Harapan Untuk Pemimpin Baru: Mari Kita Berbicara tentang Flotim

cafe

Salah satu indikator ketidakpuasan masyarakat Flores Timur (Flotim) terhadap pemimpin yang lama dapat diamati dari deretan harapan yang diungkapkan. Harapan yang meluap-luap, menjadi indikator ketidakpuasan terhadap kinerja kepala daerah sebelumnya, ketika masalah tidak segera diatasi dan menimbulkan kesan ke permukaan bahwa pemerintah ‘membiarkan’ atau memang tidak berdaya terhadap persoalan masyarakat. Ketidakberdayaan perlu diakui sebagai keterbatasan dan pembiaran perlu dilihat sebagai satu bentuk pengabaian terhadap tugas dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Dalam konteks pilkada yang berlangsung 5 tahun sekali ini, para kandidat kepala daerah harus juga memaknai dan menangkap harapan masyarakat sebagai harapan yang sudah terkoneksi dalam jejaring referensi tentang kesuksesan kepala daerah lain, di luar Flores Timur. Sehingga kriterium yang diharapkan dan ditetapkan masyarakat Flores Timur untuk kepala daerahnya adalah kriterium yang juga ia adopsi dari kesuksesan kepala daerah di tempat lain.

Beberapa contoh trend harapan masyarakat umumnya, misalnya, pertama, harapan akan kehadiran dan partisipasi aktif kepala daerah dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat. Kepala daerah yang sigap turun ke masyarakat, tanggap terhadap persoalan masyarakat dan lincah menjembatani antara kebutuhan dan potensi yang masyarakat miliki. Jika ada pemimpin di Flores Timur seperti ini, saya yakin  masyarakat tidak mengeluh bahkan mencaci maki di media sosial ketika kekurangan air atau karena listrik yang bermasalah. Jangan pernah bilang bahwa urusan listrik itu bukan sepenuhnya wilayah pemda sebab tugas pemda adalah segera mencari solusi atas persoalan masyarakat, masyarakat tidak perlu membuat rincian tentang tugas pemda.

Kedua, masyarakat mengharapkan agar kepala daerah terpilih adalah kepala daerah yang kreatif mendesain daerahnya untuk menumbuhkan perekonomiam masyarakat, kreatif mengembangkan kondisi yang kondusif untuk bertumbuhnya lapangan pekerjaan. Saya yakin di tempat seperti ini orang tidak lagi mempersoalkan tentang tenaga kontrak yang berlebih sebab lapangan kerja disiapkan dan penghasilan masyarakat pun menjadi lebih besar ketimbang pilihan untuk menjadi tenaga kontrak. Pada point ini, kebijakan untuk memangkas tenaga kontrak tanpa menyiapkan lapangan pekerjaan adalah juga suatu pengabaian tanggung jawab.

Ketiga, masyarakat mengharapkan agar kepala daerah terpilih adalah kepala daerah yang pandai dan transparan mengelola anggaran. Tidak banyak kepala daerah yang mau transparan terhadap masalah keuangan daerah, tetapi ada kepala daerah di tempat lain yang berani transparan mengelola keuangan bahkan berani melawan dan memenjarakan anggota dewan yang ternyata bermain-main dengan anggaran untuk memenuhi kantong pribadinya. Pemimpin Flotim terpilih diharapkan agar lebih berani dan terbuka mengelola anggaran. Ini hanya beberapa contoh yang tidak hanya menjadi harapan di Flores Timur tetapi juga di tempat lain.

Untuk mendapat pemimpin seperti ini, saya anjurkan kepada masyarakat agar mempertimbangkan beberapa aspek. Pertama, fokuskan perhatian pada kemampuan sang kandidat dalam memimpin Flores Timur dengan segala persoalannya. Jangan mati-matian membela kandidat tertentu karena ia masih anggota keluarga, karena kita punya sejarah bersama, karena satu suku, karena pernah punya andil untuk keluarga Anda. Bukan itu yang jadi kriterium utamanya, tetapi kapasitas sang kandidat.

Para tim sukses memang mendapat kepercayaan untuk memenangkan paket tertentu, tetapi pertanyaan penting untuk dijawab, apakah tim sukses bekerja karena memang ia yakin akan kandidat yang ia dukung atau karena ini menjadi kesempatan untuk memperoleh pengakuan, penghargaan, atau bahkan penghasilan. Dan jika pemimpin yang ia dukung itu justru menambah deretan panjang keluhan masyarakat Flotim, apakah tim sukses juga merasa bertanggung jawab karena telah mendukung orang yang salah dan mengajak orang lain untuk memilih orang yang salah?

Kedua, cara klasik yang sering digunakan untuk mengukur langkah seorang pemimpin ke depan adalah mengendus jejak yang pernah ia lewati. Dalam bahasa keseharian, periksa rekam jejak sang calon. Hal ini penting untuk mengukur kemampuan kepemimpinan sang kandidat, tentu dengan catatan bahwa evaluasi terhadap seorang kandidat perlu dilakukan secara proporsional, tidak asal mengklaim, untuk menjatuhkan pihak lawan, seolah-olah calon yang didukung adalah tokoh penyelamat (harapan mesianik).Proporsionalitas itu mengandaikan adanya penilaian yang berimbang antara kekuatan dan kelemahan.

Ketiga, periksa Visi-Misi. Kalau visi-misi itu jauh dari persoalan dan kebutuhan masyarakat, itu namanya salah alamat. Visi-Misi tidak bisa diturunkan dari langit, atau dipinjam dari kabupaten lain, tetapi dirumuskan sebagai jawaban atas persoalan dan kebutuhan masyarakat sehingga ada target dalam kerja. Untuk itu, mari kita periksa visi-misi dan program kerja para kandidat dan mengujinya. Para kandidat yang tidak memiliki visi misi dan program kerja yang terukur dan teratur perlu dievaluasi sejak awal sebab jika dibiarkan hal ini bisa berakibat fatal bagi Flores Timur, apalagi jika pemimpin seperti ini ternyata terpilih sebagai kepala daerah. (Bill Halan)