguru pada-Nya. Kalau kita berlaku demikian, maka sebagai murid-murid-Nya, kita akan melaksanakan kehendak-Nya, dan bukan kehendak kita. Seperti yang pernah dilakukan-Nya bagi para murid-Nya sebelum mereka diutus (Luk.9:1-2), kita pun akan dilengkapi dengan kuasa dan kekuatan-Nya untuk mewartakan Khabar Gembira.

Dengan mendekatkan diri kita pada-Nya dan setia berguru atau mendengarkan-Nya, maka kita pun akan ditolong-Nya untuk mempunyai sikap ‘takut akan Tuhan’ (bdk.Mzm.15:4), maksudnya bersikap sebagai orang beriman dan mengungkapkan iman itu tidak hanya dalam kegiatan-kegiatan rohani tetapi juga dalam aksi-aksi sosial. Kalau kita memiliki sikap ini, maka kita sadar bahwa Dia hadir di antara kita dan menjadi tokoh harapan kita (bdk.Kol.1:27). Kita akan berjalan dan berjuang bersama-Nya.

Dengan berguru pada Tuhan, kita akan memperoleh kebahagiaan batin, dan itulah yang menjadi dasar utama bagi kita untuk berkarya. Karya pelayanan kita akan kita lakukan dengan sikap batin yang sudah dipenuhi oleh kebahagiaan. Kalau sudah demikian, maka kita akan berhasil dan siapa pun yang akan kita layani atau jumpai akan merasakan jamahan kasih Tuhan lewat kehadiran dan karya kita itu. Mereka merasa senang juga, karena  berkat perjumpaan kita dengan Tuhan itu, kita pun didorong agar mendekatkan diri kita pada mereka dan bersikap terbuka mendengarkan mereka.

Dengan mendengarkan mereka, kita tahu apa kehendak mereka dan kita bersama-sama menjalin kerjasama dalam karya nyata demi kepentingan bersama.Kita membuat program bersama, memberi kepercayaan dan membagi tugas di antara kita; lalu kita bersama-sama melaksanakan program tersebut, dan sesudah itu kita membuat evaluasi bersama, dan begitu seterusnya.

Dengan mendekatkan diri kita pada sesama untuk mendengarkan mereka, kita mengungkapkan kasih dan penghargaan kita. Mereka akan merasa senang karena kita bisa berbuat demikian. Hidup bersama (keluarga, komunitas religius) akan menjadi harmonis apabila ada kesediaan untuk saling mengasihi dan mendengarkan. Kita hendaknya membulatkan tekad kita untuk menampilkan ‘yang satu’ ini demi kebagiaan bersama.

Yesus yang pernah bertamu di rumah Marta dan Maria, akan bertamu juga dalam rumah, komunitas dan ‘rumah hati’ kita, apabila kita selalu terbuka untuk mendengarkan Dia. Dengan demikian, Dia pun akan membimbing kita agar berusaha agar saling mendengarkan, membantu dan membahagiakan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *