Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Minggu, 29 Mei 2016)

tubuh dan darah kristus

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen STFK Ledalero

Ungkapan ‘memecah-mecahkan’ berkaitan dengan perhatian dan kasih seseorang terhadap yang lain. Seorang ibu memecahkan sepotong roti untuk anak-anaknya sebagai tanda perhatian dan kasihnya kepada mereka.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini kita membaca atau mendengar cerita tentangYesus yang memperbanyak roti dan ikan lalu memberi makan kepada (mungkin) lebih dari lima ribu orang yang mengikuti Dia dan yang mendengarkan ajaran-Nya (bdk.Mat.14:13-21/teks parl).

Pada saat itu, “Ia memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada para murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak” (Luk.9:16). Kita menemukan juga ungkapan: ‘memecah-mecahkan roti’ dalam kisah malam perjamuan terakhir (Luk.22:19/teks parl; 1Kor.11:23-26) dan dalam kisah yang terjadi di Emaus (Luk.24:30). Selain itu, kita  pun menemukan ungkapan ini  dalam perayaan Ekaristi khususnya dalam konsekrasi.

Kalau raja Salem yang memberkati Abraham membawa roti dan anggur (Kej.14:18-20), maka Yesus, menerima lima roti dan dua ikan dari para murid-Nya,  lalu memperbanyaknya. Bukan hanya itu saja, karena Dia sendiri adalah Roti Hidup yang turun dari Surga  (Yoh.6:35.48). Ia ‘memecahkan-mecahkan diri’ dalam seluruh karya pelayanan-Nya sampai rela mengorbankan nyawa-Nya agar kita manusia yang berdosa ini yang seharus-Nya dihukum, bisa memperoleh keselamatan (bdk.Yoh.12:24).

Yesus yang satu dan sama ‘rela memecah-mecahkan diri-Nya’ agar menjadi banyak dan menjadi santapan rohani bagi semua pengikut-Nya. Itulah perwujudan cinta-Nya sebagai ‘Raja Salem’, Raja Damai (bdk.Mzm.110:4). Dengan ‘memakan-Nya,’ semua pengikut-Nya diajak untuk menjadi pembawa damai di mana saja mereka berada. Dengan demikian,  mereka nanti  bisa  memperoleh kehidupan kekal (Yoh.6:50-51).

Ungkapan: ‘memecah-mecahkan diri’ memperlihatkan kesediaan Yesus untuk berkorban. Hal itu  kita jumpai juga dalam Luk.9:10-17, di mana  kita mendengar bahwa sebelum memberi mereka makan, Ia  menerima para murid-Nya yang kembali dari tempat-tempat perutusan (Luk.9:1-6/teks parl). Kemudian Ia membawa mereka dan menyingkir ke sebuah kota bernama Betsaida sehingga hanya mereka saja bersama Dia. Kepergiaan mereka ke situ dimaksudkan agar mereka lebih saling mengenal, membina suasana persatuan dan persaudaraan serta kerjasama di antara mereka (Luk.9:10).

Akan tetapi ‘orang banyak’ mengetahui keberadaan mereka, lalu mereka pun mengikuti Dia. Ia menerima mereka yang datang kepada-Nya, mengajar mereka tentang Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk.9:11). Penginjil Matius memberitakan bahwa ‘ketika melihat mereka, tergeraklah hati-Nya oleh belaskasihan, dan Ia menyembuhkan mereka’ (Mat.14:14).

Belaskasihan Yesus mendorong-Nya untuk berdamai dengan situasi konkrit: berusaha menyesuaikan diri antara memenuhi kebutuhan-Nya untuk berada bersama para murid-Nya dan menerima mereka yang datang itu dengan senang hati. Tampaknya, Ia tidak merasa terganggu atas kedatangan mereka itu. Ia tidak memarahi mereka, melainkan memperlakukan mereka dengan baik.

‘Memperlakukan orang yang datang kepada-Nya itu dengan baik,’ lalu mengajar tentang Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit memperlihatkan bahwa Yesus sudah ‘memecah-mecahkan’ diri-Nya bagi mereka.

Ia rela berkorban karena terdorong oleh belaskasihan-Nya kepada mereka. Mungkin di antara mereka itu, ada yang datang dari daerah yang jauh dan kini mereka tidak mempunyai makanan lagi. Perintah-Nya kepada para murid-Nya untuk ‘memberi mereka makan’ menunjukkan kepada kita bahwa Ia mempunyai ‘kepekaan sosial yang besar.’ Ia mampu membaca dan mengetahui situasi mereka yang datang itu (yaitu merasa lapar dan kebutuhan  mereka untuk makan),  sekalipun hal itu tidak mereka ungkapkan secara terus terang.

Sekalipun Ia sudah tahu apa yang harus Ia lakukan, namun dengan perintah-Nya itu, Ia mengharapkan agar para murid-Nya juga mempunyai kepekaan sosial yang sama. Namun hal itu tidak terwujud. Dari reaksi mereka itu, tampak kedangkalan iman mereka dan ketidakberdayaan mereka mengatasi situasi konkrit. Bagaimana mungkin bisa memberi orang banyak itu  makan sedangkan yang mereka miliki pada saat itu hanya lima roti dan dua ikan  ? (Luk.9:13b).

Sekalipun demikian, di hadapan orang banyak, Ia tidak memarahi para murid-Nya.  Ia malah menyuruh mereka mempersilahkan orang banyak itu duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh sekelompok (Luk.9:14). Dengan suruhan-Nya itu, Ia menerima para murid apa adanya termasuk  kedangkalan iman mereka sendiri.

Dengan permohonan mereka kepada Yesus agar menyuruh orang banyak itu pergi  ke desa-desa atau kampung-kampung sekitar untuk mencari penginapan dan makanan, sebetulnya mereka tidak percaya bahwa Yesus bisa mengatasi masalah itu. Ironisnya, orang banyak itu datang kepada Yesus terdorong oleh kepercayaan mereka terhadap-Nya, sedangkan para murid yang hampir selalu berada bersama-Nya tidak mempercayai-Nya.

Perlakuan-Nya yang baik kepada para murid-Nya nampak juga dari pemberian kepercayaan-Nya kepada mereka untuk membagi-bagi roti dan ikan yang sudah Ia perbanyakan (Luk.9:16). Ia yang tidak dipercayai, kini  memberi kepercayaan kepada mereka untuk membagi-bagi ‘roti dan ikan’ agar orang banyak itu bisa makan dan  bisa hidup.

Ia menerima para murid apa adanya. ‘Lima roti dan dua ikan’ merupakan lambang kekurangan dan keterbatasan mereka. Ia menerima ‘pemberian mereka.’ Kemudian  Ia  ‘menengadah ke langit,’ berarti berkontak dengan Bapa-Nya dan menjalin persatuan-Nya dengan Bapa;  ‘mengucap berkat’ berarti bertindak sebagai Tuhan yang hadir di dunia dan pada saat itu: memberkati dan membuatnya menjadi banyak;  ‘memberikannya’ kepada para murid, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.

Diberitakan bahwa semuanya makan sampai kenyang, bahkan masih ada dua belas bakul penuh. Peristiwa itu menunjukkan kemahakuasaan Yesus dan perwujudan kasih-Nya kepada semua yang hadir pada saat itu.

Yesus telah ‘memecah-mecahkan roti dan ikan’ bagi orang banyak. Ia juga telah ‘memecah-mecahkan diri-Nya dalam pengorbanan-Nya di salib. Kita hidup oleh kasih dan pengorbanan-Nya itu. Apabila kita merayakan ‘Tubuh dan Darah-Nya,’ sebetulnya diajak sekaligus ditantang untuk tidak hanya datang menghadiri perayaan ini di gereja atau kapela tetapi terutama bagaimana kita berusaha mewujudnyatakan kesediaan Yesus  untuk berkorban demi kehidupan, kesejahteraan dan kebahagiaan sesama.

Seperti Yesus yang memberi makan kepada orang banyak, kita juga diharapkan untuk memecah-mecahkan diri agar bisa memberi makan sesama kita; bukan saja makanan jasmani tetapi juga makanan rohani. Banyak saudara/i  menderita kelaparan. Mereka harus kita bantu. Sering kita bersikap seperti Petrus dan teman-temannya itu, yang karena kedangkalan iman dan bermental suka cari gampang, tidak mau berkorban.

Dari para murid itu, kita hendaknya belajar untuk beralih dan berdialog dengan Yesus sendiri, menyerahkan semua persoalan kita termasuk ketidakberdayaan kita mengatasi masalah yang sedang kita hadapi kepada-Nya. Kita mempercayakan semuanya kepada-Nya, biarkanlah Dia sendiri mengatasinya. Dia lebih tahu daripada kita, bagaimana harus bertindak mengatasi masalah tersebut. Tetapi Roh-Nya mendorong kita juga  untuk bergerak, membuat sesuatu yang baik demi sesama yang menderita itu.

Selain itu, untuk mengatasi masalah ‘kelaparan’ di atas kita pun hendaknya memecah-mecahkan diri’ yaitu berusaha menjadi rendah hati untuk berdialog dengan sesama, bekerjasama dengan mereka mencari jalan ke luar yang baik. Seperti Yesus memberi kepercayaan kepada para murid-Nya, kita hendaknya berbuat demikian.

Kerjasama hanya bisa terjadi apabila ada suasana saling mempercayai di antara kita. Sikap ‘tahu segala-galanya dan meremehkan orang lain’ hendaknya kita hindari, karena hanya dengan keterbukaan untuk  menghargai dan menerima sesama apa adanya mereka, kita bisa menjalin kerjasama dengan baik.

Dengan menerima ‘Tubuh dan Darah Kristus’ dalam perayaan Ekaristi, kita bersatu dengan Dia. Dia datang dan berdiam di dalam diri kita. Dia yang Mahakudus kini berdiam di dalam keterbatasan dan kehinaan kita. Dengan ‘menerima-Nya, kita diilahikan-Nya’ tetapi sekaligus kita hendaknya sadar bahwa kita mempunyai ‘misi untuk menghadirkan-Nya dalam hati sesama kita.’

Hal itu bisa kita lakukan lewat kesediaan untuk ‘memecah-mecahkan diri’ dalam pengorbanan kita untuk  meluangkan waktu  secara khusus untuk  berdialog dengan Dia dalam doa, lalu membagi kekayaan rahmat-Nya itu  lewat kunjungan pribadi bagi sesama yang sedang menderita sakit; memberi waktu yang cukup untuk mendengarkan mereka yang mempunyai banyak persoalan dan tidak tahu kepada siapa mereka harus mencurahkannya; memberi dorongan bagi sesama yang sedang putus asa, kehilangan harapan atau yang sedang mengalami kegagalan;  menunjukkan kesabaran bagi sesama yang keras hati untuk bertobat; menciptakan suasana saling mempercayai dan menjalin kerjasama yang baik; berusaha untuk mengampuni dan  membawa damai dalam hidup bersama.

“Memecah-memecahkan roti” merupakan suatu anugerah Tuhan tetapi juga merupakan tugas bagi kita.  Dengan bantuan Roh Allah, kita berusaha mencontohi  Yesus yang adalah Roti Hidup (Yoh.6:35.48) agar sesama yang sedang mengalami ‘kelaparan’ (baik secara jasmani maupun rohani) bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup  mereka.

sumber gambar: http://www.mirifica.net/wp-content/uploads/2016/05/corpo-e-sangue.jpg

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *