Aturan dan Penghargaan terhadap Martabat Manusia

ham

Bacaan Injil Lukas 6: 1-5

Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi. Selamat  berjumpa lagi di akhir pekan  dan salam satu hati dalam mewartakan Sang Sabda. Semoga Anda dan semua orang yang Anda  cintai selalu berada dalam lindungan Tuhan.

Renungan akhir pekan mengantar kita untuk merefleksikan secara khusus tentang aturan hari Sabat. Menurut tradisi Yahudi, pada hari Sabat, semua orang wajib berpuasa. Tentang aturan dan pelaksanaannya, saya ingin berbagi cerita.

Beberapa bulan yang lalu, saya bersama  teman-teman guru membuat evaluasi tentang prestasi belajar  siswa. Hal ini bertujuan untuk memantau  dan memastikan siapa yang unggul dan patut naik ke kelas berikut dan siswa mana yang harus tahan kelas atau malah harus keluar dari sekolah.

Setelah membuat pengayaan, diputuskan bahwa salah seorang siswa yang duduk di kelas tujuh tidak naik kelas dan bahkan harus keluar dari sekolah karena nilai yang diperolehnya, jauh di bawah standar yang dikeluarkan sekolah. Dengan demikian, pimpinan memukul palu dan naaslah nasib anak didik itu.

Beberapa hari kemudian, sekolah membagi rapor kepada siswa dan mengumumkan siswa mana yang tidak naik kelas. Pada saat itu, siswa yang tidak naik kelas menjadi sangat sedih. Semangat untuk sekolah pun mulai pudar. Ia kehilangan harapan, tetapi orang tuanya menguatkan. Bahkan, orang tua mengajak anak mereka menghadap kepala sekolah dan meminta dengan penuh harapan agar pihak sekolah bisa mempertimbangkan lagi keputusan untuk menahan anak ini di kelas 7.

Mereka bersedia menanggung segala risiko jika di kelas 8 siswa ini tetap tidak berubah. Dan entah atas pertimbangan apa, tiba-tiba kepala sekolah dan para anggota dewan melakukan pertemuan mendadak dan mereka membuat keputusan yang mengejutkan para guru. Siswa tersebut akhirnya naik kelas 8. Secara kasat mata, pimpinan sekolah memang sudah melanggar aturan yang sudah mereka tetapkan sendiri, tetapi sebenarnya mereka sedang memperjuangkan nilai lain di balik ketatnya aturan itu.

Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi. Injil hari ini mengisahkan tentang sikap Yesus menghadapi teguran orang Farisi. Yesus dan para murid berjalan di ladang gandum dan para murid memetik bulir-bulir gandum dan memakannya. Orang Farisi yang melihatnya berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari sabat ?”

Menganggapi hal itu, Yesus berkata demikian,”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikan kepada pengikut- pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh para imam?”

Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi. Aturan itu tetap menjadi aturan, tetapi di balik aturan tersebut, kualitas seorang manusia harus dimuliakan. Tuhan Yesus tahu bahwa orang Farisi lebih suka menjadikan aturan sebagai alasan untuk menindas orang lain, artinya aturan di tangan orang Farisi digunakan untuk merendahkan martabat manusia.

Orang Farisi lupa dan pura-pura tidak tahu bahwa aturan dibuat sebagai sarana untuk membantu manusia berkembang, bukannya mematikan harapan, mematikan gairah untuk bertumbuh. Kisah injil ini mengingatkan kita untuk senantiasa menempatkan penghargaan yang tinggi terhadap hak hidup manusia. Selain itu, aturan juga hendaknya tidak kita jadikan sarana untuk mematikan harapan orang lain untuk bertumbuh.  (Hans Baltazar Asa)

sumber gambar:

https://3.bp.blogspot.com/-UZ6vtTSng78/VureHCD4oMI/AAAAAAAAAlM/I72T_PT_ud4s83w3RTJVibPksvy3AEBwwCPcB/s1600/ham.jpg