Jangan Pelihara Mentalitas Bos

lazarus-dogs-b

Bacaan: Am 6:1a,4-7; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31.

Ketika seseorang meninggal dunia, apakah ia tiba-tiba berubah menjadi malaikat? Ia yang suka menindas orang lain, tiba-tiba menjadi pembela keadilan? Ia yang suka menciptakan ketidakharmonisan, tiba-tiba menjadi pembawa damai? Apakah karakter seseorang, tiba-tiba berubah? Boleh iya, boleh tidak.

Injil hari menunjukkan satu pengalaman yang istimewa. Orang kaya yang hidupnya berkelimpahan, ia selalu dilayani, saat meninggal dunia, masih membawa mentalitas bos. Kok bisa? Mari kita periksa setiap pernyataan yang keluar dari mulutnya.

Kutipan Pertama. “Lalu ia berseru, katanya: “Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Luk 16: 24). Lihat, orang kaya ini masih mau memerintahkan Bapa Abraham, ‘suruhlah.’ Ini perintah si kaya yang pertama, ia merasa bahwa si Lazarus itu harus datang dan membantu dirinya.

Kutipan Kedua. “Kata orang itu: Kalau demikan, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku” (Luk 16: 27). Ini perintah si kaya yang kedua.

Kutipan Ketiga. “Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seseorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat” (Luk 16: 30) Ini adalah pernyataan si kaya yang mau mengatur bapa Abraham.

Si kaya yang bermental bos, saat meninggal pun tetap membawa mentalitas seorang bos. Ia masih merasa diri berkuasa dan bisa mengatur segala-galanya, mulai dari memerintahkan Lazarus sampai mengatur Abraham.

Tuhan Yesus melalui perumpamaan ini menegaskan satu hal yang istimewa, bahwa perubahan pola pikir, sikap, dan tutur kata, itu terjadi di dunia kini dan di sini. Saat meninggal segala kebiasaan buruk pun turut serta. Mengubah pola pikir, tutur kata dan perbuatan, sudah terlambat.

Bapa Abraham saat menanggapi permintaan orang kaya, menegaskan demikian, “Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” (Luk 16: 26)

Jurang itu menjadi simbol akan jarak relasi yang tercipta karena cara pandang. Cara pandang itu terungkap melalui sikap. Lihat saja sikap orang kaya saat masih di dunia. Ia membuat jarak dengan Lazarus yang hadir di depan matanya. Injil tidak mencatat bahwa orang kaya ini menyapa, ataupun berkomunikasi dengan Lazarus. Itulah jarak, itulah jurang yang diciptakan.

Sama halnya dengan kita, seandainya ada orang yang dekat dengan kita, tetapi jika kita menutup ruang komunikasi dengannya, ia yang dekat justru menjadi asing dan jauh. Sebaliknya, dengan berkomunikasi, saling menyapa, saling menghargai, ia yang asing akan menjadi dekat, jarak itu runtuh dan jembatan akan terbangun. Perubahan sikap mulai hari ini.

“…kejarlah semua itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (1 Tim 11)”…pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Ams 6:6) Sebab “Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar (Mzm 146:8). (Billl Halan)

sumber foto:

https://sangsabda.files.wordpress.com/2016/02/lazarus-dogs-b.jpg?w=570&h=338

http://publicdomainvectors.org/photos/Anonymous-rich-man-strutting.png