Berusaha Untuk Menerima ‘Yang Kembali’ dengan Hati yang Tulus

(Renungan untuk hari Minggu, 6 Maret 2016)korban gigitan

Oleh P. Alfons Betan, SVD

Dosen Kitab Suci STFK Ledalero

 

Dalam hidup, kita mungkin sering menerima sesama yang datang ke rumah kita. Mereka itu adalah orang-orang lain atau anggota keluarga kita.

Senang-tidaknya kita menerima mereka sangat bergantung pada pertanyaan, apakah kita tulus menerima mereka, apalagi kalau yang datang itu adalah orang-orang yang karena perbuatan-perbuatannya  sudah merugikan atau  menodai nama keluarga kita.

Perumpamaan Yesus dalam Luk.15:11-32 tentang anak hilang diberikan-Nya karena adanya   reaksi negatif para pemimpin Yahudi (kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat) terhadap-Nya karena Ia menerima para pemungut cukai dan orang – orang berdosa, lalu makan bersama-sama  dengan mereka.

Pada waktu itu bangsa Yahudi dijajah bangsa Roma. Sebagai bangsa jajahan, mereka harus membayar pajak, kemudian menyerahkannya kepada penjajah Roma. Para pemungut cukai tidak disukai oleh sesama Yahudi, selain dipandang bekerjasama dengan pihak penjajah  memeras sesama bangsanya, tetapi juga karena dalam menjalankan tugasnya, sering  memungut pajak melebihi jumlah yang sudah ditentukan oleh pihak penjajah.

Karena itu para pemungut cukai disingkirkan dari pergaulan masyarakat Yahudi karena dipandang sebagai orang-orang berdosa. Siapa pun yang bergaul atau bersahabat dengan mereka dipandang ‘menyetujui perbuatan mereka, dan karena itu harus disingkirkan juga.

Perumpamaan Yesus tentang ‘anak yang hilang’ yang ditujukan-Nya kepada para pemimpin Yahudi itu dimaksudkan untuk menyadarkan mereka tentang tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Ia datang untuk menyelamatkan semua orang termasuk para pemungut cukai dan siapa saja  yang  dipandang dan diperlakukan sebagai orang-orang berdosa.

Ia memanggil Lewi, seorang pemungut cukai untuk menjadi pengikut-Nya, dan Lewi segera meninggalkan segala-galanya, lalu mengikuti-Nya  (Luk.5:5:27-32). Ia  mendatangi rumah Zakheus (kepala pemungut cukai: Luk.19:1-10). Zakheus karena  merasakan  kebahagiaan atas kedatangan Yesus itu, lalu mengungkapkan pertobatannya: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang-orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Luk.19:8).

Karena kebaikan hati Yesus kepada para pemungut cukai dan orang-orang lain yang dipandang berdosa dan yang disingkirkan dalam masyarakat, datang kepada-Nya. Ia menerima mereka dengan tulus hati (Luk.15:1). Mereka  datang kepada-Nya selain karena sudah mendengar tentang Dia bahwa Ia mencintai siapa saja dan mewujudkan cinta-Nya lewat perbuatan-perbuatan baik, tetapi juga karena mereka sudah merasakan kebaikan-Nya itu.

Mereka itu seperti ‘anak bungsu’ yang membulatkan tekadnya untuk kembali kepada bapa dan menyatakan pertobatannya, selain karena terdorong oleh penderitaannya, tetapi terutama karena sudah merasakan cinta bapanya itu.

Dalam cerita tentang anak hilang itu, sebetulnya Yesus berperan sebagai ‘bapa’ dan kaum Farisi serta ahli-ahli Taurat adalah anak sulung. Sebagai bapa, Yesus mencintai mereka berdua. Apa yang Ia lakukan terhadap anak bungsu (para pemungut cukai dan orang-orang lain yang dipandang sebagai  pendosa seperti para pelacur)  mau menyadarkan para pemimpin Yahudi itu bahwa sebetulnya –  yang Ia lakukan itulah –  yang harus menjadi tugas dan tanggung jawab mereka juga.

Sebagai anak sulung, mereka ‘harus memperhatikan adiknya’ agar mereka tidak menjadi ‘hilang’ atau berdosa. Mereka harus mencontohi cinta bapa yang diperankan oleh Yesus, menerima dan mewujudkan cinta sejati bagi semua orang.

Yang  hilang (berdosa) sesungguhnya bukan saja anak bungsu tetapi juga anak sulung. Hal itu disebabkan karena anak sulung (para pemimpin itu) menutup pintu hatinya untuk menerima adiknya yang sudah kembali kepada Bapa.

Anak sulung mencap adiknya sebagai pendosa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama para pelacur dan dengan itu menodai nama baik keluarga. Ia mencap adiknya begitu jelek dan tidak mau tahu bagaimana perjuangan adiknya itu untuk bisa kembali kepada bapa. Ia pun mempersalahkan bapa karena menerima adiknya dan membuat pesta syukuran atas kembalinya (pertobatan) adiknya itu.

Bukan itu saja dosanya. Dalam kenyataan, dosa para pemimpin yang dalam cerita Yesus diperankan oleh anak sulung itu, adalah kemunafikan. Mereka  setia melakukan segala peraturan Yahudi (Taurat) tetapi menutup mata (hati) terhadap sesamanya khususnya kaum kecil, miskin dan pinggiran. Mereka hanya kelihatan taat melakukan  segala peraturan Yahudi dan dengan itu mau dipandang ‘saleh.’ Mereka memuji diri di hadapan Tuhan sambil meremehkan dan mengabaikan penderitaan sesama (Luk.18:9-14).

Kesalehan yang dikehendaki Yesus (bapa) bukan saja berkaitan dengan kesetiaan  memelihara relasi dengan Dia tetapi juga kesetiaan berbuat baik kepada siapa saja. Sebagai pemimpin, mereka harus mengambil inisiatif untuk melayani dengan ikhlas hati (Yoh.13:1-17; bdk.Mrk.10:45), tetapi justru itulah yang mereka tidak lakukan. Itulah sebabnya Yesus mengecam mereka (Mat.23:1-36).

Cerita penginjil Lukas tentang ‘anak hilang’ berakhir ‘terbuka.’ Penginjil tidak menceritakan apakah anak sulung bersedia masuk rumah dan menerima serta mengampuni adiknya. Mungkin inilah maksud penginjil, sengaja dibiarkan terbuka bagi para pemimpin Yahudi itu untuk  merenungkannya, menghayati dan mewujudkan kata-kata bapa kepada anaknya yang sulung: “Anak-Ku, engkau selalu bersama-sama Aku, dan segala kepunyaan-Ku  adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk.15:31-32).

Bagaimana pun juga, Yesus yang berperan sebagai bapa mencintai kedua putera-Nya. Ia menerima anaknya yang  bungsu yang kembali kepadanya dan ‘mengajak anaknya  yang sulung agar  kembali juga.’ Kembalinya anaknya yang bungsu sungguh membahagiakannya (Luk.15:7.10.32). Ia akan bertambah bahagia apabila anaknya yang sulung juga kembali kepada-Nya.

Itu berarti, anak sulung itu harus  bertobat lewat  ketulusan hatinya untuk memasuki rumah, menerima dan mengampuni adiknya. Ia juga harus bertobat, bukan saja setia menjalin relasi dengan bapa (Tuhan)  tetapi juga berbuat kasih kepada adiknya (sesama).

Kita berusaha untuk mencontohi bapa dalam cerita anak hilang ini. Kesediaannya untuk menerima anak bungsu yang bertobat dan menyadarkan anak sulung agar menerima (mengampuni) adiknya. Bapa itu tulus karena ketulusan mengandaikan adanya kesabaran-Nya dalam usaha menyadarkan ‘anak sulung yang merasa diri benar’  untuk bersedia menerima dan mengampuni adiknya.

Kita mungkin sering tidak  mencontohi bapa dalam cerita ini. Kita  menutup pintu hati kita  bagi anggota keluarga atau komunitas kita yang karena perbuatan-perbuatannya sudah mendatangkan kerugian yang besar baik materiil maupun moril. Nama baik kita menjadi rusak karena perbuatannya, dan karena itu kita sukar sekali untuk memaafkannya.

Kita pun mungkin  bersikap dan berperilaku seperti anak sulung yang memandang adiknya amat negatif, seakan-akan tidak ada yang baik dalam diri adiknya. Bagi anggota keluarga / komunitas yang telah  mendatangkan kerugian itu, barangkali kita  menutup pintu hati kita terhadapnya.  Tiada maaf baginya.

Karena kita sudah menutup pintu hati kita, maka kita pun mungkin tidak mau tahu tentang penderitaannya akibat  perbuatannya itu. Sambil melampiaskan kemarahan, kita  berkata: “Penderitaanmu terjadi karena perbuatanmu sendiri. Rasakan  akibatnya.” Karena itu juga, kita pun tidak mau tahu bagaimana ia  berjuang untuk bisa bertobat, mau kembali ke rumah  atau ke jalan yang benar.

Sering karena sudah menderita kerugian materiil (harta kekayaan) atau moril, muncul pertikaian dalam keluarga. Orangtua  mempersalahkan anak, anak mempersalahkan orangtua; begitu juga muncul suasana saling mempersalahkan di antara anak-anak. Tidak ada keharmonisan atau kerukunan. Kalau sudah demikian, rumah bukan lagi menjadi tempat kediaman yang membahagiakan. Tidak jarang, setiap orang keluar rumah mencari ‘kediamannya sendiri-sendiri.’

Kita  tidak menginginkan ketidakharmonisan itu terjadi dalam keluarga atau komunitas kita.  Belajar dari Bapa yang penuh kasih, mari kita berusaha untuk menerima dan mengampuni sesama dengan ketulusan hati. Dengan berbuat demikian, kita akan menemukan  kebahagiaan karena kita  membalas kejelekan (kejahatan) dengan kebaikan (Rm.12:21).  Berada dalam Kristus berkat rahmat pembaptisan, menurut rasul Paulus (2Kor.5:17) berarti menjadi manusia baru.

Salah satu hal yang hendaknya kita wujudkan sebagai manusia baru adalah berusaha mewujudkan perdamaian. Kristus sudah mendamaikan kita dengan Allah berkat wafat-Nya. Karena itu sebagai pengikut-pengikut-Nya, hendaknya kita berusaha untuk  membalas kejahatan dengan kebaikan, dan bersabar mewujudkan perdamaian dalam hidup kita,  serta berusaha ‘menerima dan mengampuni sesama dengan hati yang tulus’ terutama mereka yang telah merugikan kita dan yang kembali / bertobat.

sumber gambar:https://gustavharefa.files.wordpress.com/2013/03/perumpamaan-anak-yang-hilang-2.jpg

http://sekolahminggu.net/wp-content/uploads/2011/04/perumpamaan-anak-yang-hilang-7.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *