Angka Genap Pada Kelopak Kamboja dan Peringatan Arwah Tanggal 02 November

 

Awal bulan November selalu menjadi bulan terindah bagi umat Katolik Paroki St. Ignatius Waibalun. Sejak ditutupnya doa Rosario di KUB sebagai akhir bulan Rosario, kini saatnya pekuburan umum dibersihkan. Ada yang sudah mulai membersihkan kubur pada tanggal 1 November, tetapi lebih ramai orang membersihkan kubur pada tanggal 02 November.

Sore hari sekitar pukul 15.00, berbondong-bondonglah umat datang membersihkan kubur keluarga. Ada yang membawa parang, tofa, ember, korek api, sapu, pisau, kain, dan bunga. Parang dipakai untuk menata ranting-ranting pohon kamboja. Tofa dipakai untuk membersihkan rumput, ember dan kain digunakan untuk mengelap kubur yang umumnya berlapiskan tegel. Sapu dipakai untuk mengumpulkan daun bunga kamboja lalu korek api dipakai untuk membakar sampah tersebut. Pisau dipakai untuk mencungkil bekas lilin yang melekat pada kubur. Lalu kemudian bunga dipasang dengan indah di kubur.

Mereka yang terlibat dalam urusan bersih-bersih kubur, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Tempat pertama yang dibersihkan adalah kubur dari keluarga inti sesudah itu baru berpindah ke kubur keluarga besar lainnya, seandainya tidak ada keluarga yang terlbat membersihkannya. Hal pertama yang diperhatikan sebelum membersihkan kubur adalah menata ranting pohon kamboja yang tumbuh di samping kubur. Sesudah itu baru kubur dan lingkungan sekitar kubur dibersihkan. Saat asap putih mengepul naik, itu pertanda pekerjaan sudah hampir berakhir sebab sampah-sampah sudah dibakar.

Orang tua biasanya menunjukkan kepada anak-anak mereka di mana kubur keluarga besar mereka dan anak-anak terlibat membersihkannya dengan janji bahwa anak yang membersihkan kubur keluarga akan mendapat berkat. Anak-anak kecil yang sudah tahu di mana kubur keluarga besarnya, mereka dengan leluasa akan menerobos pekuburan umum dan membersihkan kubur-kubur keluarga mereka. Sambil membersihkan kubur, anak-anak memungut daun bunga kamboja. Untuk apa?

Daun bunga kamboja itu akan disusun pada satu batang lidi, cara ini persis seperti cara para nelayan yang menyusun ikan pada satu batang besi sesudah mereka kembali dari pantai. Pada pangkal bunga kamboja ada lubang kecil, di situlah tempat bunga kamboja dimasukkan. Semakin banyak bunga kamboja disusun, semakin semaraklah lidinya. Sesudah menyusun bunga-bunga kamboja itu, anak-anak meletakkannya persis di atas kubur keluarga.

Sambil menyusun bunga kamboja, anak-anak biasanya menghitung kelopak bunga kamboja. Helai bunga kamboja jumlahnya selalu ganjil, yakni 5. Berkembanglah mitos di antara anak-anak bahwa di antara sekian banyak bunga kamboja, selalu saja ada bunga kamboja yang jumlahnya genap, entah 4 atau 6, perbandingan kemungkinannya itu seperti perbandingan prosentase jumlah pelamar PNS dan kuota yang dibutuhkan. Meskipun prosentasenya kecil untuk mendapat bunga berjumlah genap, anak-anak tak pernah kapok mencarinya karena ada rejeki di sana.

Bunga kamboja dengan nama Latin Plumeria, untuk mengenang Charles Plumier, orang Prancis yang dianggap sebagai yang pertama memperkenalkan jenis tanaman ini, selalu menggoda. Sempat berkembang cerita di antara anak-anak bahwa jika ada anak yang mendapat bunga kamboja berjumlah 4 atau 6, maka bunga itu mesti disimpan dalam buku nyanyian Madah Bhakti, nanti bunga itu akan berubah menjadi uang. Memang agak kapitalis godaan ini tetapi tokh anak-anak mencarinya. Tentu duit di sini lebih sebagai wujud dari rejeki.

Saat menulis mitos di balik kelopak bunga kamboja saya mengecek di internet ternyata mitos itu berkembang di mana-mana. Menemukan bunga kamboja yang kelompaknya berjumlah genap, yakni 4 dan 6 itu rejeki bagi mereka yang menemukan.

Terlepas dari kisah tentang mitos tentang jumlah genap pada kamboja, boleh dibilang bunga kamboja adalah bunga yang setia mendampingi kubur. Ia tak pernah layu, pohonnya tak pernah berhenti berbunga. Di Sulawesi berkembang cerita bahwa bunga kamboja adalah jelmaan seorang gadis yang begitu mengasihi kekasihnya. Keduanya meninggal sebelum menikah dan mereka dikuburkan berdekatan. Lalu pada kubur sang gadis tumbuhlah bunga kamboja dan bunga itu mendampingi kekasihnya di kubur dengan senyum yang tak pernah pudar, tak kenal terik, tak kenal hujan. Sesekali ia sengaja menjatuhkan bunganya untuk menggoda sang kekasih yang sudah berbaring di kubur.

Kubur dan kamboja memang kontras, yang satu adalah wujud kematian yang lain tampil seolah-olah wakil dari keabadian. Di sisi lain, boleh jadi bahwa bertahannya kamboja dengan bunga yang indah, itu karena kematian yang menyuburkan tanahnya. Tak ada kematian yang sia-sia.

“ Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24).

Oh ya, satu hal lagi. Di Paroki St. Ignatius Waibalun, bunga kamboja juga disebut bunga Santo Antonius, orang kudus yang namanya digunakan sebagai pelindung kapel di Waibalun. (Bill Halan)

sumber gambar:

https://www.google.co.id/search?q=macam-macam+bunga&safe=strict&rlz=1C1CAFA_enID638ID638&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=kIvdJIb9D5vFyM%253A%252CsLVtrF423mVcSM%252C_&usg=AI4_-kRaHQnLoi4zzpt3Yl-PXfGqvUeJ8A&sa=X&ved=2ahUKEwiDs7KtprXeAhUBpY8KHWS3BYwQ9QEwDHoECAIQCA#imgrc=kIvdJIb9D5vFyM: