Renungan Hari Minggu Palma, 20 Maret 2016: Biarkanlah Mereka Bergembira

Renungan Hari Minggu Palma

Renungan Minggu Palma: biarkan mereka bergembira

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

Dalam hidup harian, sadar atau tidak, sering kita merawat pandangan yang negatif tentang seseorang. Hal ini bisa terungkap dalam sikap kita yang serta-merta menolak orang itu.

Di sisi lain kita pun menghendaki agar orang-orang lain berpandangan dan bersikap yang sama. Kalau mereka berpandangan positif tentang orang yang bersangkutan dan menerimanya bahkan memandangnya sebagai tokoh panutan, lalu mengungkapkan kegembiraan tentang orang itu, kita berusaha untuk melarangnya.

Dalam Luk.19:28-40, Yesus seakan-akan menegur kaum Farisi yang melarang banyak orang untuk bergembira saat mereka berjalan bersama-Nya saat memasuki kota Yerusalem. Ia mau mengajak para pemimpin Yahudi itu agar mereka memahami mengapa orang banyak itu bergembira.

Orang banyak itu bergembira karena mereka telah menyaksikan  banyak mujizat yang telah Yesus lakukan. Mereka percaya kepada Yesus sebagai Putera Allah. Penginjil Lukas memberitakan bahwa mereka memuji Allah dengan suara nyaring: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi.” (Luk.19:38).

Dalam pernyataan itu, penginjil sebenarnya mengutip Mzm.118:26: “Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan…”. Kata-kata pemazmur ini ditujukan kepada orang yang diutus Tuhan (nabi) untuk melaksanakan kehendak-Nya, yaitu mewartakan pertobatan bagi bangsa Israel. Penginjil Lukas menerapkan utusan Tuhan itu pada pribadi Yesus, Dia yang dielukan orang banyak itu.

Bagi mereka Yesus adalah Raja. Ia datang ke dunia dan kini  atas nama Tuhan Ia memasuki kota Yerusalem. Dialah orang pilihan Tuhan dan karena itu Ia pribadi yang kudus. Apa yang diungkapkan orang banyak tentang Yesus khususnya tentang ‘kemuliaan di tempat yang mahatinggi’ hampir sama dengan yang dimadahkan oleh balatentara surga pada peristiwa kelahiran Yesus (Luk.2:14).

Kalau dalam madah bala tentara sorgawi itu dikatakan “damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya” maka dalam ungkapan kegembiraan orang banyak itu dikatakan, “damai sejahtera di sorga”. Yesus yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan itu membawa damai sejahtera dari surga ke dunia. Karena Dia adalah pewahyu Bapa-Nya yang adalah sumber damai maka Yesus, Raja itu adalah sumber damai dan pembawa damai.

‘Damai’ bukan hanya karena tidak  ada perang, kekerasan senjata, teror atau bom bunuh diri, tetapi terutama karena pribadi Yesus itu sendiri memberi damai. Karena itu, siapa pun yang terbuka untuk menerima-Nya dengan penuh iman dan kemurnian hati, akan menemukan damai sejahtera. Sebagai Raja yang datang ke dunia, Ia mempunyai kuasa Ilahi. Namun kuasa itu dimanfaatkan-Nya bukan untuk mencari keuntungan dan popularitas pribadi, melainkan semata-mata untuk melayani sampai Ia bersedia menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Mrk.10:45).

Mujizat-mujizat yang Ia lakukan membuat orang-orang yang mengalaminya sembuh dari pelbagai penyakit. Mereka  dibebaskan dari belenggu roh-roh jahat. Untuk itu mereka percaya kepada-Nya.

Begitu juga orang-orang lain yang menyaksikan mujizat-Nya itu, dan  yang  mungkin hanya  mendengar tentang peristiwa itu. Setelah mendengarkan-Nya mereka berusaha untuk datang kepada-Nya, selain untuk mendengarkan ajaran-Nya tentang Kerajaan Allah (Luk.5:1), tetapi juga memohon penyembuhan. Ia menerima dan melayani mereka yang datang kepada-Nya tanpa membeda-bedakan dan tanpa pamrih (Luk.9:11).

Selain para murid, orang banyak yang mengikuti Yesus memasuki kota Yerusalem itu pada umumnya adalah orang-orang kecil, miskin dan yang dilupakan dalam masyarakat Yahudi. Mungkin sekali dari antara mereka ada yang sudah lama mengikuti-Nya mulai dari Galilea. Mereka senang berada dan berjalan bersama-Nya. Sebagai ungkapan kegembiraan itu, selain bernyanyi (Mzm.118:26), mereka menghamparkan pakaiannya di jalan dan menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang (Mrk.11:8;bdk. Mat.21:8).

Di antara kelompok orang banyak itu, ada juga beberapa orang Farisi. Mereka tidak suka melihat ungkapan kegembiraan kaum kecil dan miskin. Pada dasarnya para pemimpin itu sebenarnya menolak Yesus, sekalipun pada saat itu mereka berada bersama-Nya. Mereka tidak merasakan makna positif dari kehadiran-Nya. Tampaknya, mereka  iri hati dan merasa terancam melihat Yesus yang mempunyai banyak pengikut.

Sebaliknya orang-orang yang mengikuti Yesus, bernyanyi dan bersorak-sorai memuji dan memuliakan Allah. Bahkan  mereka menarik  semakin banyak orang lain untuk bergabung. Hal itu ditakuti kaum Farisi. Untuk itu,  mereka meminta Yesus untuk menegur  kaum kecil supaya mereka diam. Tetapi Yesus menjawab:”Aku berkata kepada-Mu, jika mereka ini diam, maka batu-batu ini akan berteriak.” (Luk.19:40).

Dengan kata lain, biarkanlah mereka bergembira, apalagi mereka bergembira memuji dan memuliakan Allah. Kini Tuhan ada bersama mereka memasuki kota Yerusalem. Mengapa mereka disuruh diam membisu ?

Sebagai Raja, Yesus datang bukan dengan mengendarai mobil mewah atau kuda, melainkan dengan menunggangi seekor keledai, binatang beban yang biasa dipakai kaum kecil (miskin). Dengan berbuat demikian, Ia mau memperlihatkan diri-Nya sebagai Raja yang mencintai kaum kecil. Ia berkarya bagi siapa saja untuk mewujudkan damai sejahtera  dan kebahagiaan bersama.

Kehadiran-Nya yang seperti ini disambut gembira karena Yesus Raja mereka datang. Melalui kegembiraan itu mereka juga seakan-akan berpesan, kalau mau maju dan berkembang, mau hidup damai dan bisa mewujudkan kesejahteraan bersama, marilah kita menerima –Nya. Penginjil Lukas, lewat ungkapan kegembiraan orang banyak itu, mau mengajak kita sekalian agar terbuka menerima Yesus dan percaya kepada-Nya serta  menjadikan-Nya sebagai Raja, Pemimpin kita.

Dengan menerima Yesus dan percaya kepada-Nya, seperti orang banyak itu, kita pun bisa mengalami kegembiraan. Orang-orang Farisi ada bersama orang banyak itu, tetapi mereka tidak mengalami kegembiraan karena mereka tidak percaya kepada–Nya sebagai Raja mereka. Mereka pun tidak suka melihat orang banyak itu bergembira.

Mungkin dalam hidup harian kita, kita pun sering bersikap dan berlaku seperti orang-orang Farisi itu. Karena kita sudah menolak seseorang, sekalipun orang yang kita tolak itu berada bersama kita, kita tidak merasakan kegembiraan saat kita berada bersamanya.

Penolakan terhadapnya menghilangkan rasa damai dan kebahagiaan batiniah. Seorang suami yang karena kesalahan istrinya,  menolak  istrinya itu, sulit untuk merasakan kedamaian batin, sekalipun isterinya kini berada bersamanya. Kedamaian batin atau kebahagiaan hanya bisa dialami apabila ada keterbukaan hati untuk menerima istrinya itu termasuk kesalahan atau kekurangannya; ada kesediaan untuk mengampuninya.

Seperti kaum Farisi, dalam hidup harian, kalau kita sudah mempunyai pandangan yang negatif tentang seseorang dan dengan demikian menolaknya,  maka kita pun menghendaki agar sesama kita bersikap seperti kita. Kita marah atau tidak suka apabila sesama kita mempunyai pandangan positif, menerima dan mungkin memandang ‘orang itu’ sebagai tokoh ideal atau harapan.

Untuk itu, melalui firman Tuhan hari ini, hendaknya kita berusaha untuk mengubah pandangan kita yang negatif tentang sesama agar dengan demikian kita bisa menerima kehadirannya.

Dengan pendekatan pribadi dan dialog yang baik, kita bisa menumbuhkan dan merawat pandangan yang lebih positif dan obyektif tentang dia. Kalau sudah demikian, maka kita bisa mengusahakan kehidupan yang lebih baik. Ada  damai dan  kita bisa saling membahagiakan. Hal itu hendaknya kita usahakan dalam keluarga kita masing-masing.

Marilah  kita menerima Yesus, Raja Damai itu. Kita percaya bahwa Dia  membantu kita untuk bertobat terutama agar  bisa  menerima sesama dan  anggota keluarga kita dengan ikhlas hati; membuat pendekatan dan dialog yang baik.

Dalam suasana itu, kita pun bisa memahami mereka dengan lebih baik, mau belajar dari mereka bagaimana harus beriman, membantu mereka mewujudkan imannya dalam pelbagai kegiatan yang baik, dan turut bergembira bersama mereka khususnya ketika mereka mengungkapkan imannya  dan bukan melarang! Selamat merayakan hari Minggu Palma  dan selamat memasuki Pekan Suci.

Ledalero, Maumere, Flores, NTT.

Baca juga: Tenang Menghadapi dan Mengatasi Masalah

Sumber gambar:

http://gambar.radarpena.com/mei/images/LIFESTYLE/1.1%20Pelukan%20anak.jpg

https://www.lds.org/bc/content/shared/content/images/magazines/liahona/2015/04/pictures-of-jesus-with-children_1430363_inl.jpg