Lukisan dari Orang yang Dicap Gila! (11/10/2016) (9)

http://kabarmisionaris.com/lukisan-dari-orang-yang-dicap-gila.html

http://kabarmisionaris.com/lukisan-dari-orang-yang-dicap-gila.html

Pernah dengar nama Museum L’art Brut Lausanne di Swiss? Ini adalah museum yang didirikan seniman Perancis, Jean Dubuffet, pada tahun 1976. Dubuffet memperkenalkan istilah Art Brut ini pada tahun 1940-an.

Colin Rhodes dalam Outsidrer Art-Spontaneous Alternatives (2000) menuliskan bahwa, Dubuffet mengenalkan istilah Art Brut untuk karya-karya seni di tempat –tempat yang tidak diharapkan. Karya itu terutama dihasilkan penyandang gangguan jiwa.

Di museum bergengsi ini, terjapang karya-karya seni dari Indonesia dan itu adalah hasil coretan tangan Ni Tanjung. Ibu berusia sekitar delapan puluh tahun ini tinggal di kamar sempit tidak berjendela, di rumahnya.

Selama kertas tersedia, Ni Tanjung tak akan berhenti menggambar wajah dan figur di atas kertas yang lalu digunting mengikuti bentuk gambar. Gambar itu lalu diwarnai dengan krayon serta dijepit dengan bilah bambu dan diberi pegangan seperti wayang kulit.

Dalam sehari, puluhan rupa menjadi gambar lugu, mentah, yang seakan bercerita. Biasanya, Ni Tanjung menggambar sambil menceracau dalam bahasa Bali. Pada tahun 2014, ribuan aneka rupa karya video, foto, dan karya-karya seni rupa Ni Tanjung dan kehidupan Ni Tanjung ditampilkan dalam “L’Art Brut dans le Monde” di Lausanne, 06 Juni-2 November 2014.

Karya Ni Tanjung dipajang bersama karya pelaku seni Brut dari Jerman, Brasil, India, Sisilia, Eskimo, dan Benin. Ni Tanjung, bersinar dan menunjukkan kepada dunia tentang kemampuan orang-orang terasing yang dicap gila oleh masyarakatnya.

Ni Tanjung, melalui lukisan-lukisannya telah menunjukkan bahwa dirinya adalah perempuan  merdeka yang tidak terbelenggu oleh batas apa pun.

“Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka. Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan (Galatia 4: 31-5:1) (Bill Halan)

Sumber inspirasi Kompas 28/08/ Agustus 2014

keterangan foto: Lukisan Oa Edda Tukan,  yang ia pajang di depan rumahnya di Flores Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *