Ibu adalah Rumah

bunga

Tentang rumah, seorang pastor pernah mengungkapkan satu pernyataan yang masih sangat kuat melekat di batin saya, “Ibu adalah rumah.” Sehingga ketika kembali ke rumah, anak-anak ingin bertemu ibu mereka di rumah, kerinduan untuk kembali ke rumah adalah kerinduan untuk kembali bertemu ibu. Ketika ibu tidak ada lagi di rumah untuk apa lagi kita kembali ke rumah? Dalam arti yang lain, ke mana pun seorang ibu pergi, di sanalah anak-anak akan berkumpul, karena ibu adalah naungan bagi anak-anak, tempat segala perbedaan luntur, sebab ibu tidak pernah pilih kasih. Kehadiran seorang ibu, dengan demikian selalu menyadarkan anak-anak bahwa mereka adalah anak-anak sekalipun sudah berkeluarga.

Ketika anak-anak pergi jauh meninggalkan rumah, nama ibu selalu disebut karena nama itu menyejukkan. Ketika nama ibu disebutkan, anak-anak dari segala penjuru dunia bisa berkumpul, karena nama ibu menjadi magnit yang bisa membuat seorang nelayan meninggalkan jalanya begitu saja lalu pergi.

Dalam arti yang lebh luas, dia yang bisa menjadi rumah bagi orang lain, dialah ibu. Teman yang bisa menjadi rumah bagi orang lain, dia telah mengambil tanggung jawab seorang ibu. Saudara yang bisa menjadi naungan bagi orang lain, dialah ibu. Negara yang bisa menjadi rumah bagi warganya, dialah ibu (pertiwi). Dan mereka yang menyakiti hati seorang ibu, akan menuai reaksi yang dahsyat dari anak-anaknya. Anak-anak rela terbakar hangus untuk membela ibu mereka.  Dalam bahasa Tuhan Yesus, “Cinta untuk RumahMu menghanguskan Aku” (Luk 2:17) (Bill Halan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *