KONFLIK BERLARUT, BIANG PERCERAIAN

Romo Thoby yang terhormat. Setelah mencari informasi bagaimana caranya supaya bisa kontak dan omong-omong dengan Romo,… koq susah amat. Pada akhirnya salah seorang teman menyarankan, sebaiknya sms saja sampaikan masalahnya, pasti akan dijawab. Karena saya dengar dari beberapa teman mengatakan bahwa kalau Romo lagi melayani konsultasi, HP dimatikan. Alasannya, lebih mengutamakan orang yang sedang berada di hadapan Romo. Mendengar itu saya berkata dalam hati itu baik, dan saya sungguh menghargai kebijakan Romo.

 

Begini Romo, nama saya Roni, sudah 13 tahun hidup berumah tangga. Kami mempunyai dua orang anak – satu laki dan satu perempuan. Kedua anak ini  baik dan pintar. Kami berdua (saya dan istri) saat ini sedang mengalami kesulitan hidup berumah tangga.

 

Terus terang saya mengatakan bahwa sejak bulan-bulan awal hidup berumah tangga, kami sering bertengkar karena beda pendapat, dan tidak pernah ada kata sepakat. Masing-masing kami mempertahankan pendapat sendiri. Tidak ada hari tanpa konflik – bertengkar terus. Dan di dalam suasana pertengkaran yang memanas itu semua kata kasar dan yang berbau fitnah dan menghina, keluar begitu saja tanpa kontrol. Dan ini tidak baik untuk anak-anak kami.

 

Saya mempunyai kecemasan, kalau konflik yang berlarut-larut ini tidak diredam akan berakibat fatal. Bagaimana pendapat Romo yang sudah biasa berhadapan dengan masalah-masalah rumah tangga? Wassalam! Roni  

Roni yang baik hati. Saya cuma berpendapat. Pada awal kehidupan rumah tangga, semuanya berjalan sungguh sangat bagus. Kerukunan dan keharmonisan sangat kentara antara pasangan suami istri. Kemesraan bagi pasangan ini, sepertinya tidak sudi dibiarkan berlalu, harus tetap mewarnai seluruh kehidupan berpasangan.

Kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa kehidupan berumah tangga sekarang  sering dikejutkan dengan gugatan cerai oleh salah satu pihak. Problem semacam ini biasanya terjadi lantaran banyak pasangan memendamkan aneka masalah atau hambatan yang dirasakan dalam relasi sebagai pasangan sudah sejak lama. Semuanya dipendamkan sendiri biar tidak terjadi keributan, percecokan atau perselisihan dalam rumah tangga. Tindakan pembiaran sudah menjadi kebiasaan. Tanpa disadari bahwa dengan membiarkan konflik berlarut-larut dalam perkawinan itu bisa menjadi biang masalah yang berujung pada perceraian.

Roni yang baik, saya cuma mengingatkan Anda untuk mewaspadai beberapa gejala  yang mengancam nasib perkawinan.

Gejala pertama,Tidak lagi memiliki kesamaan – Para pakar dan pemerhati keluarga mengatakan bahwa mereka (suami – istri) mungkin masih hidup seatap, tetapi tidak dalam kamar yang sama. Mereka jarang terlibat dalam dialog atau percakapan intim. Hambarnya bahkan hilangnya komunikasi merupakan gejala utama adanya masalah besar dalam perkawinan.

Hasil dari sebuah komunikasi yang unik antara pasangan suami istri adalah Perhatian penuh . Pasangan dapat saling mendengarkan pikiran dan perasaan masing-masing tanpa terganggu kegiatan lain seperti menonton televisi atau membaca koran.

Kedua pasangan pun tidak perlu khawatir akan reaksi pasangannya sekaligus mereka membebaskan diri dengan mengeluarkan uneg-uneg.

Lebih dekat – Pasangan yang menyisihkan waktu berdua tanpa interupsi hal lain, lebih memahami pasangan dan merekatkan hubungan. Pasangan dapat saling mendukung dan memberi masukan agar hubungan  tetap erat.

Gejala kedua, Tidak saling berbagi informasi – Pasangan tidak lagi saling berbagi informasi tentang perkembangan karir, masalah-masalah pribadi atau prestasi pribadi.

Masing-masing orang lebih sering curhat pada alamat yang salah atau dengan orang lain ketimbang dengan suami/istri sendiri. Ketika Anda menjadi orang terakhir yang mengetahui informasi penting dalam kehidupan sebagai pasangan suami istri (tentang suami atau istri Anda), hal itu berarti di sana sudah ada masalah serius.

Gejala ketiga,Segala perbuatan selalu dianggap salah – Salah satu pasangan merasa bahwa gerak-gerik dan tindakannya selalu diawasi, dicurigai dan dikritik; merasa ditekan atau diintimidasi karena kritik pasangan yang selalu negatif. Semua yang dilakukan seolah selalu salah.

Gejala keempat, Mencari penyebab masalah – misalnya pasangan suami istri  menonton televisi yang sama, namun tidak saling berinteraksi. Lebih sibuk membaca koran atau buku sambil menonton atau melakukan hal lain yang lebih menarik menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan perkawinan Anda berdua.

Gejala kelima, berdebat dan mengungkit-ungkit subjek yang sama berulang kali – Pertengkaran mengenai suatu masalah yang itu-itu saja menjadi kebiasaan Anda berdua. Meski telah bertengkar panjang lebar, kalian tetap tak mampu menemukan solusi. Dalam debat sering muncul godaan dan dorongan untuk saling memojokkan, menghina dan merendahkan pasangan. Untungnya apa?

Gejala keenam, Keintiman adalah bagian masa lalu – Menurun mutu atau kualitas kasih sayang dan keintiman secara fisik adalah salah satu gejala yang paling  umum dalam sebuah hubungan yang gagal. Keintiman menunjukkan ikatan lahir batin sebagai suami dan istri. Tidak adanya kedekatan hubungan dan keintiman menunjukkan rendahnya atau sedikitnya ikatan emosional sebagai suami-istri.

Roni yang baik, bila kehidupan perkawinan Anda dan pasangan mengalami beberapa gejala di atas, mulailah membangun komunikasi yang menjadi masalah dalam hubungan. Tanpa kedekatan dengan pribadi masing-masing, gangguan kecil apa pun dalam hubungan bisa berubah menjadi masalah serius.

Jika tidak mampu memecahkannya sendiri, mohon bantuan orang lain yang bisa dipercaya untuk memberi solusi. Jika perlu, berkonsultasi dengan konselor  perkawinan sebelum  memutuskan untuk bercerai sebagai jalan keluar. Jangan memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai secara emosional dengan pasangan sebelum berkonsultasi. Nasib anak-anak harus menjadi pertimbangan yang serius untuk sebuah solusi yang bijak. Berkat Tuhan.***

Dipublikasikan di Warta Flobamora April 2015