Bar dan Gereja di Brazil

bar dan gereja di Brazil

Bar dan Gereja adalah dua tempat yang sering dikunjungi umat di Brasil setiap akhir pekan

(Kisah  Pastor Oman Bonito, SVD, Misionaris Brazil)

Gereja. Bar. Dua tempat “sakral” bagi orang Brazil. Sakralitas dua tempat ini bisa dideteksi dari variasi perspektif.

Pertama soal jumlah. Jumlah gereja hampir setara dengan jumlah bar. Di setiap kota di Brazil terdapat banyak gereja, baik gereja katolik maupun gereja protestan dengan segala bentuk denominasinya.

Di samping banyaknya gereja, di setiap sudut kota pun ditemukan banyak bar. Ini satu kenyataan yang sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia. Di Indonesia bar tidak sembarang dibangun di setiap kota, selebihnya, bar selalu diindentikkan dengan tempat yang kurang baik.

Saya bekerja di sebuah kota kecil di pedalaman negara bagian São Paulo, Vista Alegre do Alto. Berdasarkan catatan statistik tahun 2015, jumlah penduduk di sini mencapai 8000 ribu lebih jiwa. Katolisisme menjadi agama dominan dengan prosentase 60 persen. Sisanya protestantisme dengan segala denominasinya.

Di kota kecil tempat saya bekerja terdapat 14 gereja. Ada dua gereja katolik, gereja yang menjadi pusat dan simbol kota. Di samping itu, terdapat belasan gereja protestant, seperti gereja evangélica, gereja universal, Kongregasi Kristen Brazil, gereja Quadrangular, gereja adventista, gereja katolik brazileira, espiritismo, Yehowah, etc. Jumlah seluruh gereja Kristen yang ada di kota hampir setara dengan jumlah bar. Coba bayangkan, ada 11 bar yang terdapat di kota kecil ini.

Kedua, gereja dan bar adalah dua tempat yang paling banyak dan sering dikunjungi orang Brazil. Biasanya mereka pergi ke bar pada akhir pekan. Umat katolik berbondong-bondong mengikuti perayaan ekaristi di gereja paroki, tetapi pada sisi lain, tidak sedikit pula orang Brazil di kotaku memilih untuk pergi ke bar. Jumlah mereka yang ke bar pada akhir pekan lebih banyak dari jumlah umat yang ke gereja.

Di Indonesia, hanya segelintir orang yang mengunjungi bar. Kebanyakan orang yang ke bar adalah orang-orang elit yang memiliki lebih banyak duit. Lebih repot lagi, orang yang pergi ke bar sering mendapat cap negatif.

Mengapa bar dan gereja menjadi tempat destinasi?

Bukan tanpa alasan ketika bar dan gereja menjadi dua destinasi bagi kebanyakan orang Brazil untuk menghabiskan akhir pekannya. Kedua tempat ini sepertinya sama-sama memiliki daya magis tersendiri yang sentuhannya tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Orang ke gereja pada akhir pekan dengan beragam motiviasi iman. Secara tradisi, umat di tempat saya bekerja adalah umat turunan Italia, Portugis, Spanyol dan Jepang. Dari latar belakang tradisi iman, mereka memiliki akar kekristenan yang sangat kuat. Karena itu, gereja merupakan tempat sakral untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Selain itu, umat memiliki keyakinan bahwa gereja merupakan tempat untuk mendapatkan mujizat secara instan lewat penumpangan tangan imam dan penerimaan tubuh dan darah Kristus. Alasan yang kedua lebih kuat terasa karena tendensi devosi popular yang sangat kuat melekat dalam ziarah iman orang-orang Amerika Latin. Bagaimana dengan bar?

Kalau banyak orang ke gereja karena alasan akar tradisi kekristenannya masih kuat dan ciri devosi popular yang kuat, maka bar juga tidak kalah daya tariknya dengan gereja. Orang berbondong-bondong ke bar untuk menikmati bir (cerveja), anggur (vinho), arak (cachaça), rokok (cigarro), sate yang berukuran besar (churrasco). Semuanya disatukan dengan alunan musik sertanejo (country) Amerika Latin.

Kalau di gereja orang mendapatkan keteduhan rohani-jiwa lewat renungan sabda Tuhan, maka di bar orang menemukan kebebasan dan keteduhan pikiran dalam tegukkan minuman segar. Bisa dimengerti bahwa iklim tropis negeri katulistiwa di tepi Atlantik ini turut membantu orang mencari kesejukan lewat minuman segar. Selain itu, kelelahan dari pekerjaan dan panasnya cuaca tropis turut menguatkan mereka untuk mencari kesejukan di bar.

Bar-Gereja dan keselamatan?

Berhadapan dengan realitas sosial-budaya umat seperti ini, saya bertanya dalam hati: Apakah orang yang ke bar tiap akhir pekan punya iman dan agama? Jangan-jangan mereka juga adalah umat agama Katolik?

Suatu senja, di salah satu akhir pekan (kebetulan saya tidak mendapat giliran misa), saya mencoba menyempatkan diri untuk berolah raga dengan berlari menyeberangi sisi-sisi kota. Kebetulan di sana disediakan tempat untuk joging.

Saya mengunjungi beberapa bar yang terletak di pinggir kota. Bertingkah seolah-olah  menjadi seperti seorang pekerja di industri gula. Sambil menyalami mereka yang berdesak-desakkan di bar, saya meminta kepada pemilik bar untuk memberikan saya sebotol Skol (satu jenis merk bir) dan dua potong churrasco (sate).

Saya bersikap ramah (memang akar Budaya saya di Flores-Manggarai adalah budaya ramah), dan melibatkan diri dalam percakapan dengan mereka yang sudah meneguk lebih dari lima kaleng skol. Kebanyakan dari mereka menyangka saya sebagai orang Bolivia (Boliviano). Ada beberapa lagi yang menyebut saya sebagai orang Kolombia (Colombiano).

Bukan tanpa alasan mereka memanggil saya demikian. Memang tampang orang Bolivia dan kolombia mirip-mirip dengan potongan diri saya. Itu kata mereka, tetapi hal itu tidak penting. Orang Brazil dikenal sebagai orang yang ramah, hangat dan cepat akrab. Dayung-dayung perahu dua tiga pulau terlampau, saya pun terbenam bersama kegembiraan mereka. Bernyanyi bersama dan bersulam-sulaman dengan kaleng bir.

Sekat antara kami mulai runtuh. Kami menjadi seperti sahabat dan keluarga. Malam hampir tiba. Percakapan selesai. Saya pun pamit pulang. Mereka menarik saya untuk bertahan sebentar.

Pertemuan kali ini sepertinya biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang istimewa. Ternyata enak juga minum bir segar ditemani sate hangat dan musik sertanejo. Hidup seperti mimpi, tidak ada beban. Saya masih sangat penasaran dengan mereka yang setiap akhir pekan selalu menghabiskan waktu di bar. Seperti apa keyakinan mereka?

Dengan metode ala Maumere-Flores, regang wiit (terjun ke tengah masyarakat tanpa memperkenalkan identitas sebagai pastor atau biarawan), saya kembali mengunjungi bar. Kali ini saya mengunjungi bar yang lain. Dari dalam diri saya punya keinginan untuk menenggak banyak minuman beralkohol tetapi lambung saya tidak cukup kuat untuk menahan keasaman alkohol. Saya lebih memilih untuk bisa menahan diri.

Di bar yang kedua ini, pengunjung meminum minuman beralkohol sambil berfoya-foya. Mereka menari tidak teratur, merokok, mendengar musik, ada juga yang berteriak-teriak karena mabuk. Dan situasi seperti ini ternyata juga terjadi di bar-bar lainnya.

Terhitung sejak berkarya di tempat ini, saya sudah mengunjungi 9 bar dari 11 bar yang ada. Saya mengenal banyak orang di bar. Setelah melalui wawancara informal, saya menjumpai bahwa hampir 80 an persen dari mereka adalah umat Katolik non aktif. Maksudnya umat katolik yang tidak biasa ( atau tidak aktif ke gereja, bahkan tidak pernah ke gereja termasuk saat paskah dan natal, kecuali saat kematian).

