“…Bahkan Ia Tidak Berani Menengadah ke Langit”

http://kabarmisionaris.com/bahkan-ia-tidak-berani-menengadah-ke-langit.html

http://kabarmisionaris.com/bahkan-ia-tidak-berani-menengadah-ke-langit.html

Bacaan: Sir. 35:12-14,16-18; Mzm. 34:2-3,17-18,19,23; 2Tim. 4:6-8,16-18; Luk. 18:9-14.

Di bait Allah, dua orang berdoa dengan cara yang berbeda: Si Farisi mempertontonkan kepada Tuhan bahwa dirinya adalah orang yang paling baik, sedangkan si pemungut cukai berdiri jauh-jauh karena dosa sudah membuatnya berjarak dari Tuhan. Perbandingan ini Tuhan Yesus gunakan untuk menilai cara berdoa yang dibenarkan Tuhan sekaligus mengkritik cara berdoa orang Farisi.

Ada hal penting yang terungkap dari perumpamaan ini, yakni tentang kedekatan relasi dengan Tuhan. Kedekatan itu erat kaitan dengan pengalaman mengalami kemurahan, kebaikan  dan cinta Tuhan dalam hidup.

Bagaimana rasanya kalau kita justru bertindak di luar dari komitmen yang sudah kita bangun bersama sosok yang begitu mengasihi kita? Apalagi jika pelanggaran itu dilakukan berkali-kali. Ada perasaan tidak nyaman, tidak enak, dan malu. Dan perasaan ini ada di hati, soal hati.  “…bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13).

Sikap pemungut cukai ini dibenarkan Tuhan. Pemazmur mengingatkan, “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. “ (Mazmur 34:19)

Hal ini berbeda ketika orang sudah terlalu terbiasa berbicara tentang Tuhan dalam setiap pengajaran, atau dalam setiap pembelajaran, sampai-sampai ia merasa bahwa dirinya paling paham tentang Tuhan, paling mengerti kemauan Tuhan, apalagi ketika ia merasa sudah menjalani setiap aturan yang ditetapkan Tuhan.

Orang ini memiliki kecenderungan untuk  mengatur dan mengontrol Tuhan. Bahkan, ia merasa bisa mengajak Tuhan untuk bersama-sama mempersalahkan orang lain. Ini masalahnya ketika pengetahuan dan pemahaman tentang Tuhan tidak dibangun di atas pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

Saya mengutip Sirakh 35: 12-14, “kerapkali aku di dalam bahaya maut, tetapi diselamatkan dari padanya berkat pengalamanku itu. Roh orang yang takut akan Tuhan akan hidup, sebab harapannya tertaruh pada Dia yang menyelamatkannya. Barangsiapa takut akan Tuhan tidak kuatir terhadap apapun dan tidak menaruh ketakutan sebab Tuhanlah pengharapannya.”

Tokoh penting dalam karya pewartaan, Rasul Paulus, sudah mengalami kasih Tuhan dan ia langsung berbalik dari keinginan untuk mengejar para pengikut Kristus dan menjadi pengikut Kristus yang setia, ia menjadi pewarta firman yang ulung.

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menulis, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. “(2 Tim 6-7)

Pengalaman mengalami bagaimana Tuhan mengasihi kita, itu menjadi pengalaman yang unik. Ada orang yang merasa bahwa Tuhan sungguh hadir ketika diampuni atau dimaafkan atas kesalahannya. Ada juga yang mengalami bagaimana Tuhan sungguh menguatkannya ketika ia mengalami kehilangan orang yang paling dikasihi. Ada pula yang mengalami bagaimana Tuhan menyembuhkan sakit yang ia alami. Setiap orang punya pengalaman masing-masing.

Pengalaman-pengalaman ini mengajarkan kita tentang sikap rendah hati dan takut kepada Tuhan. Pengalaman ini menggerakkan kita untuk menjadi pewarta firman: mewartakan pengalaman iman bersama Tuhan. “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu: puji-pujian kepadaNya tetap di dalam mulutku.” (Mazmur 34: 2).  Selamat mewartakan iman di  Hari Minggu Misi. (Bill Halan)