Daniel Manek: Kerja menjadi Kesempatan Untuk Belajar

dan-1

Sesudah lama tidak bertemu, tanggal 19 Desember 2016, saya mendapat pesan melalui facebook bahwa sesama alumni Ledalero, Daniel Manek ada di Surabaya (kami berbeda tingkat di Ledalero. Saya dua tahun di atas Daniel. Perbedaan tingkat di Ledalero itu sama sekali tidak menjadi jurang pemisah apalagi menjadi ajang untuk membangga-banggakan diri sebagai senior dan yang lain yunior, sebab di bawah satu atap kami bersaudara dan persaudaraan kami sangat kental).

Pesan ini saya baca tanggal 20-12-2006, pukul 13.00 dan saya bergegas menuju Bubutan, tepatnya di Bank Commonwealth Surabaya.

Kami sepakat bertemu pukul 14.00, pukul 18.00 Daniel Manek sudah harus kembali ke Denpasar. Perjumpaan ini adalah perjumpaan yang menggembirakan dan mengalirlah cerita-cerita istimewa tentang perjuangan hidup.

Daniel Manek memang sudah berbeda: makin tinggi dan makin mekar, itu artinya makin makmur. Di balik semua itu, ada perjuangan yang luar biasa, pagi kerja di Bank Commonwealth di Bali sore harus mengajar di Universitas Saraswati. Bisa dibayangkan capek nya seperti apa? Hidup memang harus berjalan dan banyak orang tidak melihat hal ini.

Dalam sharing pengalaman, ada satu point menarik di antara hal lain yang Daniel Manek sampaikan tentang kerja.

“Banyak orang bekerja karena gengsi. Mereka lupa bahwa saat bekerja, kita belajar. Kadang-kadang orang berpikir bahwa kerja di bank itu hebat sekali, padahal nasib kita ditentukan, salah satunya oleh nasabah.”

Pointnya jelas, tinggal memilih: “Bekerja untuk mendapat status tertentu? Atau bekerja untuk mengembangkan potensi dan belajar dari orang lain.”  Daniel Manek memilih point kedua. Untuk hal ini memang orang harus belajar untuk rendah hati.

Tokoh panutan tentang kerendahan hati, Daniel Manek menyebut nama Pater Paul Budi Kleden, SVD. Di Ledalero, Dan Manek sering sekali mengantar dan menjemput Pater Paul Budi Kleden, SVD dengan menggunakan sepeda motor, ketika Pater Paul Budi sedang bertugas di luar biara. Tentu, selain pengalaman di kelas, pengalaman mengantar dan menjemput Pater Paul Budi meninggalkan kenangan tersendiri baginya tentang pentingnya menjadi rendah hati dan senantiasa belajar.

Perjumpaan yang singkat dan padat itu kami tutup dengan menikmati degan di pinggir jalan Bubutan. Tepat pukul15.30 kami berpisah sambil membawa sukacita dan inspirasi-inspirasi menyegarkan untuk melanjutkan hidup.

Good luck Dan, salam untuk keluarga.  Oh ya Dan…ada yang saya lupa untuk tanyakan. :Di Bali kalau ada bus lewat, orang teriak juga “Om telolet om?”

(Bill Halan)