Ya, saat kematian. Umat yang saya jumpai di bar, sering juga saya jumpai di ruang mayat dan pekuburan kota. Saat kematian salah seorang warga kota, semua warga kota pergi melayat di rumah duka ‘kota’ (karena orang yang meninggal tidak disemayamkan di rumah tetapi di rumah layat umum yang disediakan pemerintah).

Dalam salah satu wawancara lepas dengan mereka tentang alasan untuk tidak mampir ke gereja, variasi jawaban muncul. Ada beberapa yang menjawab bahwa mereka mempunyai pengalaman traumatis dengan pastor terdahulu. Pastornya kejam dengan umatnya. Meskipun demikian, mereka tidak murtad (pindah agama), tetap katolik bahkan mati dan masuk surga pun sebagai katolik.

Umat yang lain menjawab bahwa mereka tidak mau ke gereja karena mereka merasa tidak layak. Ada lagi yang menjawab bahwa mereka mempunyai pengalaman traumatis dengan sesama anggota gereja yang terlibat aktif dengan kegiatan di gereja, sehingga setiap kali ke gereja dan melihat orang yang telah menyakiti hatinya, rasa sakit di hati itu selalu muncul. Dari pada sakit hati itu selalu menghantui, mendingan tidak usah ke gereja.

Ada pula umat yang menyampaikan demikian kepada saya,“bagaimana mungkin kami bisa mengenal pastor dan pastor mengenal kami, kalau setiap akhir pekan pastor ke gereja merayakan misa dan kami ke bar untuk minum bir? Kita tidak saling mengenal karena kita tidak pernah bertemu di gereja. Tetapi pastor jangan berkecil hati. Kami pasti menghargai dan siap membantu pastor”

Salah satu hal yang menarik perhatian saya lagi bahwa mereka begitu jujur akan pengalaman hidup mereka. Lebih terkejut lagi ketika mendengar mereka mengatakan, “pastor jangan menyangka bahwa kami tidak memiliki iman dan tidak memenuhi kewajiban gereja. Kami membaca kita suci setiap hari di rumah (saya agak meragukan pernyataan ini, mungkin mereka sedang mabuk saat menjawab); membayar sepersepuluh yang kami miliki untuk gereja (yang ini saya percaya karena memang dari minggu ke minggu jumlah sepersepuluhan selalu mengalami peningkatan)” mereka menjelaskan.

“Kami terlibat dalam kegiatan karitatif (yang ini saya percaya karena memang banyak kelompok karitatif). Terakhir mereka katakan, “meskipun kami tidak ke gereja kami tidak pernah berbuat onar di kota ini, tidak mencuri, tidak membunuh orang, tidak membuat tawuran, dan jenis tindakan destruktif lainnya. Kami memang mabuk tapi kami tidak pernah mengganggu dan merepotkan orang lain di kota ini (yang ini saya sangat percaya karena memang kota ini sangat aman, tidak pernah saya mendengar akan adanya kasus pembunuhan dan perkelahian di kota karena adanya orang mabuk. Pencurian terjadi tetapi kebanyakan pelakunya datang dari luar).

Gereja dan bar. Dua tempat sakral yang sangat kontradiktoris. Gereja tidak menjadi sarana mutlak bahwa orang itu sangat beriman, humanis dan beragama, apalagi menjadi sarana satu-satunya untuk memperoleh keselamatn. Bar tidak secara mutlak dan ofensif sebagai tempat yang menghambat orang menikmati keselamatan. Agama, iman dan keselamatan itu soal hati. Hati sebenarnya bait Allah (Gereja yang sesungguhnya). Orang boleh ke bar tetapi dalam hatinya ada bait Allah-gereja itu sendiri. Atau sebaliknya, orang yang ke gereja bisa jadi hanya ada bar di dalam hatinya. Spiritualitas sekaligus konsep soteriologis (keselamatan) untuk orang bar adalah: keselamatan itu bukan soal seberapa sering kita pergi gereja dan missa, tetapi seberapa dalam kita berbuat baik untuk sesama dan diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *