Anda mau Sukses? Ikuti Proses

benih

Bacaan: Luk 8:4-15

 Para pencinta kabar misionaris yang saya kasihi, salam satu hati dalam sang sabda. Bagaimana kabar Anda? Akhir pekan menjadi sebuah kerinduan bagi saya untuk bertemu saudara sekalian dalam sering pengalaman iman. Semoga iman saudara semakin diperteguh.

Mengawali refleksi ini, saya mau membagikan sebuah pengalaman. Ketika pertama kali berada di Kota Pahlawan, saya dan seorang teman mendapat kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang menangani mendesain gigi palsu. Sebagai karyawan baru, kami mengikuti orientasi awal yang sudah dijadwalkan.

Sesudah orientasi, kami mendapat tugas untuk bekerja di divisi produksi (ruang miling). Mengingat kami karyawan baru, maka perusahaan menyiapkan pendamping, seorang senior yang membimbing dan mengarahkan kami, meskipun kami sudah mengikuti orientasi.

Semakin lama bekerja, semakin kami tahu detail setiap pekerjaan kami. Pemahaman akan sistem kerja yang sudah mendalam ternyata menumbuhkan sikap sombong dalam diri: kami ingin bekerja di tingkat yang lebih tinggi lagi.

Melihat gelagat kami itu, si senior ini menegur kami, ”Sampean  kan barus masuk dua bulan. Harus ikut tahap-tahap perkembangan yang ada. Jangan buru-buru untuk mau naik tingkat, nanti perusahaan bisa rugi bila sampean membuat kesalahan dalam proses produksi.”

Teguran itu membuat kami sadar bahwa proses itu penting. Berproses itu memang memakan waktu lama dan di situlah kesabaran diri diuji. Anda Sabar, Anda selamat.

Injil, pada hari ini juga menegaskan hal yang sama. Kisah injil menenceritakan tentang kisah seorang penabur yang keluar menabur benih. Dalam proses itu, ada benih yang jatuh di pinggir jalan, sebagian jatuh di tanah bebatuan,  yang lain jatuh di tengah semak duri, namun ada juga yang jatuh di tanah yang subur.

Dari antara sekian banyak benih yang jatuh, hanya benih yang jatuh di tanah yang subur sajalah yang kemudian menghasilkan banyak buah. Benih yang jatuh di pinggir jalan tidak berbuah karena diinjak orang dan dimakan burung; benih yang jatuh di tanah yang berbatu tidak hidup karena kesulitan air; benih yang jatuh di semak belukar tidak bisa berbuah karena dihimpit oleh tumbuhan lain.

Benih yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang telah mendengar firman kemudian datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran kekayaan dan kenikmatan hidup. Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang, yang setelah mendengar firman itu menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.

Kita tentu memilih menjadi tanah subur, tempat firman Tuhan disemaikan. Itu artinya, kita perlu memiliki hati yang baik. Tanah yang baik terlibat dalam usaha memberi nutrisi bagi benih yang ditaburkan di atasnya. Kita yang mau agar firman Tuhan bisa tumbuh, dituntut untuk membuka diri, menjaga agar tanah hati kita tetap subur, dan bersabar serta tekun membiarkan benih firman itu bertumbuh. Tidak ada benih yang segera bertumbuh menjadi pohon yang kokoh.

Sebagai pemilik hati yang baik, kita dituntut untuk selalu taat pada firman Tuhan, namun kita sadar bahwa terkadang kita jatuh ke dalam dosa, melalaikan nasehat Tuhan. Bahkan sesudah mengaku dosa pun terkadang kita langsung jatuh ke dalam dosa. Sikap yang paling utama yang harus kita miliki adalah bangun kembali dari dosa dan membangun lagi komitmen yang baru. Ingat, kalau Anda mau sukses ikuti proses. (Hans Asa)

Sumber foto: http://www.bebeja.com/wp-content/uploads/2012/08/benih.jpg