Thailand: Agama dan Budaya itu Satu

Thailand

Thailand

Anda kenal Tonny Jaa? Bintang film yang terkenal lewat debut pertamanya di film Ong Bak: Muay Thai Warrior? Namanya kemudian kian melejit di dunia perfilman lewat film-film laga yang dibintanginya.

Di tanah kelahiran Tonny Jaa, Thailand, agama Buddha Therevada berkembang luar biasa. Mayoritas penduduk (95%) beragama Buddha Therevada. Agama-agama lain, seperti Islam, Hindu, Taoisme, Konghucu, dan Kristen juga berkembang. Di Thailand kebebasan beragama dijamin luar biasa.

Bagaimana dengan kekristenan?

Pada tahun 1567, dua misionaris Dominikan datang ke kerajaan Siam untuk mewartakan Injil, tapi mereka kemudian dibunuh oleh orang Burma dua tahun sesudah itu (1569). Kemudian datang lagi misionaris Fransiskan dan Jesuit. Tentu mereka datang dengan keberanian ganda. Di tangan mereka misi mulai dihidupkan lagi.

Berangsur-angsur datang lagi misionaris MEP asal Prancis dan misionaris dari biara Redemptorist Missionaries (CssR). Redemptorist missionaries kemudian memperluas wilayah penyebaran agama Katolik sehingga makin banyak orang yang mengenal Kristus.

Meskipun cukup terbuka, orang Thailand masih memandang bahwa memeluk agama lain itu menjadi sesuatu hal yg “aneh”. Aneh karena hal itu tidak mengikuti tradisi dan kebudayaan. Ada kesan bahwa anak-anak yang dilahirkan membawa tradisi Buddhism dalam ‘nadi’ mereka. Ini kesan saya ketika memasuki perkampungan-perkampungan.

Orang tua pada prinsipnya menjamin kebebasan agama si anak. Tidak ada paksaan untuk memilih agama apa. Namun, sang anak tetap diarahkan untuk mengikuti tradisi dan kebudayaan Budhism.

Pandangan terhadap agama Katolik?

Pernah ada seorang anak menyebut gereja katolik sebagai gereja ‘Bule”. Gereja ‘Bule” karena dulu agama katolik diperkenalkan oleh misionaris Eropa berkulit putih. Gereja  “bule” terkesan seperti ‘sinter clauss. (Donatif). Sehingga orang ke gereja hanya untuk mendapatkan sesuatu berupa barang, makanan, bantuan lain.

Hal ini Ini masih terasa di daerah kampung tempat saya bekerja. Ketika hari Natal banyak sekali orang yang berdatangan ke gereja. Mereka menunggu sampai selesai misa dengan harapan agar pastor bisa membagikan hadiah-hadiah.

Terhadap kebudayaan setempat gereja juga melakukan inkulturasi?

Di Thailand, agama dan budaya itu satu. Sehingga menjadi orang Thailand berarti menjadi penganut Buddhisme. Dengan demikian,  perkembangan agama Katolik pun boleh dibilang gampang-gampang sukar. Di keuskupan kami, Keuskupan Udon Thani, iman katolik sudah diperkenalkan 125 tahun yang lalu. Dan kini jumlah umat dalam satu keuskupan 18.111 jiwa.

Gereja memang melakukan inkulturasi, tetapi dengan kesadaran bahwa  konsep masyarakat tentang kesatuan yang tak terpisah antara agama dan budaya, tak bisa diabaikan. Keduanya bagai dua sisi mata uang dalam satu keping logam. (Trynold Aza, Misionaris asal Atambua-Belu, Timor NTT, saat ini berkarya di Wilayah Isan, Distrik Chumpae, Provinsi Khon Khen)