Kualitas Seseorang Diukur dari Perbuatannya: Buah yang Baik Datang dari Pohon yang Baik

budidaya-apel-merah

Bacaan: (Luk 6:43-49 )

Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi. Salam satu hati dalam mewartakan Sang Sabda. Semoga Anda sekalian tetap sehat dan kuat dalam menapaki setiap panggilan hidup.

“Hari ini kita merenung satu topik yang sangat kontekstual: Kualitas hati seseorang diukur dari perbuatannya, sama seperti buah yang baik, datang dari pohon yang baik.”

Ketika saya masih bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan gigi palsu, suatu siang saya tersentak kaget, ketika melihat beberapa gigi palsu yang sudah tercecer di atas meja kerja. Lalu saya bertanya kepada rekan saya, “Kenapa barangnya tidak dikirim?”  Ia menjawab, “Ini ngak dikirim soalnya salah produksi. Kalau salah produksi biasanya ngak dikirim karena nanti kita bisa kehilangan kepercayaan dari pelanggan. Mereka butuh barang yang bagus.”

Manajemen mutu memang sangat penting untuk sebuah usaha. Perusahaan tetap mempertahankan kualitas dengan cara memperhatikan produk yang diluncurkan. Biasanya, di sebuah perusahaan ada pihak yang berperan untuk mengontrol setiap produk yang diproduksi. Mereka mempunyai hak untuk memutuskan produk tersebut bisa diluncurkan ataukah tidak.  Dalam quality control tersebut,  biasanya yang ditekankan adalah kualitas atau mutu dari sebuah produk karena setiap produk yang akan beredar di pasar  mewakili  perusahaan tersebut.

Pihak perusahaan tahu bahwa customer akan menilai kualitas sebuah perusahaan berdasarkan produk yang diproduksi. Kalau perusahaan dengan standar yang biasa-biasa saja akan menghasilkan kualitas barang yang rendah mutunya. Perusahaan ternama akan menghasilkan barang yang bagus dengan mutu yang bagus.

Masih dalam relasi antara perusahaan dan kualitas sebuah produk, Tuhan Yesus pada hari ini memberikan sebuah perumpaan mengenai pohon dan buah. Tuhan Yesus menegaskan bahwa tidak ada pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik dan juga tidak ada pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya.

Dari analogi pertanian, selanjutnya Yesus menegaskan pada sikap manusia. Ia mengatakan bahwa orang yang baik akan mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendahraannya yang  jahat. Karena apa yang diucapkan mulut dan yang kelihatan dari perbuatannya, itu  keluar dari perbendaharaan hatinya. Tindakan seseorang menjelaskan kualitas hatinya. Jadi periksalah perbuatan kita lalu periksa pula perbendaharaan yang ada di dalah hati kita.

Selanjunya, pada ayat 46 sampai 49,  Tuhan Yesus memberikan  dasar bagi orang yang percaya kepadanya. Orang yang menjalankan firman Tuhan itu sama dengan orang yang mendirikan rumah di atas batu wadas sehingga ketika badai datang sekalipun rumah itu tidak bisa digoyahkan. Demikianpun sebaliknya.

Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi. Aku bisa mengetahui dan mengenal diriku  melalui aksi atau perbuatanku. Tanamkanlah benih sabda Yesus ke dalam diri kita agar kita memiliki perbendaharaan yang kaya akan kebaikan dan cinta.  Orang yang memiliki perbendaharaan kasih, ibaratnya membangun rumah di atas wadas. Ia mewartakan kasih Yesus dalam setiap perbuatannya. Tanpa mengasah hati secara mendalam maka kita justru akan menghasilkan buah yang merugikan banyak orang. (Hans Baltazar Asa)

Sumber: http://bibitbunga.com/wp-content/uploads/2015/10/budidaya-apel-merah.jpg