Jika Ya, Hendaklah Kamu Katakan: Ya!

http://kabarmisionaris.com/jika-ya-hendaklah-kamu-katakan-ya.html

Keputusan yang sifatnya tarik ulur kadang-kadang lebih menyakitkan ketimbang keputusan tegas, sekali diketuk palunya,keputusan dijalankan, suka atau tidak suka.

Nama pria ini Iwao Hakamada. Ia dicatat di Guinness World Records sebagai narapidana terlama yang menunggu eksekusi hukuman mati. Bayangkan, bekas juara tinju profesional Jepang ini sudah menunggu 44 tahun 5 bulan (Tempo 21 april 2013) untuk dieksekusi mati. Pria 77 tahun itu telah mendekam di bui sejak September 1968. Namun, setelah sekian lama ditahan, dakwaannya diduga keliru, dia dinyatakan bersalah telah membunuh pemilik perusahaan supdi Prefektur Shizuoka dan membakar rumahnya pada juni 1966.

Keputusan pemerintah yang tarik ulur ini menuai dampak yang buruk. The Telegraph melaporkan kondisi Hakamada semakin buruk, dia didignosa menderita ganggunan kejiwaan karena tertekan. Pikiran dan perasannya diobrak-abrik selama masa-masa penantian.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga ketika kita berada di pihak pengambil keputusan. Dilema itu sering terjadi, tetapi keputusan yang tegas dengan segala risikonya, justru lebih bermanfaat ketimbang membiarkan situasi dalam ketidakpastian untuk rentang waktu yang lama. Dalam bahasa anak muda sekarang, muncul istilah PHP  (Pemberi Harapan Palsu), “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat (Mat 5:37)

Salah satu rujukan yang sering digunakan orang beriman ketika membuat keputusan adalah adanya sikap takut akan Tuhan. “Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada perintahNya…Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kapda kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan” (Mzm 112:1,6-7) (Bill Halan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *