“Jang Coba-Coba…..” In Memoriam Suster Maria Theresia PRR (1940-2018)

Suster Maria Theresia PRR

Pada tanggal 17 Februari 2018, saya mendapat kiriman gambar dari seorang teman. Wajah di foto sangat itu familiar. Senyum dan gayanya pun tetap sama. Persis seperti saya mengenalnya belasan tahun lalu. Satu hal yang saya ingat adalah pendengarannya yang tajam.

Tahun 2001, orang tua mengirimkan saya untuk masuk asrama, setelah mereka merasa bahwa kalau saya tinggal bersama keluarga, itu tidak membuat saya menjadi pribadi yang mandiri. Terhitung sejak pertengahan bulan Oktober tahun 2001, saya resmi menjadi anak asrama Stellamaris. Ibu asrama kami adalah Suster Maria Theresia PRR, kami sapa Suster Esi.

Awal masuk saya disuguhi dengan begitu banyak peraturan: bangun pagi pukul 04.30, 05.30 misa pagi, 06.30 – 07.30 sarapan, 07.00 – dan seterusnya kuliah atau sekolah, doa malam pukul 19.00, dan begitulah selanjutnya rutinitas kami. Rutinitas yang selalu sama sering menggoda kami untuk melanggar peraturan. Dengan jumlah anak asrama ±100 orang, belum tentu Sr. Esi bisa melacak keberadaan kami.

Langkah suster yang mulai lambat, tentu tidak akan mudah menangkap ‘basah’ anak asrama yang bolos. Usia Sr Esi waktu itu kira-kira 60 -an. Beberapa panca inderanya tentu sudah mulai kalah karena faktor usia, sebut saja mata dan telinga. Itu kesimpulan kami dan ini juga yang menjadi alasan bagi kami untuk tidak pernah takut melanggar peraturan asrama.

Suatu ketika, datanglah kabar ke asrama bahwa di lapangan Polda Kupang akan digelar konser dengan artis yang akan manggung adalah Dorce Gamalama. Tentu bukan artisnya melainkan berada di luar asramalah yang menjadi daya tarik untuk ikut serta dalam keramaian itu. Peraturannya adalah setiap asramawati yang akan keluar harus meminta izin terlebih dahulu.

Ketua asrama diutus untuk bertemu suster Esi. Penjelasan panjang lebar dan masuk pada inti bahwa kami ingin pergi ke konser tersebut. Beberapa orang menguping di luar ruang tamu. Kami berada cukup jauh dari ruang itu. Melihat teman-teman yang menguping senyam-senyum, kami jadi berbesar hati. “Ini pasti kabar baik.”

Setelah hampir 20 menit, teman-teman yang menguping tadi segera melarikan diri. Spontan kami pun masuk ke kamar, entah kamar siapa kami tak tahu. Dari balik jendela kami melihat ketua asrama keluar dengan wajah yang masam. Suster tetap berada di depan pintu ruangannya.

Setelah menunggu agak lama, akhirnya kami bisa keluar dari “kamar sementara” dan segera menuju ke kamar ketua asrama. “
Bagaimana, suster ijin kah?” Serempak kami bertanya. “Hiih, ijin apa? Suster Esi malah suruh kita lebih baik belajar.” Dan sejuta alasan yang baik yang sudah tidak ingin kami dengar. Kami putuskan untuk bolos malam itu. “Kita sudah minta ijin, siapa suruh Suster tidak ijinkan?” Didukung lagi dengan pernyataan, “Coba kalau suster kasi ijin, kita pasti keluar baik-baik, to?”

Setelah mengikuti doa malam, beberapa dari kami beralasan membeli beberapa perlengkapan kuliah di Kios Aci, beberapa lainnya beralasan ke warnet untuk mengerjakan tugas, sedangkan beberapa yang lainnya yang cukup berani sudah hilang dari sejak sore tadi. Kami pun bergerak menuju lapangan.

Malam itu, kami sungguh bersenang-senang di lapangan tempat Dorce Gamalama bernyanyi. Kami lebih memilih untuk berjalan-jalan sambil membeli beberapa kacang tanah yang dijual “mama-mama Sabu” di pinggir lapangan. Nyanyian atau joke yang dilontarkan Dorce tidak kami simak, intinya adalah kami bebas menikmati malam itu.

Jarum jam mulai menunjukkan pukul 22.00. “Aii, masih terlalu sedu ee kalo kita pulang sekarang.” Kata seorang teman asrama yang disambut anggukan setuju dengan sedikit senyum sumringah. Kami kembali menghanyutkan diri dalam keramaian di lapangan Polda NTT. Hingga akhirnya kami sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 lebih. Spontan masing-masing kami menunjukkan wajah takut.

“Aii, mari sudah kita pulang.” Sepanjang perjalanan pulang itu, doa didaraskan dalam hati, berharap supaya Suster Esi lupa mengunci pintu pagar asrama. Setengah berlari sambil takut sambil juga sesekali tawa kecil menghiasi wajah kami. Takut dihukum membersihkan area asrama yang lumayan luas dan juga tawa karena malam ini begitu seru.

Tiba di depan gerbang, salah satu kakak asrama mengecek pintu pagar. Ternyata pintu sudah digembok. Alternatifnya terpaksa memanjat pagar. Tapi pagar besi yang sudah tua itu tidak mungkin diajak bekerja sama untuk diam ketika dipanjat. Akhirnya kami memutuskan memanjat sudut pagar yang terbuat dari beton dengan risiko mesti berkonsentrasi penuh karena sedikit saja kaki meleset maka rahasia kami terbongkar.

Beberapa teman yang lain berjaga-jaga, jangan-jangan ada suster yang baru pulang dari panti asuhan atau ada Pak RT. Rupanya tidak ada. Satu per satu dari kami mulai memanjat dan tiba dalam area asrama dengan selamat. Teman yang tidur di kamar depan tentu tidak mungkin ke kamar mereka. Di sana ada anjing penjaga yang tak peduli, siapa pun pasti digonggong sekalipun dibujuk dengan daging empuk.

Kami memutuskan untuk melewati lorong belakang aula. Yah, tentu saja harus melewati kamar Suster Esi. Seperti pencuri kami berjingkat-jingkat melewati lorong belakang. Satu, dua, tiga, jinjitan. Aman. Kami berhenti sejenak menarik napas lega. Puji Tuhan. Suster Esi sudah beristirahat. Empat, lima, langkah berikut, tiba-tiba, “Helen, Elviyanti, Irma, dst.” Urutan nama yang disebut, persis urutan kami malam itu. Jawab atau tidak? “Iya, suster.” Akhirnya Helen buka suara. Kami yang lain langsung melengos di belakangnya. Alamat tidak baik.

Tidak ada pertanyaan lanjutan setelah kami menunggu beberapa menit. Akhirnya kami memutuskan terus ke kamar dan tentu sudah tidak berjinjit lagi. Tiba di kamar, kami sungguh tidak bisa tidur. Kebahagiaan ketika di lapangan hilang entah ke mana. Menunggu doa pagi besok sepertinya lama sekali. Dan menunggu dipanggil itu seperti menunggu kapal Awu masuk ke pelabuhan Ippi.

Akhirnya kami sepakat: daripada dipanggil lebih baik bertemu dan mengakui dosa serta menerima hukumannya. Pelan-pelan kami mengetuk pintu kamar Sr. Esi. Lalu terdengar suara dari dalam kamar Suster Esi, “Masuk!”. Helen lebih dulu masuk, begitu mendengar langkah kaki Helen di ruang tamu, “Elviyanti dengan Irma yang lebih dulu, Helen. Bukan kau!” Spontan saya dan Irma saling tatap. Bagaimana suster bisa tahu kalau yang hendak masuk itu Helen?

“Kalian itu, minggu lalu sudah tidak pergi gereja, minggu bolos nonton konser. Sekarang, kamu dua pergi kasi bersih WC dengan kamar mandi. Nanti saya suruh Ida yang cek.” Tidak sempat lagi mengajukan pembelaan diri, hanya “Iya, Suster.” Terus mulailah kami kerja rodi hari itu. Masih saya ingat perkataan Irma, “Mam tua ni, dia pu mata kalah ma jang coba-coba deng dia pung telinga.”

Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya. ~ Daniel 12:3

Selamat jalan Suster Esi, terima kasih untuk didikanmu. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini. (Maria Efianty, guru IPH Schools Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *